Penulis: Hasim

Hasim
Oleh Hasim
(Kepala Sekolah,
Penulis, dan Praktisi Pendidikan)
Sejatinya Guru
adalah penerang kehidupan dan memang harus menjadi penerang kehidupan. Ialah
sebagai jalan penerang kegelapan.
Seorang Ustadz
bernarasi yang cukup bermakna di awal pelaksanaan sholat Tarawih dengan
mengatakan:
"Hidup
manusia berujung pada nafas terakhir. Setelah itu hanya kenangan dan warisan
yang tersisa. Manusia dengan akal budinya berjuang supaya kelak kehidupannya
dapat dikenang".
Begitu juga
seorang Guru, Kepala Sekolah ataupun profesi lainnya akan berujung dengan
predikat "lulus" atau "tidak lulus" sampai memasuki usia
purnabakti. Guru harus mempunyai
kejernihan nurani dan integritas akan membawa pada ketajaman "mata
hati" dan tegak lurus pada cita-cita pendidikan. Jika visi pendidikan dan
kehendak diri menyatu, akan sulit disabotase oleh persilangan kepentingan yang
bakal akan muncul.
Hal ini ibarat
seseorang yang sudah meyakini dan mengambil sikap dari hakikat jihad fisabiliah
sebagai suhada yang tidak tergoyahkan dan terlempar dalam membangun dan
menancapkan apa yang menjadi visi pendidikannya. Ia akan teguh pendirian sampai
pada tingkat tertinggi sebuah pengorbanan.
Harmonisasi
hubungan dengan berbagai pihak yang terkait antara seorang kepala sekolah, guru
dan pemangku kepentingan lainnya dalam dunia pendidikan merupakan sebuah keniscayaan
yang harus diperjuangkan hingga dapat di wujudkan.
Dalam kaitan
dengan hal tersebut kesalehan Sang Guru sejatinya merupakan tranpormasi
nilai-nilai ibadahnya tidak hanya sebagai kesalehan personal. Tetap harus
menjadi pengejawantahan kesalehan sosial.
Karya-karya yang
di persembahkan melalui program-program unggulan di sekolah juga harus menjadi
bagian dari komitmen diri dan manifestasi kesalehan sosial. Ramadhan dan
menjadi spirit dan motivasi spritual dalam mewujudkan kesalahan sosial yang
dapat dirasakan oleh civitas akademika khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Tentu saja hal
demikian itu bukanlah sesuatu yang sederhana. Namun kesalehan sosial dapat
dimanfaatkan secara sosial juga dengan spirit kebersamaan. Niat yang ikhlas,
cara yang baik untuk memanifestasikan kesalehan sosial di sekolah dapat menjadi
kekuatan utama mewujudkan visi bersama pendidikan.
Jika kesalehan
sosial di manifestasikan secara kolektif
tertanam dengan baik khusus di antara para kepala sekolah dan guru,
niscaya segala kendala dunia pendidikan yang dihadapi akan di jawab secara
bersama pula. Ini merupakan harmonisasi yang kereen sebagai bagian dari
membangun manifestasi kesalahan sosial pendidikan.
Kepekaan Sang Guru
terhadap setiap persoalan pendidikan akan menjadi ruh spritual dalam melakukan
pemberdayaan pendidikan. Kebersamaan dan kepekaan sebagai manifestasi kesalehan
sosial di bulan Ramadhan semoga akan terus menginspirasi berbagai solusi dari
dunia pendidikan yang dihadapi.
Sejatinya bagi
Sang Guru manifestasi pendidikannya merupakan perwujudan kesalehan sosialnya
yang akan berakhir bersamaan dengan berakhirnya tarikan napas terakhir
dikandung badan. Bila ini menjadi keyakinan yang melekat bagi sang Guru,
sungguh ia telah menjadi penerang kegelapan yang sesungguhnya sesuai dengan
jati dirinya sebagai seorang guru yang mulia.