Menangkal Hoax Meningkatkan Ketahanan Tubuh saat COVID 19

Dr. Bambang Aryan Soekisno, M.Pd

Dibaca: 483 kali

Oleh Dr. Bambang Aryan Soekisno, M.Pd

(Kepala SMAN 1 Kota Bogor/Komunitas Cinta Indonesia-KACI # PASTI BISA)

bambang_aryan@yahoo.com

Informasi resmi yang sedang ramai disampaikan oleh pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat adalah saat ini berada dalam pandemi. Sebenarnya yang terjadi ada dua hal. Satu, kita semua tahu sedang terjadi penyebaran virus corona, dan kedua: pandemi ketakutan. Betapa tidak, semua orang serasa berada dalam cengkeraman kepedihan dan menyakitkan bila dalam krisis apa pun. Hal yang tidak dapat dimungkiri bahwa ketika perlu berpikir jernih dan tetap tenang, panik pun mengarahkan otak ke dalam pemikiran “berkabut” dan tubuh menjadi tegang.

Inilah masalahnya, seseorang tidak bisa mengendalikan apa yang dirasakan, kapan kita akan merasakannya, atau seberapa kuat perasaan itu. Perasaan seperti panik datang tanpa diminta. Pilihan akan hadir secara spontan begitu perasaan (panik, takut, khawatir) muncul.

Ketahanan memiliki makna pulih dari gangguan seperti kepanikan, ketakutan dan kekhawatiran datang lebih cepat, sehingga pikiran dapat berpikir sebaik mungkin dan merasa tenang. Penelitian telah mengidentifikasi beberapa cara untuk meningkatkan kapasitas ketahanan untuk pemulihan. Salah satu cara hasil penelitian yang dilakukan oleh Goleman El (2020), bagaimana fokus pada pernapasan dan mengabaikan tarikan gangguan, dan bagaimana memindai tubuh untuk melihat tanda-tanda kecemasan dan membiarkannya hilang. Ketahanan mengacu pada kecepatan pemulihan dari kepanikan, ketakutan dan kekhawatiran. Untuk itu, langkah pertama untuk menghadapinya tetap tenang dan jelas ketika membaca tentang COVID-19 dan bagaimana cara menghindarinya.

Berikut salah satu cara ketahanan dapat membantu dalam membuat keputusan yang lebih baik tentang pengaruh COVID-19. Kenali masalahnya: berita palsu (hoax) menyebar online jauh lebih cepat dan lebih jauh dari kebenaran. Ini bukan sekedar tulisan yang tidak memiliki dasar. Berita palsu (hoax) telah diteliti oleh tiga ilmuwan komputer MIT yang menerbitkan sebuah studi pada bulan Maret tahun 2018 dalam jurnal Science Vol. 359. Vosoughi et al. (2018; 1146), mereka menganalisis lebih dari 126.000 rumor yang disebarkan oleh sekitar 3 juta orang.

Lantas, bagaimana bisa mengatakan bahwa itu berita palsu?  News Literacy Project memberi tahu kepada kita semua cara membedakannya. Berikut adalah beberapa tips untuk membedakan yang sebenarnya dari kepalsuan:

Tanyakan pada diri sendiri siapa yang menciptakan ini, dan apa motif mereka?

Apakah ini hanya untuk menjual produk (memengaruhi) kepada Anda, misalnya?

Sebuah pelanggaran jika tidak ada sumber yang disebutkan sama sekali. Apakah ada?

Apakah sumber-sumber itu (jika ada) dapat dipercaya, independen, dapat dipercaya?

Jika artikel atau berita, apakah menawarkan sudut pandang yang berbeda, atau hanya mencoba meyakinkan Anda tentang satu hal?

Singkatnya, haruskah Anda mempercayai ini?

Jika Anda ragu, cari sumber lain yang mungkin mengkonfirmasi atau membatalkan konfirmasi.

Kembali ke hasil penelitian dari Vosoughi et al. (sumber yang menurut saya kredibel). Satu persen berita hoax tingkat populeritasnya dapat mencapai hingga 100.000 orang, sementara kebenaran hanya mencapai sekitar seribu orang saja. Mengapa? Vosoughi et al. mengatakan itu adalah dampak emosional dari informasi yang menyebarkan hoax. Otak kita terhubung untuk merespons lebih banyak ketika emosi kita diaduk. Selanjutnya, datang hoax baru (terutama jika itu menjual produk atau agenda) telah diasah oleh keterampilan tingkat tinggi, terutama ketika datang yang menyertakan/ada kaitannya dengan emosional.

Di situlah kecerdasan emosional dapat membantu.

Kondisi sekarang Anda mungkin seorang kepala sekolah yang harus memimpin sekolah dalam situasi tiba-tiba terkena dampak dan para guru yang sekarang bekerja di rumah. Atau mungkin Anda salah satu dari orang-orang yang harus mencari cara untuk bekerja secara produktif dari rumah atau bagaimana tetap aman dan sehat jika masih harus masuk kerja. Tantangan yang luar biasa, ketika wabah COVID-19 mengkhawatirkan semua kehidupan dan membuat kekhawatiran semua pihak yang tak terhitung jumlahnya.

