PERAN GURU GEOGRAFI DALAM MITIGASI BENCANA ALAM

Penulis: Suparto, S.Pd., M.M. dan Drs. H. Priyono, M.Si.

Dibaca: 2165 kali

Suparto, S.Pd., M.M. dan Drs. H. Priyono, M.Si.

Oleh

1. Suparto, S.Pd., M.M.

(Guru Geografi SMA Negeri 1 Way Lima Kabupaten Pesawaran Lampung)

2. Drs. H. Priyono, M.Si.

(Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

 

Bencana dapat terjadi kapan saja dan karena kehendak Tuhan maupun bencana buatan manusia karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Indonesia mempunyai sumber daya alam beraneka ragam yang beriklim tropis. Bencana yang kerap terjadi di Indonesia, seperti musim penghujan akan datang banjir, musim kemarau akan datang kebakaran lahan, gempa bumi, tsunami hingga bencana lainnya. Negara kita memiliki potensi bencana yang cukup tinggi, sehingga intensitas dan dampaknya harus mendapat perhatian yang sangat serius dari pemerintah.

Kesiapsiagaan dalam meghadapi bencana yang terjadi di Indonesia pada masyarakat ada beberapa keadaan yang berbeda di setiap wilayah dan terjadi kasus yang berbeda pula. Di satu sisi sebagian masyarakat sekarang mempunyai kesadaran kesiapsiaagaan bencana, akan tetapi ternyata pemerintah tidak mempunyai anggaran dana yang memadai dalam kesiapsiagaan tersebut. Karena bencana memang dapat ditanggulangi baik melalui fasilitas maupun mentalitas individunya. Akan tetapi tidak bisa dimungkiri bahwa beberapa bencana alam yang tidak dapat diacuhkan karena itu kehendak Tuhan. Lalu, jika anggaran dana tidak mencukupi, bagaimana keadaan masyarakat pascabencana? Hal inilah menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua yang hidup di negeri yang banyak potensi bencana alam.

Upaya-upaya mitigasi pun harus dilakukan dengan melibatkan banyak pihak, termasuk sekolah. Penyampaian infromasi tentang bencana dan mitigasinya dinilai sangat efektif jika dilakukan melalui pembelajaran di sekolah terutama guru Geogarafi yang memliki banyak pengetahuan tentang kondisi lingkugan alam. Namun, ketidakjelasan mitigasi bencana dalam kurikulum menjadi permasalahan bagi pihak sekolah, khususnya sekolah-sekolah yang berada di daerah rawan bencana.

Berkaitan dengan itu, untuk mengatasi masalah tersebut, guru geografi dinilai memiliki peranan yang strategis dalam mengintegrasikan pembelajaran bencana dengan pelajaran geografi di sekolah tanpa harus mengganggu kurikulum sekolah yang sudah berjalan. Kondisi inilah yang menuntut kreativitas guru geografi dalam pembelajaran. Kreativitas tersebut dapat dilakukan dengan cara yang cukup sederhana yaitu: 1) menyusun matrik materi geografi dan bencana, 2) menentukan model pembelajaran, 3) menentukan strategi dan metode pembelajarannya, dan, 4) menyusun rancangan pelaksanaan pembelajaran. Dengan empat langkah tersebut, pembelajaran bencana dapat terintegrasi secara baik dengan pelajaran geografi untuk diimplementasikan dalam pembelajaran geografi di sekolah.

Salah satu bencana geologi yang kerap terjadi antara lain bencana longsor lahan atau gerakan tanah. Longsor lahan disebabkan oleh tiga faktor penyebab utama, yaitu: a. Faktor Dakhil (inherent factor) b. Faktor luar dari suatu medan c. Faktor pemicu terjadinya longsor lahan. Faktor Dakhil (inherent factor) penyebab longsor lahan meliputi: kedalaman pelapukan batuan, struktur geologi (tektonik dan jenis batuannya), tebal solum tanah, tekstur tanah dan permeabilitas tanah. Faktor luar dari suatu medan yang menjadi penyebab longsor lahan adalah kemiringan lereng, banyaknya dinding terjal, kerapatan torehan, dan penggunaan lahan, sedangkan faktor pemicu terjadinya longsor lahan antara lain tebal curah hujan dan gempa bumi. Bencana longsorlahan dapat menyebabkan kerugian bagi kehidupan.

Bencana alam adalah peristiwa alamiah, walau demikian manusia dengan keilmuan yang dimiliki, sekiranya dapat memprediksi gejala-gejala, tanda-tanda, pertambahan aktivitas sebuah fenomena dan usaha-usaha memperkecil jumlah korban (mitigasi). Selain longsor, gempa bumi merupakan hal yang sangat menakutkan yang sering terjadi di negeri kita ini yang dapat menimbulkan dampak baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung gempa bumi dapat menyebabkan guncangan, sobekan permukaan, likuifaksi, rock fall, longsoran, dan rusaknya bangunan.

Dampak tidak langsung dari gempa bumi dapat mengakibatkan tsunami, mass wasting, banjir, kebakaran, dan kontaminasi zat beracun, seperti pada gempa di Aceh 2004, sumbernya adalah terjadi subduksi yang menyebabkan tsunami.

