Penulis: Neneng Hendriyani, M.Pd.

Neneng Hendriyani, M.Pd.
Oleh Neneng Hendriyani, M.Pd.
(Guru Bahasa Inggris di SMA N
4 Cibinong/Komunitas Cinta
Indonesia/KACI #PASTI BISA#)
Tahun ini seperti halnya peringatan hari besar nasional lainnya, Hari
Kebangkitan Nasional diperingati dengan cara yang berbeda. Dengan apa pun kita
memperingatinya, baik virtual maupun tidak intinya tetap sama; simbolik. Tidak lebih.
Peserta peringatan hanya akan
mendengarkan sambutan dari petinggi negara. Sambutan yang tidak jarang lebih
dari satu halaman itu berisi banyak sekali harapan yang secara umum hanya masuk
telinga kanan lalu keluar di telinga kiri. Tak ada yang tersimpan di bagian
tengah kepalanya. Bila pun ada, itu hanya bagian terkecil saja.
Inilah potret kita. Potret bangsa kita.
Di era serba sulit sekarang ini pun pasti tidak akan jauh berbeda.
Kesulitan ekonomi sebagian besar rakyat Indonesia akibat PHK menjelang
diberlakukannya PSBB di sejumlah daerah membuat makna kebangkitan perlu
dipertanyakan kembali. Di tengah dikendorkannya PSBB dan kurangnya kesadaran
sebagian rakyat Indonesia terhadap nilai kemanusiaan dan perjuangan tim medis
yang menangani pasien Covid-19 makna kata “kebangkitan” ini perlu dikaji ulang?
Kebangkitan seperti apa yang sekiranya mampu menyelamatkan kita semua dari
ganasnya wabah Corona? Apakah bantuan logistik yang diberikan pemerintah mampu
membangkitkannya atau justru semakin menenggelamkannya hingga tak mampu bangkit
sama sekali? Apakah aturan-aturan yang dikeluarkan pemerintah mampu menyadarkan
kita semua agar bisa saling menjaga dan menghormati sesama rakyat Indonesia?
Beberapa hari lalu ramai tagar Indonesia terserah mewarnai jagat maya.
Negeri yang dikenal sebagai negeri +62 pun ramai dibicarakan di mana-mana.
Bukan prestasinya dalam menekan jumlah penderita Covid-19 yang membuat namanya
begitu dikenal di seantero jagat maya. Perilaku bangsanya lah yang membuatnya
begitu booming.
Masjid yang terpaksa ditinggalkan sejak sebelum Ramadan tiba
kontradiktif dengan bandara yang dijejali massa dan pasar-pasar yang dibanjiri
para pelaku usaha dan pembeli. Tak ada protokol kesehatan yang dipakai. Semua
begitu jelas terlihat; berdesakan. Tidak ada lagi phisycal and social distancing. Tak ada lagi kesadaran untuk saling
menjaga diri dan lingkungan. Tak ada lagi kekhawatiran akan tertular corona.
Semua merasa kebal.
Belum lagi konser yang katanya dilaksanakan secara virtual oleh
beberapa lembaga pemerintah ikut memberikan warna tersendiri di negeri
khatulistiwa ini. Konser yang ramai diperbincangkan itu pun hangat dibicarakan
di berbagai WhatsApp group, facebook, twitter dan line. Ada banyak pro kontra
di sana. Ada banyak hal yang membuat sebagian orang miris dan kecewa. Namun apa pun
itu semua kembali lagi ke awal. Apakah arti kebangkitan bagi Indonesia sendiri?
Terlalu jauh bila kita memprediksi bahwa bangsa ini tidak mampu bangkit
sama sekali. Apa yang terjadi dan kita alami sekarang ini tidaklah lebih buruk
dari apa yang terjadi pada bangsa ini tepat seratus dua belas tahun lalu.
Kala itu kita masih dijajah. Kemerdekaan hanyalah mimpi. Pendidikan
hanya milik segelintir orang yang memiliki kedudukan di masyarakat. Selebihnya
kita hanyalah budak di negeri yang konon kaya raya. Kita yang berjemur di bawah
matahari, tuan-tuan asing yang menikmatinya sepanjang hari.
