Penulis Supartinah, S.Pd., M.Pd.

Supartinah, S.Pd., M.Pd.
Oleh Supartinah,
S.Pd., M.Pd.
(Guru Geografi SMA Negeri 1 Prambanan Klaten,Jateng)
Kegiatan belajar
mengajar di sekolah saat ini sudah masuk dalam tahapan 100% pembelajaran tatap
muka meskipun tetap masih harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kegiatan
belajar mengajar mata pelajaran Geografi di SMA Negeri 1 Prambanan kelas XI IPS
untuk semester genap dengan materi Dinamika Kependudukan di Indonesia, peserta
didik diharapkan bisa memahami materi
dengan tuntas. Materi Dinamika Kependudukan membahas tentang kualitas penduduk
dan indeks pembangunan manusia, pengolahan dan analisis data serta dampak
dinamika penduduk.
Dinamika penduduk
pada suatu wilayah terjadi disebabkan adanya kelahiran, kematian, dan migrasi
sehingga memunculkan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan manusia.
Permasalahan kependudukan di Indonesia diantaranya adalah tingginya tingkat
pertumbuhan penduduk, persebaran penduduk yang tidak merata, tingkat kesehatan yang
rendah, pendidikan yang rendah serta tingginya angka kematian. Problem tersebut
dapat dikaji dan diteliti oleh peserta didik pada saat pembelajaran dengan
menggunakan metode discovery learning
agar bisa memacu peserta didik untuk lebih aktif dan kreatif sehingga dapat
menemukan upaya untuk mengatasinya.
Model pembelajaran
yang penulis terapkan untuk melakukan pembelajaran di kelas dengan menggunakan Discovery Learning dengan topik dinamika
kependudukan. Model ini dikenalkan oleh Psikolog Jerome Bruner pada tahanu 1961
dengan tujuan agar siswa dalam proses pembelajaran mampu mendapatkan
pengetahuan baru secara mandiri. Ini adalah sebuah inovasi dalam pembelajaran
yang mengaktifkan peran siswa. Tatap muka discovery learning menekankan pada
proses pembelajaran yang terpusat pada peserta didik dan pengalaman belajar
secara aktif. Model pembelajaran akan membimbing peserta didik untuk menemukan
dan mengemukakan gagasannya terkait topik materi yang dipelajari.
Penjelasan
tersebut senada dengan pendapat Hanafiah (2012, 77) yang menyatakan bahwa model
pembelajaran discovery learning
merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal
seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara
sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri
pengetahuan, sikap, dan keterampilan sebagai wujud adanya perubahan perilaku.
Berbeda dengan model konvensional, discovery
learning atau pembelajaran penemuan lebih berpusat pada peserta didik,
bukan guru. Pengalaman langsung dan proses pembelajaran menjadi patokan utama
dalam pelaksanaannya. Seperti yang diungkapkan Syah (2017) bahwa model discovery learning merupakan model
pembelajaran yang lebih menekankan pada pengalaman langsung siswa dan lebih
mengutamakan proses dari pada hasil belajar.
Pembelajaran
dengan model discovery learning
merupakan pembelajaran yang dapat memberikan rangsangan positif kepada peserta
didik untuk belajar dan berusaha dalam menemukan dan mencari solusi dari
masalah yang diberikan dimana seorang peserta didik dihadapkan pada suatu permasalahan
sehingga dapat mencari cara pemecahan dari masalah tersebut. Langkah dalam
pembelajaran ini antara lain: Stimulus merupakan langkah pertama pada persiapan
pemecahan masalah, Indentifikasi masalah memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang berkaitan erat
dengan bahan pelajaran, Pengumpulan data untuk mengumpulkan informasi yang
relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis, Pengolahan data
dilakukan dengan validasi melalui wawancara, observasi kemudian penafsiran
berdasarkan pertemuan tersebut, Pembuktian dilakukan untuk membuktikan benar
atau tidaknya hipotesis, Generalisasi untuk menarik kesimpulan dengan bimbingan
dari guru, Penutup merupakan proses terakhir untuk mengulas kembali materi yang
telah dipelajari bersama-sama antara peserta didik dan guru untuk memberikan
koreksi serta rekomendasi dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Penerapan metode
ini dalam mengajar diharapkan mampu meningkatkan ketertarikan peserta didik
pada materi yang sedang dipelajari sehingga proses pembelajaran akan terasa
menyenangkan. Secara umum, metode discovery learning dibagi menjadi dua
jenis, yaitu: Pertama, Free discovery learning yaitu proses pembelajaran yang
tidak disertai petunjuk atau arahan, sehingga peserta didik diharapkan memiliki
kepekaan terhadap materi yang sedang dipelajari. Kedua, Guided discovery
learning yaitu pembelajaran yang melibatkan peran guru sebagai fasilitator
untuk menunjang terlaksananya pembelajaran. Langkah-langkah dalam penerapan
metode discovery learning antara lain: memberi rangsangan atau stimulus
(stimulation), mengidentifikasi masalah (problem statement), proses
mengumpulkan data (data collection), proses pengolahan data (data processing),
pembuktian (verification) dan penarikan kesimpulan (generalization).
