Penulis: Neneng Hendriyani, M.Pd.

Neneng Hendriyani, M.Pd.
Oleh
Neneng Hendriyani, M.Pd.
(Guru
Bahasa Inggris di SMAN 4 Cibinong)
Pendidikan yang baik adalah pendidikan
yang dilakukan oleh orang-orang yang memenuhi kriteria sebagai seorang
pendidik. Dia adalah orang yang jujur, amanah, bertanggung jawab, peduli, dan
memiliki kemampuan untuk mendidik. Dalam dunia pendidikan kemampuan mendidik
ini dikenal sebagai kemampuan atau kompetensi paedagogik.
Umumnya kompetensi paedagogik diperoleh
di bangku kuliah. Sayangnya, materi yang dipelajari saat masih duduk sebagai
mahasiswa keguruan dan ilmu pendidikan sudah banyak berkembang dewasa ini. Ini
yang membuat banyak sekali pendidik atau tenaga pendidik merasa kesulitan dalam
mengimplementasikan kemampuannya di lapangan.
Kemampuan paedagogik terdiri atas
kemampuan mengenali karakteristik peserta didik yang diajarnya.
Guru yang baik diharapkan tidak hanya
mampu mengenali identitas peserta didik saja tetapi juga mampu membaca dan
mengenali gaya belajar, kekurangan, kelemahan, dan kelebihan yang dimiliki
peserta didiknya di kelas. Dia harus piawai mengelompokkan mereka ke dalam
beberapa kelompok belajar sesuai dengan gaya belajar yang paling dominan yang
dimiliki masing-masing peserta didik. Seperti, visual (spatial), auditori
(aural), kinestetik (physical), verbal (linguistic), logical (mathematical),
interpersonal (sosial), dan intrapersonal (solitary). Dengan mengetahui seluruh
hal ini maka guru dapat membantu mereka dalam menentukan bagaimana mereka
mempelajari materi yang diberikan dengan cara yang tepat. Sehingga mereka
terhindar dari kesulitan. Selain itu, guru pun harus mampu membaca potensi
peserta didik. Dengan begitu peserta didik dapat lebih fokus mengembangkan
potensi yang dimilikinya masing-masing.
Di samping itu guru juga perlu
mengetahui sekaligus menguasai teori dan prinsip pembelajaran yang dapat
membantunya menjalankan tugas kesehariannya. Guru pun dituntut piawai dalam
bidang pengembangan kurikulum. Minimal, guru dapat menyusun silabus dan rencana
pembelajaran yang akan digunakannya dalam kegiatan pembelajaran selama satu
tahun pembelajaran sendiri. Tidak salin - tempel administrasi pembelajaran yang
dibuat guru lain.
Cara
berkomunikasi guru pun berpengaruh besar dalam keberhasilan pendidikan peserta
didik. Guru yang baik, santun, lembut umumnya sangat disukai peserta didik.
Begitu pun sebaliknya. Sehingga muncullah julukan guru favorit dan guru killer
akibat dari kemampuan komunikasi yang disandangnya.
Kemampuan paedagogik di atas tidak bisa
serta merta menjamin keberhasilan peserta didik begitu saja. Masih ada satu
kemampuan yang harus dikuasi guru untuk mencapai keberhasilan tersebut. Yaitu
kemampuan dalam bidang penilaian dan evaluasi belajar. Bagaimana guru menyusun
bentuk soal, indikator soal, analisis soal dan lain sebagainya juga menentukan
sejauh mana keberhasilan peserta didik dalam menyerap pengetahuan dan
keterampilan yang diajarkannya dalam suatu waktu.
Sementara itu keberhasilan tenaga
pendidik dalam mendidik tidak hanya dilihat dari kemampuan paedagogiknya saja.
Ada tiga kemampuan lainnya yang dilihat; kemampuan sosial, kemampuan
kepribadian, dan kemampuan profesional. Dalam kemampuan sosial guru harus mampu
menguasai keterampilan berkomunikasi, menempatkan diri, bersikap dan
berinteraksi dengan sesama teman sejawat, atasan, tenaga kependidikan, orang
tua peserta didik, peserta didik, dan masyarakat. Luwes, menarik, simpatik dan
penuh perhatian adalah ciri guru yang memiliki kemampuan tersebut.
Apabila semua kemampuan (kompetensi) di
atas sudah dimiliki guru dalam menjalankan tugas dan fungsinya maka guru
tersebut sudah benar-benar menjadi guru. Begitulah anggapan dan pendapat para
ahli pendidikan.
Saat guru menemukan bahwa pengajarannya
tidak berhasil pada sebuah kompetensi dasar dia langsung sadar dan
mengintropeksi dirinya sendiri. Ini adalah langkah awal yang dilakukannya
sebagai makhluk Tuhan yang percaya dan yakin bahwa tidak ada manusia yang
sempurna termasuk guru. Dia mencoba mencari alasan ketidakberhasilan itu dari
dalam dirinya sendiri. Pertanyaan seputar kemampuan manajerial dan paedagogik
yang dimilikinya apakah sudah dikerahkannya dengan maksimal adalah pertanyaan
yang paling dasar yang harus dijawabnya dengan jujur.