Bila kemudian kita melihat sekeliling kita di mana pembangunan sekarang
telah berjalan hampir merata di seluruh wilayah Indonesia kita bisa tersenyum bangga.
Indonesia telah bangkit dari penjajahan. Kita dan anak-anak kita bisa bebas
bersekolah dan memilih sekolah di manapun yang kita mau. Asal ada kemauan dan
kemampuan, semua bisa. Kita bisa berucap kita telah bangkit dari segala bentuk
kebodohan dan pembodohan. Bila itu makna kebangkitan yang kita anut, maka fix kita telah mencapainya.
Namun bila kita melihat keadaan hari ini di sekitar kita, pandangan dan
keyakinan kita akan makna kebangkitan tersebut berubah.
Dari sisi pendidikan, pendidikan jarak jauh (distance learning)
yang diselenggarakan selama work from
home dan school from home tidaklah
serta merta membuat kita masih bisa “bersekolah”.
Kegiatan pembelajaran yang minim nilai kemanusiaan dan penanaman
nilai-nilai integritas tersebut masih memiliki lubang di sana-sini. Hubungan
yang erat antarpelakunya di mana seharusnya rasa hormat, disiplin, dan tanggung
jawab tetap diutamakan kian pudar. Peserta didik hanya bisa mengakses materi sesuai dengan fasilitas yang
dimiliki. Mereka yang memiliki gaya
belajar kinestetik mengalami kesulitan beradaptasi dengan model pembelajaran
jarak jauh. Akibatnya mereka cenderung abai terhadap tugas yang disampaikan
melalui daring. Ini terbukti dari tingkat kehadiran dan target pengumpulan
tugas yang hanya 80% - 90% di kelas-kelas yang diampu penulis. Tingkat
pemahaman materi pun sesuai dengan daya tangkap masing-masing siswa. Orang tua
yang mendampingi di rumah pun memiliki banyak kesulitan dalam pelaksanaan
perannya ini. Pun guru yang melaksanakan tugas pembelajaran jarak jauh tidak
bisa optimal melaksanakan tanggung jawabnya sebagai fasilitator sesuai
ketentuan kurikulum 2013. Ketersediaaan fasilitas pendukung di rumah
masing-masing menyumbangkan persoalan yang cukup besar bagi keberhasilan
program ini. Akibatnya banyak yang mengorbankan waktu istirahatnya di malam hari hanya untuk mengakses kelas-kelas maya yang dipegangnya.
Hasilnya, kenyataan di lapangan baru bisa mendekati sebagian kecil harapan
orang tua, masyarakat dan pemerintah.
Dari sisi kesadaran sebagai manusia Indonesia yang beradab, tingkat
kesadaran kita dalam menjaga diri sendiri, keluarga dan lingkungan dari wabah
Corona masih rendah. Dengan berbagai alasan kita banyak melakukan pelanggaran
disiplin. 7.618 kendaraan baik beroda dua maupun empat tercatat melakukan
pelanggaran lalu lintas selama pandemic Covid-19 di wilayah hukum Polda Jawa
Tengah (https://jatengdaily.com/2020/selama- pandemi-covid-19-ribuan-pelanggar-lalu-lintas-ditegur/.
4.498 pelanggar lalu lintas ditindak oleh petugas Polri di DKI Jakarta lantaran
tidak menggunakan masker saat berkendara (https://m.liputan6.com/news/read/4230301/polri-catat-4498-pelanggar-lalin-tak-bermasker- selama-psbb-jakarta). 23.310 masyarakat melakukan
pelanggaran di wilayah hokum Polda Metro Jaya selama Pembatasan Sosial Berskala Besar diberlakukan
(https://m.liputan6.com/news/read/42408310-orang-terjaring-razia-psbb-di-jakarta-ini-4- jenis-pelanggaran-terbanyak). 13.096 orang tidak
menggunakan masker. 4.712 pengemudi tidak mentaati aturan kapasitas 50 % dari
total jumlah penumpang yang bisa diangkut. 2.426 pengendara tidak menggunakan
sarung tangan, 1.843 pengendara roda dua mengangkut penumpang yang tidak satu
alamat tempat tinggal dengannya.