Pada pembelajaran
discovery learning guru dan peserta didik dituntut untuk sama-sama aktif dalam
proses belajar mengajar agar bisa menciptakan produk pendidikan yang lebih
baik. Dalam discovery learning peserta didk dibiasakan untuk mencari secara mandiri
pengetahuan yang telah disampaikan. Beberapa manfaat dalam penerapan metode
discovery learning diantaranya adalah mampu memperbaiki dan meningkatkan
ketrampilan berpikir peserta didik di ranah kognitif, menumbuhkan rasa senang
saat berlangsungnya pembelajaran terlebih jika kesimpulan yang diperoleh
sesuai, pengetahuan yang diperoleh peserta didik bisa diingat dan dipahami
lebih lama, mampu membangkitkan keinginan belajar peserta didik, mampu
meningkatkan penalaran peserta didik, serta lebih efektif dalam menstranfer
pengetahuan pada peserta didik. Dalam pembelajaran menggunakan discovery
learning peserta didik memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam
pembelajaran, peserta didik merasa puas dengan apa yang mereka temukan sendiri
dari hasil pembelajrannya, peserta didik belajar menemukan pola dalam situasi
konkrit maupun abstrak, peserta didik akan lebih mampu menstranfer pengetahuannya
ke berbagai konteks, serta memperoleh ketrampilan dalam menuangkan ide menjadi
lebih bermakna.
Kekurangan
discovery learning menurut Hosnan dalam Suherti (2015:60) yang pertama adalah
kegagalan mendeteksi masalah dan adanya kesalahpahaman antara guru dengan
peserta didik. Yang kedua, tidak semua peserta didik mampu melakukan penemuan,
serta tidak berlaku untuk semua topik pelajaran. Tidak semua peserta didik
dapat mendapatkan hasil sesuai standar yang diinginkan guru, sehingga
seringkali guru mengalami kegagalan dalam mendeteksi siswa yang tidak paham
dengan materi pelajaran tersebut. Dengan demikian untuk dapat mengatasi
kekurangan meode discovery learning tersebut guru harus membagi sama rata dalam
kelompok yang kemampuan lebih dan yang kurang dapat digabung dengan tujuan agar
peserta didik yang kemampuannya kurang bisa dibimbing oleh peserta didik yang
memiliki kemampuan lebih.
Berdasarkan
pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa discovery
learning adalah strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik agar
berusaha sendiri dalam mencari, menyelidiki, mengolah dan menemukan konsep pengetahuan
baru dalam pemecahan masalah, sehingga peserta didik dapat mengembangkan
pengetahuan dan ketrampilannya. Model discovery
learning merupakan pembelajaran yang
membantu peserta didik untuk mengalami dan menemukan pengetahuannya sendiri
sebagai wujud murni dalam proses pendidikan yang memberikan pengalaman yang
mengubah perilaku sehingga dapat memaksimalkan potensi diri serta diharapkan
dapat meningkatkan prestasi dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran ini
tidak bisa serta merta diterapkan begitu saja tetapi memerlukan klas yang
dinamis dimana peserta didik harus memiliki kemampuan mencari bahan secara
mandiri dan mendiskusikannya dengan sesama peserta agar bisa menggali masalah
dan solusi. Peran guru dalam membimbing peserta agar memberikan rangsangan
untuk menemukan sesuatu yang baru. Bila tidak, tingkat keberhasilannya bisa
rendah atau bahkan bisa gagal. Silakan mencoba!