Selama ini penanggulangan bencana alam semata-mata tugas dan kewajiban lembaga yang berwenang. Karena itu, diperlukan peran aktif dari berbagai elemen khususnya mereka yang mendalami dan berkecimpung di bidang kealaman. Di antara berbagai elemen tersebut, termasuk di antaranya adalah peranan guru geografi. Guru-guru Geografi dapat mengambil peranan langsung dalam mengisi keterbatasan SDM profesional di Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BVMBG). Tentunya dengan dibekali dan diberikan pelatihan terlebih dulu. Beberapa hal yang dapat dibekali untuk meningkatkan kompetensi guru geografi dalam mitigasi bencana antara lain penguasaan dalam survei lapangan, penyelidikan, pengamatan, penyuluhan, pemetaan dan termasuk keterampilan evakuasi.memiliki posisi yang cukup penting. Bukan hal yang tidak mungkin seandainya tenaga ahli mitigasi bencana longsorlahan diambil dari sebagian Sarjana Pendidikan Geografi.

Menyadari tingkat kerawanan bencana yang terdapat di Indonesia, sudah menjadi kewajiban bersama sebagai anak bangsa untuk mamahaminya, sehingga korban dapat dihindari atau dapat diminamilisasi. Intensitas bencana serta korban yang ditimbulkan merupakan landasan yang kuat bagi setiap instansi dan segenap lapisan masyarakat untuk terlibat bersama dalam mitigasi bencana, termasuk dunia pendidikan. Berkenaan dengan itu, peran guru dan sekolah sangat dibutuhkan dalam memberikan informasi serta meningkatkan pemahaman siswa terhadap bencana alam dan mitigasi melalui pembelajaran yang dilakukan di sekolah.

Guru geografi harus menyadari bahwa geografi di masa depan akan terus memegang peranan penting dalam menangani isu-isu terkait interaksi manusia dengan lingkungan, termasuk dalam upaya memberikan informasi serta meningkatkan pemahaman siswa terhadap bencana alam dan mitigasi. Menyadari akan kendala yang dihadapi dalam memberdayakan pendidikan untuk memberikan pemahaman kebencanaan pada siswa, pada kesempatan ini ditawarkan satu alternatif solusi pada guru geografi. Solusi dimaksud adalah langkah-langkah dalam mengintegrasikan pembelajaran mitigasi bencana ke dalam pelajaran geografi dengan menggunakan model dan strategi pembelajaran yang ada. Dengan demikian kreativitas pembelajaran yang dilakukan guru geografi lebih tersistematis.

Untuk menjawab tantangan kekurangan tenaga profesional dalam usaha mitigasi bencana geologi, guru mata pelajaran Geografi dituntut mampu berpartisipasi di dalamnya. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh guru-guru mata pelajaran geografi apalagi yang menyangkut masalah teknik. Masalah teknik yang mungkin dapat dilakukan di antaranya sebagai berikut,

1) Survei lapangan: a. mendatangi daerah rawan bencana berdasarkan peta kerentanannyaa b. melakukan koordinasi dengan para ahli, c. meminta perizinan survei pada pemerintahan setempat, d. memberi tanda khusus pada daerah rawan bencana.

2) Penyelidikan dan Pemantauan, dalam kegiatan ini, Guru-guru mata pelajaran Geografi dapat melakukan penyelidikan terhadap jenis batuan, jenis tanah, besar kemiringan lereng, bentuk lahan, dan penggunaan lahan kaitannya dengan potensi bencana yang dapat terjadi. Kegiatan penyelidikan dan pemantauan ini sebaiknya dilakukan secara periodik dan terus menerus dengan rentang waktu setiap bulan, 3 bulan, atau 3 tahun sekali pada daerah yang rawan bencana.

3) Pemetaan dalam kegiatan mitigasi sangatlah penting karena peta dapat membantu menentukan daerah-daerah mana saja yang mungkin akan terkena dampak negatif dari bencana. Sementara itu peta yang digunakan dalam pemetaan adalah peta zona kerentanan tanah yang diambil dari peta zona kerentanan gerakan tanah berdasarkan data statistika dan lapangan.

4) Guru-guru Geografi dapat melakukan penyuluhan yang ditujukan kepada masyarakat yang bermukim di daerah rawan bencana. Isi penyuluhan dapat menerangkan bagaimana usaha-usaha mengurangi kerugian bencana, sikap yang harus dilakukan untuk mencegah bencana alam.  

5) Evakuasi dilakukan ketika bencana sudah terjadi atau ada gejala-gejala akan terjadi bencana. Kegiatan yang dapat dilakukan pada saat evakuasi di antaranya: a. penyelamatan para korban ke daerah yang lebih aman, b. penyelamatan harta benda yang mungkin masih dapat diselamatkan, c. menyiapakan tempat-tempat penampungan sementara bagi para pengungsi seperti tenda-tenda darurat, d. menyediakan dapur-dapur umum, e. menyediakan air bersih, sarana kesehatan, f. memberikan dorongan semangat bagi para korban bencana, agar para korban tersebut tidak frustasi, dan lain-lain.

Bagi rekan-rekan guru geografi mari kita langkahkan kaki untuk dapat berperan aktif dalam mitigasi bencana dan membantu Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) sebagai tanda ikut berpartisipasi mengurangi jumlah korban jiwa akibat bencana alam yang terjadi di negara kita ini. Kita harus akrab dengan bencana dengan memiliki awareness yang tinggi agar terhindar dari bencana atau paling tidak meminimalisasi korban akibat bencana. Negara kita dikarunia tanah yang subur dan elok pesonanya namun kaya akan bencana maka bersyukurlah dengan menggali ilmu untuk mitigasi yang diperlukan tentang bencana sehingga bisa menikmatinya. 

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Cerutu

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...