Kekhawatiran ketika menghadapi beberapa ancaman mendesak, merupakan puncak produktif yang hilang begitu bahaya berlalu. Dilain pihak kepanikan menunjukkan jenis kekhawatiran terburuk, merenungkan ancaman (seperti virus corona) dan akhirnya membayangkan hal terburuk yang bisa terjadi tanpa menghasilkan langkah-langkah positif yang mungkin diambil.

Peneliti Lyubomirsky et al. (1993;339) menyebut kekhawatiran yang begitu kuat sebagai rumination, yang hanya bergaung dan menguatkan dalam pikiran. Kekhawatiran beracun seperti itu telah menjadi pandemi dalam dirinya sendiri. Rumination adalah suatu pikiran yang mucul (tanpa disengaja, tanpa disadari) tentang suatu kejadian dimasa lalu yang tidak mengenakkan. Kecenderungan untuk mengkhawatirkan diri sendiri sampai pada titik panik adalah peninggalan masa lalu leluhur, masa pra-sejarah manusia purba ketika harus berjaga-jaga terhadap bahaya, seperti binatang buas besar yang ingin memakan.

Semoga berhasil dan tetap sehat!

 

 

Daftar Pustaka

Goleman El. (2020).Virus Survival Mind Hack. Diakses dari https://www.linkedin.com/pulse/ virus-survival-mind-hack-1-danielgoleman/?trackingId=jNj332AAHnaoAVMzv85 aOA%3D%3D. Tanggal 02 April 2020 pukul 07.01

Lyubomirsky., Sonja., Nolen-Hoeksema., Susan. Self-perpetuating properties of dysphoric rumination. Journal of Personality and Social Psychology, Vol 65(2), Aug 1993, 339-349.

News Literacy Project. (2020). Diakses dari https://newslit.org/educators/checkology/,  Tanggal 02 April 2020 pukul 08.15

Vosoughi Soroush., Deb Roy., Sinan Aral. (2018).  The spread of true and false news online. Journals Science Vol. 359, Issue 6380, pp. 1146-1151. Diakses dari https://science.sciencemag.org/content/359/6380/1146 tanggal 02 April 2020 pukul 07.52

 

Tag:
Lainnya
...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
Prof. Dr. ENDANG KOMARA, M.Si

THE NEW NORMAL LEARNING

...
Mir Alam Beddu

MENATA PENDIDIKAN WUJUDKAN SDM CERDAS-SPIRITUAL BERKEPRIBADIAN INDONESIA REBUT PERADABAN DAN MEGATREND DUNIA 2045

...
Prof. Dr. Ir. Wisnu Cahyadi, M.Si.

MENGENAL CIRI-CIRI PRODUK PANGAN JAJANAN ANAK SEKOLAH YANG BERBAHAYA

...
Prof. Dr. ENDANG KOMARA, M.Si

RAMADAN BULAN MAGHFIRAH

...
Prof. Dr. Hj. Aan Komariah, M.Pd.

PEMIMPIN AUTHENTIK: RUH KEPEMIMPINAN MODERN

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

Problematika Profesi Guru dalam Perspektif Hukum Pendidikan

...
Prof. Dr. ENDANG KOMARA, M.Si

PKB DAN PENINGKATAN PROFESIONALITAS GURU

...
Idris Apandi

CORONA DAN BELA NEGARA

...
Hendar Riyadi

BELAJAR BERPIKIR SPIRITUAL

...
Prof. Dr. ENDANG KOMARA, M.Si

MODEL PEMBELAJARAN CIRC BERBASIS HOTS

...
Hendar Riyadi

BELAJAR BERPIKIR TINGKAT TINGGI

...
Tita Lestari

ANGIN SEGAR PENDIDIKAN VOKASI

...
Dr. Asep Tapip Yani, M.Pd.

"Sedikit Bicara Banyak Mendengar"

...
Juli Wahyu Pari Dunda

SEMUA BISA SEKOLAH #MERDEKA BELAJAR#

...
ENDANG KOMARA

GURU MILLENIAL

...
Dr. H. Rusdan, M.M.Pd. dan Dr. Yunie, M.Pd.

MODEL KOMPETENSI GURU DAN STRUKTUR MODEL KOMPETENSI GURU YANG BARU

...
Toto Suharya

HIDUP 99% GAIB

...
Dr. Bambang Aryan Soekisno, M.Pd

Menangkal Hoax Meningkatkan Ketahanan Tubuh saat COVID 19

...
Toto Suharya

Virus Corona dan Workshop Online

...
Erik Wahyu Zaenal Qori, M.Pd.

Eksperimental Evidence Uji Kompetensi Guru di Situasi Merebak Covid- 19

...
Dr. Yunie, M.Pd.

COVID-19 DAN PHBS

...
Idris Apandi

Mengevaluasi Kegiatan Belajar dari Rumah

Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Semangat Revitalisasi di Mata Angkie

Nalar Lainnya
...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
Prof. Dr. ENDANG KOMARA, M.Si

THE NEW NORMAL LEARNING

...
Populer
...
...