KEBANGKITAN NASIONAL DI ERA PANDEMIK COVID-19

Penulis: Neneng Hendriyani, M.Pd.

Dibaca: 712 kali

Neneng Hendriyani, M.Pd.

Oleh Neneng Hendriyani, M.Pd.

(Guru Bahasa Inggris di SMA N 4 Cibinong/Komunitas Cinta Indonesia/KACI #PASTI BISA#)

 

Tahun ini seperti halnya peringatan hari besar nasional lainnya, Hari Kebangkitan Nasional diperingati dengan cara yang berbeda. Dengan apa pun kita memperingatinya, baik virtual maupun tidak intinya tetap sama; simbolik. Tidak lebih.

Peserta peringatan hanya akan mendengarkan sambutan dari petinggi negara. Sambutan yang tidak jarang lebih dari satu halaman itu berisi banyak sekali harapan yang secara umum hanya masuk telinga kanan lalu keluar di telinga kiri. Tak ada yang tersimpan di bagian tengah kepalanya. Bila pun ada, itu hanya bagian terkecil saja.

Inilah potret kita. Potret bangsa kita.

Di era serba sulit sekarang ini pun pasti tidak akan jauh berbeda. Kesulitan ekonomi sebagian besar rakyat Indonesia akibat PHK menjelang diberlakukannya PSBB di sejumlah daerah membuat makna kebangkitan perlu dipertanyakan kembali. Di tengah dikendorkannya PSBB dan kurangnya kesadaran sebagian rakyat Indonesia terhadap nilai kemanusiaan dan perjuangan tim medis yang menangani pasien Covid-19 makna kata “kebangkitan” ini perlu dikaji ulang? Kebangkitan seperti apa yang sekiranya mampu menyelamatkan kita semua dari ganasnya wabah Corona? Apakah bantuan logistik yang diberikan pemerintah mampu membangkitkannya atau justru semakin menenggelamkannya hingga tak mampu bangkit sama sekali? Apakah aturan-aturan yang dikeluarkan pemerintah mampu menyadarkan kita semua agar bisa saling menjaga dan menghormati sesama rakyat Indonesia?

Beberapa hari lalu ramai tagar Indonesia terserah mewarnai jagat maya. Negeri yang dikenal sebagai negeri +62 pun ramai dibicarakan di mana-mana. Bukan prestasinya dalam menekan jumlah penderita Covid-19 yang membuat namanya begitu dikenal di seantero jagat maya. Perilaku bangsanya lah yang membuatnya begitu booming.

Masjid yang terpaksa ditinggalkan sejak sebelum Ramadan tiba kontradiktif dengan bandara yang dijejali massa dan pasar-pasar yang dibanjiri para pelaku usaha dan pembeli. Tak ada protokol kesehatan yang dipakai. Semua begitu jelas terlihat; berdesakan. Tidak ada lagi phisycal and social distancing. Tak ada lagi kesadaran untuk saling menjaga diri dan lingkungan. Tak ada lagi kekhawatiran akan tertular corona. Semua merasa kebal.

Belum lagi konser yang katanya dilaksanakan secara virtual oleh beberapa lembaga pemerintah ikut memberikan warna tersendiri di negeri khatulistiwa ini. Konser yang ramai diperbincangkan itu pun hangat dibicarakan di berbagai WhatsApp group, facebook, twitter dan line. Ada banyak pro kontra di sana. Ada banyak hal yang membuat sebagian orang miris dan kecewa. Namun apa pun itu semua kembali lagi ke awal. Apakah arti kebangkitan bagi Indonesia sendiri?

Terlalu jauh bila kita memprediksi bahwa bangsa ini tidak mampu bangkit sama sekali. Apa yang terjadi dan kita alami sekarang ini tidaklah lebih buruk dari apa yang terjadi pada bangsa ini tepat seratus dua belas tahun lalu.

Kala itu kita masih dijajah. Kemerdekaan hanyalah mimpi. Pendidikan hanya milik segelintir orang yang memiliki kedudukan di masyarakat. Selebihnya kita hanyalah budak di negeri yang konon kaya raya. Kita yang berjemur di bawah matahari, tuan-tuan asing yang menikmatinya sepanjang hari.