Saat dia menemukan bahwa faktor dari
dalam dirinya tidak menyumbangkan ketidakberhasilan dalam pengajaran dan
pembelajaran peserta didik maka dia mencari dari faktor luar dirinya. Yaitu,
metode, teknik, strategi, motivasi peserta didik, suasana kelas dan lain
sebagainya.
Dia mencoba
menganalisis semua faktor tersebut dengan cermat dan hati-hati. Hingga
sampailah pada sebuah hipotesis bahwa ketidakberhasilan itu disebabkan oleh
faktor A dan bisa diatasi oleh faktor B.
Di bagian ini guru melangkah jauh untuk
memperbaiki kualitas pembelajaran yang dilakukannya dengan melakukan penelitian
tindakan kelas. Selain sebagai salah satu unsur pengembangan kegiatan
berkelanjutan yang perlu dilakukan guru, penelitian tindakan kelas ini adalah
upaya nyata guru dalam mencari obat bagi masalah pengajaran yang ditemuinya.
Keberhasilannya dalam mencari penyakit,
menemukan obat, dan menggunakan obat tersebut dalam kegiatan pembelajaran yang
dilakukan di kelasnya adalah bukti keberhasilannya menjadi seorang guru yang
baik. Yaitu guru yang benar-benar peduli kepada masa depan peserta didiknya.
Sehingga dia selalu memikirkan kebaikan bagi peserta didik yang menjadi
tanggung jawabnya.
Mengingat pentingnya fungsi penelitian tindakan kelas dalam keberhasilan pendidikan maka sudah sewajarnya bila guru berlomba-lomba melakukan penelitian tindakan kelas. Hasil penelitian tindakan kelas ini dapat diseminarkan baik offline maupun online agar diketahui oleh guru lainnya dan memberikan manfaat yang luas bagi semua unsur (stakeholder) pendidikan.

BIOGRAFI PENULIS
Neneng
Hendriyani, M.Pd,
guru Bahasa Inggris di SMA N 4 Cibinong dan penulis 13 judul buku ber-ISBN; Di Sepanjang Rel Kereta (2021), Kumpulan
Soal Ulangan Harian, UTS, UAS Bahasa Inggris Untuk Kelas XI SMA/SMK (2020),
SMAFOUR in students English writing (Mendongkrak Motivasi Dan Kemampuan Siswa
Menulis Berbagai Teks Bahasa Inggris) (2020), Albatros (2019), Enrichment Book
for XI SMK Based on Curriculum 2013 revision (2018), Antologi Bunga Rampai
Goresan Pena Guru Jawa Barat (2018), Let's Learn English Together (2018),
Perlukah Kita Jujur? (2018), Setangkup Rindu dari Masa Lalu (2017), Janji Firly
(2017), Tips Mudah Menulis Proposal dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas
(2017), Bogor: Peninggalan Sejarah dari Masa Ke Masa (2017), Alih Kode dan
Campur Kode: Strategi Siswa Dalam Berbicara Bahasa Inggris (2017) ini juga
menulis esai, artikel dan resensi yang terbit di media massa (koran) lokal
Pikiran Rakyat, Bali dan jurnal PGRI Pusat dan Balai Bahasa Banten (Kandaga)
dan portal resmi pendidikan Jawa Barat yaitu disdik.com. Juga menjadi
pembimbing siswa dalam menulis buku. Sudah ada 13 judul buku yang dihasilkan oleh
siswa binaannya. 2 buku saat masih aktif mengajar di SMK
Negeri 1 Cibinong, 11 buku ditulis oleh siswa SMA Negeri 4 Cibinong.
Selain itu juga aktif mengikuti lomba
penulisan puisi dengan tema yang ditentukan panitia penyelenggara untuk tingkat
nasional dan internasional. Karya yang berhasil lolos seleksi panitia tingkat
nasional dan internasional Senyuman Lembah Ijen (Antologi puisi Nusantara
ditulis bersama penyair Asia Tenggara) 2018, antologi 50 Opini Puisi Esai
Indonesia, 2018, antologi Puisi Banjarbaru's Rainy Day Literary Festival, 2018,
antologi Puisi penyair Asean 2018 (Kinanti di Kampar Kiri), Antologi Puisi
penyair Asean 2019 (Membaca Asap), Antologi Puisi Melawan Covid-19 Tahun 2020.
Karya Nulis Bareng yang tercatat pernah
dihasilkan adalah Jangan Berhenti Mengajar (2017), Menghidupkan Ruh Dewi
Sartika-Seri Puisi (2017), Menghidupkan Ruh Dewi Sartika-Seri Esai (2017),
Antologi Fikmin Pelita di Mata Pelangi (2019), 1001 Membuat Guru-Siswa Suka
Baca Buku (Buku 2) (2019), Untuk Anakku 2 (2019), Bertualang ke Negeri Satwa
(Kumpulan Dongeng Fabel) (2020), 52 Kisah Dongeng Fabel Menginspirasi Buah Hati
(2020), Tokoh Pendidikan Dunia Jilid 1 (2020).