Prof. Dr. Ir. Wisnu Cahyadi, M.Si.
Oleh Prof. Dr. Ir.
Wisnu Cahyadi, M.Si.
(Guru Besar
FT-UNPAS/Wakil Ketua Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Wilayah Muhammadiyah
Jawa Barat/Komunitas Cinta Indonesia/KACI #PASTI BISA#)
Makanan dan minuman yang diolah
secara tidak benar dapat menjadi pembunuh nomor wahid karena mengandung zat
racun bagi tubuh. Beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Mahasiswa Jurusan
Teknologi Pangan, Fakultas Teknik UNPAS Bandung menunjukkan bahwa hampir 85%
produk mie dan bakso yang beredar di wilayah kota Bandung mengandung formalin
dan boraks. Rindha, dkk., (2006) menyatakan bahwa hasil penelitian untuk
beberapa jenis ikan asin (cumi, jambal dan sepat) yang beredar di pasar
tradisional dan pasar induk di wilayah kota Bandung mengandung formalin
berkisar 30 – 1900 ppm, dan yang paling besar adalah ikan
cumi-cumi, kecuali ikan asin sepat tidak mengandung formalin. Menurut hasil
penelitian Softi (2002), ditemukan 60 sampel mie basah (boiled noodle) dari 32
pasar tradisional di Bandung positif mengandung formalin. Kandungan formalin
sampel mie basah tersebut, berkisar antara 10,39 sampai 117,51 ppm. Selain itu
hasil penelitian lainnya terhadap produk pangan jajanan anak sekolah di Kota
Bandung seperti sirup, es campur, kerupuk dan saus menunjukkan sekitar 80%
positif mengandung zat pewarna tekstil (Rhodamin B dan Methanil yellow).
Kalau ada makanan yang warnanya
mencolok dan menarik justru harus dicurigai, misalnya saos yang warnanya
membekas di tangan memungkinkan pewarna yang digunakan adalah pewarna tekstil
yang dapat menyebabkan kanker. Untuk boraks, dapat diamati dari bakso.
"Kalau kenyal atau mudah dipantulkan seperti memantulkan bola karet di
tanah, maka berarti banyak mengandung boraks. Bisa juga dari tanda-tanda
gigitan yang kembali ke bentuk semula setelah digigit.Tahu putih dan kuning yang
terlalu keras justru patut diduga mengandung formalin. Selain itu untuk tahu
kuning, kadangkala ditambahkan pewarna tekstil juga, dapat dilihat dari
warnanya yang lebih terang.
Bahkan, ada pula daging ayam yang
direndam formalin agar awet. "Kita dapat mengenali daging ayam berformalin
dengan menekan atau mendorongnya dengan jari telunjuk. Kalau keluar lendir atau
air berarti pernah direndam dengan formalin, dan tidak dihinggapi lalat. Akan
tetapi, formalin dalam makanan juga dapat dihilangkan. "Caranya, makanan yang
mencurigakan itu direndam dengan air panas sekitar 30 menit atau dipanaskan
dengan oven bersuhu 121 derajat tiga menit. Kalau ikan dapat direndam dengan
air cuka 5 persen selama 15 menit atau direndam air garam selama 30 menit untuk
ikan asin. Untuk snack (makanan ringan) yang banyak disukai anak-anak, perlu
dilihat komposisi zat warna-nya dan nomor registrasi. "Kalau
warna-warnanya mencolok atau tanggal produk- nya kadaluarsa akan berbahaya.Satu
lagi bahaya yang sering tak disadari adalah kemasan dari plastik, styrofoam,
dan melamin. "Kalau kemasan itu diisi dengan bakso panas, soto panas, teh
panas, dan makanan atau minuman serba panas akan dapat menyebabkan kanker.
Karena terjadinya migrasi (perpindahan) senyawa monomer (bahan dasar kemasan) ke
dalam produk pangan.