Pemberian sanksi sosial, pencabutan izin usaha, sanksi pidana, dan
pemberian blanko bagi pelanggar PSBB di sejumlah wilayah hukum Jawa Barat tidak
serta merta menurunkan jumlah pelanggarnya. Ini artinya tingkat kesadaran
masyarakat masih rendah. Mereka masih abai terhadap peringatan pemerintah.
Merasa paling membutuhkan akan berbagai kebutuhan hidup membuat mereka lalai
dalam menerapkan protokol kesehatan bagi dirinya
sendiri. Padahal pemerintah sendiri telah bekerja sama dengan televisi nasional
untuk menayangkan berbagai program edukasi mengenai bahaya Covid-19. Sudah tak
terhitung banyaknya iklan masyarakat yang berisi berbagai tips menjaga diri
dari Covid-19 ditayangkan dari waktu ke waktu di sela-sela tayangan utamanya.
Beragam pesan yang dikirim oleh tenaga medis sebagai benteng pertahanan
terakhir penanggulangan Covid-19 pun diabaikan.
Kebijakan pemerintah dalam membuka sejumlah bandara, stasiun kereta pun
tak ayal menyisakan banyak tanda tanya besar. Inikah langkah yang akhirnya
diambil untuk menyelamatkan Indonesia secara keseluruhan sebagai bangsa dan
negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan? Ataukah justru ditujukan
hanya untuk menyelamatkan segelintir orang saja sesuai aturan teori herd immunity?
Inikah makna kebangkitan yang harus kita ambil pada peringatan Hari
Kebangkitan Nasional tahun ini?
BIOGRAFI PENULIS
Neneng Hendriyani, M.Pd, guru
Bahasa Inggris di SMA N 4 Cibinong dan penulis 11 judul buku ber-ISBN; SMAFOUR
in students English writing (mendongkrak motivasi dan kemampuan siswa menulis
berbagai teks bahasa inggris) (2020), Albatros (2019), Enrichment Book for XI
SMK Based on Curriculum 2013 revision (2018), Antologi Bunga Rampai Goresan
Pena Guru Jawa Barat (2018), Let's Learn English Together (2018), Perlukah Kita
Jujur? (2018), Setangkup Rindu dari Masa Lalu (2017), Janji Firly (2017), Tips
Mudah Menulis Proposal dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (2017), Bogor:
Peninggalan Sejarah dari Masa Ke
Masa (2017), Alih Kode dan Campur Kode: Strategi Siswa Dalam Berbicara Bahasa
Inggris (2017) ini juga menulis esai, artikel dan resensi yang terbit di media
massa (koran) lokal Pikiran Rakyat, Bali dan jurnal PGRI Pusat dan Balai Bahasa
Banten (Kandaga). Juga menjadi pembimbing siswa dalam menulis buku. Sudah ada
13 judul buku yang dihasilkan oleh siswa binaannya. 2 buku saat masih aktif
mengajar di SMK Negeri 1 Cibinong, 11 buku ditulis oleh siswa SMA Negeri 4
Cibinong.
Selain itu juga aktif mengikuti
lomba penulisan puisi dengan tema yang ditentukan panitia penyelenggara untuk
tingkat nasional dan internasional. Karya yang berhasil lolos seleksi panitia
tingkat nasional dan internasional Senyuman Lembah Ijen (Antologi puisi
Nusantara ditulis bersama penyair Asia Tenggara) 2018, antologi 50 Opini Puisi
Esai Indonesia, 2018, antologi Puisi Banjarbaru's Rainy Day Literary Festival,
2018, antologi Puisi penyair Asean 2018 (Kinanti di Kampar Kiri), Antologi
Puisi penyair Asean 2019 (Membaca Asap), Antologi Puisi Melawan Covid-19 Tahun
2020.
Karya Nulis Bareng yang tercatat
pernah dihasilkan adalah Jangan Berhenti Mengajar (2017), Menghidupkan Ruh Dewi
Sartika-Seri Puisi (2017), Menghidupkan Ruh Dewi Sartika-Seri Esai (2017),
Antologi Fikmin Pelita di Mata Pelangi (2019), 1001 Membuat Guru-Siswa Suka
Baca Buku (Buku 2) (2019), Untuk Anakku 2 (2019), Bertualang ke Negeri Satwa
(Kumpulan Dongeng Fabel) (2020), 52 Kisah Dongeng Fabel Menginspirasi Buah Hati
(2020).