Bila kemudian kita melihat sekeliling kita di mana pembangunan sekarang telah berjalan hampir merata di seluruh wilayah Indonesia kita bisa tersenyum bangga. Indonesia telah bangkit dari penjajahan. Kita dan anak-anak kita bisa bebas bersekolah dan memilih sekolah di manapun yang kita mau. Asal ada kemauan dan kemampuan, semua bisa. Kita bisa berucap kita telah bangkit dari segala bentuk kebodohan dan pembodohan. Bila itu makna kebangkitan yang kita anut, maka fix kita telah mencapainya.

Namun bila kita melihat keadaan hari ini di sekitar kita, pandangan dan keyakinan kita akan makna kebangkitan tersebut berubah.

Dari sisi pendidikan, pendidikan jarak jauh (distance learning) yang diselenggarakan selama work from home dan school from home tidaklah serta merta membuat kita masih bisa “bersekolah”.

Kegiatan pembelajaran yang minim nilai kemanusiaan dan penanaman nilai-nilai integritas tersebut masih memiliki lubang di sana-sini. Hubungan yang erat antarpelakunya di mana seharusnya rasa hormat, disiplin, dan tanggung jawab tetap diutamakan kian pudar. Peserta didik hanya bisa mengakses materi sesuai dengan fasilitas yang dimiliki. Mereka  yang memiliki gaya belajar kinestetik mengalami kesulitan beradaptasi dengan model pembelajaran jarak jauh. Akibatnya mereka cenderung abai terhadap tugas yang disampaikan melalui daring. Ini terbukti dari tingkat kehadiran dan target pengumpulan tugas yang hanya 80% - 90% di kelas-kelas yang diampu penulis. Tingkat pemahaman materi pun sesuai dengan daya tangkap masing-masing siswa. Orang tua yang mendampingi di rumah pun memiliki banyak kesulitan dalam pelaksanaan perannya ini. Pun guru yang melaksanakan tugas pembelajaran jarak jauh tidak bisa optimal melaksanakan tanggung jawabnya sebagai fasilitator sesuai ketentuan kurikulum 2013. Ketersediaaan fasilitas pendukung di rumah masing-masing menyumbangkan persoalan yang cukup besar bagi keberhasilan program ini. Akibatnya banyak yang mengorbankan waktu istirahatnya di malam hari hanya untuk mengakses kelas-kelas maya yang dipegangnya. Hasilnya, kenyataan di lapangan baru bisa mendekati sebagian kecil harapan orang tua, masyarakat dan pemerintah.

Dari sisi kesadaran sebagai manusia Indonesia yang beradab, tingkat kesadaran kita dalam menjaga diri sendiri, keluarga dan lingkungan dari wabah Corona masih rendah. Dengan berbagai alasan kita banyak melakukan pelanggaran disiplin. 7.618 kendaraan baik beroda dua maupun empat tercatat melakukan pelanggaran lalu lintas selama pandemic Covid-19 di wilayah hukum Polda Jawa Tengah (https://jatengdaily.com/2020/selama- pandemi-covid-19-ribuan-pelanggar-lalu-lintas-ditegur/. 4.498 pelanggar lalu lintas ditindak oleh petugas Polri di DKI Jakarta lantaran tidak menggunakan masker saat berkendara (https://m.liputan6.com/news/read/4230301/polri-catat-4498-pelanggar-lalin-tak-bermasker- selama-psbb-jakarta). 23.310 masyarakat melakukan pelanggaran di wilayah hokum Polda Metro     Jaya                   selama     Pembatasan  Sosial                   Berskala Besar         diberlakukan (https://m.liputan6.com/news/read/42408310-orang-terjaring-razia-psbb-di-jakarta-ini-4- jenis-pelanggaran-terbanyak). 13.096 orang tidak menggunakan masker. 4.712 pengemudi tidak mentaati aturan kapasitas 50 % dari total jumlah penumpang yang bisa diangkut. 2.426 pengendara tidak menggunakan sarung tangan, 1.843 pengendara roda dua mengangkut penumpang yang tidak satu alamat tempat tinggal dengannya.