Berikut ini terdapat beberapa ciri
penggunaan formalin, boraks, dan zat pewarna tekstil (buatan) walaupun tidak
terlampau khas untuk mengenali produk pangan jajanan anak sekolah yang menggunakan BTK yang dilarang, namun dapat membantu
membedakannya dari pangan tanpa BTK yang dilarang. Akan tetapi untuk lebih
jelas dan spesifik (diakui kebenarannya) harus dilakukan uji di
laboratorium. Dan sekarang sudah tersedia alat deteksi khusus secara kualitatif
yang disebut dengan Tes Kit (spot test) untuk uji formalin, boraks, dan zat
pewarna sintetis (tekstil).
Ciri-ciri mi basah yang mengandung
formalin:
• Tidak
rusak sampai dua hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius) dan bertahan lebih
dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius)
• Bau
agak menyengat, bau formalin
• Tidak
lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal
Ciri-ciri tahu yang mengandung
formalin:
• Tidak
rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat Celsius) dan bertahan lebih
dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius)
• Tahu
terlampau keras, namun tidak padat
• Bau
agak mengengat, bau formalin (dengan kandungan formalin 0.5-1ppm)
Ciri-ciri baso yang mengandung
formalin:
• Tidak
rusak sampai lima hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius)
• Teksturnya
sangat kenyal
Ciri-ciri ikan segar yang
mengandung formalin:
• Tidak
rusak sampai tiga hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius)
• Warna
insang merah tua dan tidak cemerlang, bukan merah segar dan warna daging ikan
putih bersih
• Bau
menyengat, bau formalin, pada mie tidak lengket dan lebih mengkilap
dibandingkan mie normal.
Ciri-ciri baso mengandung boraks
• Teksturnya
sangat kenyal
• Warnanya
tidak kecoklatan seperti penggunaan daging namun lebih cenderung keputihan
Ciri-ciri lontong mengandung boraks
• Teksturnya
sangat kenyal
• Dapat
memberikan rasa getir
Ciri-ciri kerupuk mengandung boraks
• Teksturnya
sangat renyah
• Dapat
memberikan rasa getir
Penyalahgunaan rhodamin B untuk pewarna makanan telah ditemukan untuk beberapa jenis pangan, seperti kerupuk, terasi, dan jajanan yang berwarna merah terang. Ciri-ciri makanan yang mengandung pewarna rhodamin B antara lain :
• makanan
berwarna merah mencolok dan cenderung berpendar serta banyak memberikan
titik-titik warna karena tidak homogen.
• Warna
kelihatan cerah (berwarna-warni), sehingga tampak menarik.
• Ada
sedikit rasa pahit (terutama pada sirop atau limun).
• Muncul
rasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya.
• Baunya
tidak alami sesuai makanannya.
Penyalahgunaan pewarna kuning
metanil untuk pewarna makanan telah ditemukan antara lain pada mie, kerupuk dan
jajanan lain yang berwarna kuning mencolok dan berpandar. Ciri-ciri makanan
yang mengandung pewarna kuning metanil antara lain makanan berwarna kuning
mencolok dan cenderung berpendar serta banyak memberikan titik-titik warna
karena tidak homogen.
Kelebihan pewarna buatan dibanding
pewarna alami adalah dapat menghasilkan warna yang lebih kuat dan stabil meski
jumlah pewarna yang digunakan hanya sedikit. Warna yang dihasilkan dari pewarna
buatan akan tetap cerah meskipun sudah mengalami proses pengolahan dan
pemanasan, sedangkan pewarna alami mudah mengalami degradasi atau pemudaran
pada saat diolah dan disimpan. Misalnya kerupuk yang menggunakan pewarna alami,
maka warna tersebut akan segera pudar ketika mengalami proses penggorengan.
Makanan jajanan seperti sirop,
limun, es, pisang goreng, manisan buah-buahan dan lain-lain perlu juga
diwaspadai. Waspadai makanan jajanan yang berwarna seragam dan mencolok, karena
bukan hal yang tidak mungkin memakai zat pewarna yang berbahaya. Mengonsumsi
makanan apapun sebaiknya Anda memilih dengan cermat. Namun sebaliknya, jangan
pula menjadi begitu khawatir, sehingga anda menjadi takut secara berlebihan.