Pemberian sanksi sosial, pencabutan izin usaha, sanksi pidana, dan pemberian blanko bagi pelanggar PSBB di sejumlah wilayah hukum Jawa Barat tidak serta merta menurunkan jumlah pelanggarnya. Ini artinya tingkat kesadaran masyarakat masih rendah. Mereka masih abai terhadap peringatan pemerintah. Merasa paling membutuhkan akan berbagai kebutuhan hidup membuat mereka lalai dalam menerapkan protokol kesehatan bagi dirinya sendiri. Padahal pemerintah sendiri telah bekerja sama dengan televisi nasional untuk menayangkan berbagai program edukasi mengenai bahaya Covid-19. Sudah tak terhitung banyaknya iklan masyarakat yang berisi berbagai tips menjaga diri dari Covid-19 ditayangkan dari waktu ke waktu di sela-sela tayangan utamanya. Beragam pesan yang dikirim oleh tenaga medis sebagai benteng pertahanan terakhir penanggulangan Covid-19  pun diabaikan.

Kebijakan pemerintah dalam membuka sejumlah bandara, stasiun kereta pun tak ayal menyisakan banyak tanda tanya besar. Inikah langkah yang akhirnya diambil untuk menyelamatkan Indonesia secara keseluruhan sebagai bangsa dan negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan? Ataukah justru ditujukan hanya untuk menyelamatkan segelintir orang saja sesuai aturan teori herd immunity?

Inikah makna kebangkitan yang harus kita ambil pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini?

 

BIOGRAFI PENULIS

Neneng Hendriyani, M.Pd, guru Bahasa Inggris di SMA N 4 Cibinong dan penulis 11 judul buku ber-ISBN; SMAFOUR in students English writing (mendongkrak motivasi dan kemampuan siswa menulis berbagai teks bahasa inggris) (2020), Albatros (2019), Enrichment Book for XI SMK Based on Curriculum 2013 revision (2018), Antologi Bunga Rampai Goresan Pena Guru Jawa Barat (2018), Let's Learn English Together (2018), Perlukah Kita Jujur? (2018), Setangkup Rindu dari Masa Lalu (2017), Janji Firly (2017), Tips Mudah Menulis Proposal dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (2017), Bogor:

Peninggalan Sejarah dari Masa Ke Masa (2017), Alih Kode dan Campur Kode: Strategi Siswa Dalam Berbicara Bahasa Inggris (2017) ini juga menulis esai, artikel dan resensi yang terbit di media massa (koran) lokal Pikiran Rakyat, Bali dan jurnal PGRI Pusat dan Balai Bahasa Banten (Kandaga). Juga menjadi pembimbing siswa dalam menulis buku. Sudah ada 13 judul buku yang dihasilkan oleh siswa binaannya. 2 buku saat masih aktif mengajar di SMK Negeri 1 Cibinong, 11 buku ditulis oleh siswa SMA Negeri 4 Cibinong.

Selain itu juga aktif mengikuti lomba penulisan puisi dengan tema yang ditentukan panitia penyelenggara untuk tingkat nasional dan internasional. Karya yang berhasil lolos seleksi panitia tingkat nasional dan internasional Senyuman Lembah Ijen (Antologi puisi Nusantara ditulis bersama penyair Asia Tenggara) 2018, antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia, 2018, antologi Puisi Banjarbaru's Rainy Day Literary Festival, 2018, antologi Puisi penyair Asean 2018 (Kinanti di Kampar Kiri), Antologi Puisi penyair Asean 2019 (Membaca Asap), Antologi Puisi Melawan Covid-19 Tahun 2020.

Karya Nulis Bareng yang tercatat pernah dihasilkan adalah Jangan Berhenti Mengajar (2017), Menghidupkan Ruh Dewi Sartika-Seri Puisi (2017), Menghidupkan Ruh Dewi Sartika-Seri Esai (2017), Antologi Fikmin Pelita di Mata Pelangi (2019), 1001 Membuat Guru-Siswa Suka Baca Buku (Buku 2) (2019), Untuk Anakku 2 (2019), Bertualang ke Negeri Satwa (Kumpulan Dongeng Fabel) (2020), 52 Kisah Dongeng Fabel Menginspirasi Buah Hati (2020).

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Cerutu

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...