Masih banyak produsen dan pedagang yang jujur dan bisa mempertanggungjawabkan
barang olahan dan dagangannya. Bagi konsumen tidak menjadi masalah dalam
mengonsumsi produk makanan apabila terdapat nomor registrasi dari Badan
Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), tetapi bagi produk yang tidak terdaftar
pada BPOM perlu diwaspadai.
Untuk mendeteksi atau pengujian
adanya BTK yang dilarang dalam produk pangan jajanan anak sekolah dapat
dilakukan secara sederhana, cepat dan mudah sekali pelaksanaannya serta bisa
juga menggunkan alat Test Kit, cara pengujian dapat dilakukan oleh pihak
sekolah kalau ada beberapa pangan jajanan anak sekolah yang meragukan
(terindikasi mengendung BTK yang dilarang). Pelaksanaan ini dapat juga
bekerjasama dengan Dinas terkait yaitu Dinas Kesehatan atau dengan BPOM.
Berikut ini adalah cara mendeteksi (uji) yang dapat dilakukan :
Uji Formalin:
Cara Kerja Test Kit Ini Mudah Dan
Cepat:
1. Ambil
produk makanan yang akan diuji
2. Cacah
dan ambil sekitar 5 gram (bila perlu digerus)
3. Tambahkan
air hangat sekitar 10 mili liter dalam wadah gelas
4. Ambil air
rendaman tersebut sebanyak
5 ml (disediakan
alat untuk mengambil sebanyak 5 ml)
5. Teteskan
reagen dalam test kit, atau ditambahkan asam kromatopat, biarkan 10 menit
6. Jika
terbentuk warna ungu, berarti produk makanan yang anda uji mengandung formalin.
Uji Boraks:
1. Ambil
produk makanan yang akan diuji
2. Cacah
dan ambil sekitar 5 gram (bila perlu digerus), masukan dalam cawan
3. Tambahkan
10 tetes asam sulfat dan 5 ml metanol
4. Bakar
sampel dalam cawan tersebut
5. Bila
nyala api berwarna hijau, berarti produk makanan yang diuji mengandung boraks.
Semakin pekat warna hiajau nyala apinya, semakin tinggi kandungan boraksnya.
Uji Zat Pewarna Sintetis (Tekstil):
1. Ambil
produk makanan/minuman (sirup atau es juice/campur) yang akan di uji
2. Untuk
sampel makanan berwarna, cacah dan ambil sekitar 5 gram (bila perlu digerus),
masukan dalam gelas, lalu tambahkan air dan saring.
3. Larutan
hasil saringan ditambahkan asam cuka.
4. Untuk
sampel sirup langsung ditambahkan asam cuka
5. Bila
larutan tersebut warnanya tidak hilang, berarti produk makanan yang diuji
mengandung zat warna sintetis (tekstil).
Untuk uji/mendeteksi secara
spesifik/akurat baik untuk uji formalin, boraks dan zat warna sintetis
(Rhodamin B dan Methanyl yellow), perlu dilakukan pengujian secara khusus di
laboratorium dengan prosedur (cara kerja) yang telah ditetapkan). Dengan adanya
pengujian maka deteksi dan kandungan/jumlah BTK tersebut akan dapat diketahui
secara tepat dan akurat. Tentunya hal ini akan terwujud apabila adanya suatu
kerjasama antara pihak sekolah dengan Dinas Kesehatan dan Perguruan Tinggi,
dalam hal ini adalah Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik UNPAS Bandung.
PENGAWASAN MUTU DAN KEAMANAN PANGAN
JAJANAN ANAK SEKOLAH
Belakangan ini banyak isu atau
lebih tepatnya kenyataan yang tersibakkan mengenai makanan berformalin, susu
bermelamin, agar-agar berpewarna pakaian, bakso tikus rasa sapi, ayam tiren,
dan lain-lain. Kenyataan ini tentu merugikan konsumen terutama dari sisi
kesehatan. Pihak konsumen sangat rentan terpapar bahan makanan tersebut karena
selain merupakan makanan yang dikonsumsi sehari-hari, bahan makanan tersebut
juga sering dijual dipinggir jalan dan tempat lain yang mudah dijangkau pembeli
dan dengan harga jual yang relatif murah sehingga menarik minat pembeli. Agar
pembeli tidak mudah terpapar hal yang merugian tersebut tentunya dibutuhkan
pengawasan terhadap bahan makanan yang dijual di pasaran. Pengawasan terhadap
bahan makanan yang beredar di masyarakat luas dapat dilakukan oleh pemerintah
melalui Badan pengawas Obat dan Makanan dan Departemen Kesehatan RI..
Sesuai dengan pasal 21 UU No. 7
tentang Pangan, pemerintah melarang setiap orang untuk mengedarkan pangan yang
mengandung bahan beracun, berbahaya, atau yang dapat merugikan atau
membahayakan kesehatan atau jiwa manusia, pangan yang mengandung cemaran yang
melampaui ambang batas maksimal yang ditetapkan, pangan yang mengandung bahan
yang dilarang digunakan dalam kegiatan atau proses produksi pangan, pangan yang
mengandung bahan yang kotor, busuk, tengik, terurai atau mengandung bahan
nabati atau hewani yang berpenyakit atau berasal dari bangkai sehingga
menjadikan pangan tidak layak dikonsumsi manusia, serta pangan yang sudah
kadaluwarsa. Menurut kebijakan BPOM mengenai ketentuan pokok pengawasan pangan
fungsional pasal 2, pengawasan pangan fungsional dilaksanakan melalui kegiatan
sebagai berikut:
a. Penetapan
standar dan persyaratan keamanan, mutu dan gizi;
b. Penetapan
standar dan persyaratan produksi dan distribusi;
c. Penilaian
keamanan, mutu dan gizi produk serta label dalam rangka pemberian surat
persetujuan pendaftaran;
d. Pelaksanaan
inspeksi dan sertifikasi produksi;
e. Pemeriksaan
sarana produksi dan distribusi;
f. Pengambilan
contoh dan pengujian laboratorium serta pemantauan label produk;
g. Penilaian
materi promosi termasuk iklan sebelum beredar dan pemantauannya diperedaran;
h. Pemberian
bimbingan dibidang produksi dan distribusi;
i. Penarikan
dari peredaran dan pemusnahan;
j. Pemberian
sanksi administratif;
k. Pemberian
informasi. ***
INDEPENDENSI ASN
Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi
EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT
THE NEW NORMAL LEARNING
MENATA PENDIDIKAN WUJUDKAN SDM CERDAS-SPIRITUAL BERKEPRIBADIAN INDONESIA REBUT PERADABAN DAN MEGATREND DUNIA 2045
MENGENAL CIRI-CIRI PRODUK PANGAN JAJANAN ANAK SEKOLAH YANG BERBAHAYA
RAMADAN BULAN MAGHFIRAH
PEMIMPIN AUTHENTIK: RUH KEPEMIMPINAN MODERN
Problematika Profesi Guru dalam Perspektif Hukum Pendidikan
PKB DAN PENINGKATAN PROFESIONALITAS GURU
CORONA DAN BELA NEGARA
BELAJAR BERPIKIR SPIRITUAL
MODEL PEMBELAJARAN CIRC BERBASIS HOTS
BELAJAR BERPIKIR TINGKAT TINGGI
ANGIN SEGAR PENDIDIKAN VOKASI
"Sedikit Bicara Banyak Mendengar"
SEMUA BISA SEKOLAH #MERDEKA BELAJAR#
GURU MILLENIAL
MODEL KOMPETENSI GURU DAN STRUKTUR MODEL KOMPETENSI GURU YANG BARU
HIDUP 99% GAIB
Menangkal Hoax Meningkatkan Ketahanan Tubuh saat COVID 19
Virus Corona dan Workshop Online
Eksperimental Evidence Uji Kompetensi Guru di Situasi Merebak Covid- 19
COVID-19 DAN PHBS
Cerutu
INDEPENDENSI ASN
Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi
EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT