Penulis: Etik Sukmawati, S.Pd., M.M.
Etik Sukmawati, S.Pd., M.M.
Oleh Etik Sukmawati, S.Pd., M.M.
Kamis, 5
November 2020 tibalah kami perwakilan guru Bahasa Indonesia dan guru Matematika
wilayah Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Cianjur, dan
Kabupaten Sukabumi dari jenjang SD sampai SMA/K di Grand Ussu Cisarua Kabupaten
Bogor untuk mengikuti Diskusi Kelompok Terpumpun Standard Setting Levelling Assesmen Kompetensi Minimum (AKM). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusat Assesmen
dan Pembelajaran Kemdikbud. Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk
menentukan nilai batas (cut off score)
tingkat kompetensi Asesmen Kompetensi Minimum melalui diskusi kelompok
terpumpun standar setting. Di kegiatan
inilah kami diperkenalkan dengan AKM.
AKM, survey
karakter dan survey lingkungan adalah tiga instrument Assesmen Nasional
pengganti Ujian Nasional. Assesmen ini akan mulai diberlakukan di tahun 2021.
AKM atau Assesmen Kompetensi Minimum adalah Assesmen pada kemampuan bernalar
menggunakan Bahasa (literasi membaca) dan assesmen kemampuan bernalar
menggunakan matematika (numerasi). Soal-soal AKM bersifat kontekstual, berbagai
bentuk soal, pemecahan masalah dan mendorong untuk berpikir kritis. Penilaian
pada AKM mengacu pada tolok ukur yang terdapat dalam PISA dan TIMSS. Hal ini
mengingatkan penulis pada pengembangan Kemampuan Berpikir
Tingkat Tinggi yang menjadi sasaran pengembangan Kemdikbud pada tahun 2019 di mana
pengembangannya berkiblat pada PISA dan TIMSS.
Ada 2 Jenis
AKM yang dikembangkan oleh Pusat Assesmen Pembelajaran. Yang pertama yaitu AKM
Survey Nasional. AKM Survey nasional diikuti oleh peserta didik kelas V, VIII
dan XI yang dilakukan secara sampling. Untuk kelas V banyaknya sampling
maksimal 30 orang dari setiap satuan pendidikan dan untuk kelas VIII dan XI
banyaknya sampling maksimal 45 orang tiap satuan pendidikan. Bagi satuan
pendidikan yang memiliki jumlah siswa di bawah batas maksimal maka seluruh
peserta didik di satuan pendidikan tersebut menjadi peserta Asessmen Nasional.
Pemerintah akan mengambil sampling ini secara random berdasarkan latar belakang
ekonomi dan sosial peserta didik. Namun berbeda dengan Program Kesetaraan,
semua peserta didik di program kesetaraan wajib mengikuti AKM karena dijadikan
sebagai salah satu syarat kelulusan. Fungsi AKM Survei Nasional ini sebagai
evaluasi kualitas sistem pendidikan, minimal tingkat satuan pendidikan. Oleh
karena itu yang digunakan sebagai sampling adalah siswa kelas V, VIII, dan XI. Hal
ini bertujuan agar mereka merasakan perbaikan pembelajaran saat masih
bersekolah di satuan pendidikan tersebut.
AKM yang
kedua adalah AKM Kelas. AKM kelas diikuti oleh peserta didik kelas II sampai
dengan kelas XII. AKM kelas ini berfungsi sebagai tools self-diagnostic bagi guru untuk peserta didik di kelas. Tools dilengkapi resep pembelajaran
untuk membantu guru memperbaiki pembelajaran di kelas.
Assesmen
Nasional bagi kelas V direncanakan diselenggarakan pada bulan Agustus tahun
2021. Dan bagi kelas VIII dan XI rencananya diselenggarakan pada akhir Maret
tahun 2021 selama dua hari. Untuk hari pertama jenjang SD/MI, Paket A/ULYA
dilaksanakan tes Literasi selama 75 menit dan survey karakter selama 20 menit
dan untuk hari kedua dilaksanakan tes Numerasi 75 menit dan suvey lingkungan 20
menit. Bagi jenjang SMP/MTS, Paket B dan WUSTHA serta SMA/SMK/MA dan Paket C
untuk hari pertama melaksanakan tes Literasi selama 90 menit dan survey
karakter 30 menit dan hari kedua peserta didik melaksanakan tes Numerasi selama
90 menit dan suvey lingkungan 30 menit.
Assesmen
Kompetensi Minimum (AKM) terdiri dari dua komponen yaitu:
1. Literasi Membaca
Literasi
membaca adalah kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, merefleksikan bentuk
bentuk teks yang dibutuhkan oleh masyarakat dan/atau dihargai oleh individu.
Pembaca dapat membangun makna dari teks dalam berbagai bentuk. Mereka membaca untuk
mengembangkan pengetahuan dan potensi untuk berpartisipasi dalam masyarakat
sebagai warga Negara Indonesia dan dunia. Pada komponen literasi membaca konten
yang disajikan berupa teks informasi dan teks sastra. Kompetensi yang
diharapkan dalam komponen literasi ini peserta didik dapat menemukan informasi,
menginterprestasi dan mengintegrasi isi teks serta melakukan evaluasi dan
refleksi dari teks yang sudah disediakan. Teks tersebut menyajikan
masalah-masalah nyata yang bersifat personal maupun masalah sosial budaya dan
saintifik.
2. Numerasi
Numerasi
adalah kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat
matematika untuk menyelesaiakan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks
yang relevan untuk individu sebagai warga Negara Indonesia dan warga Negara
dunia. Konten numerasi terdiri dari Bilangan, Pengukuran dan geometri, Data dan
Ketidakpastian serta aljabar. Melalui konten tersebut siswa diharapkan mampu
memiliki kompetensi memahami, mengaplikasi dan bernalar dalam memecahkan
masalah yang disajikan. Konteks numerasi menyajikan masalah personal yang
berfokus pada aktivitas seseorang, keluarganya atau kelompoknya, masalah
saintifik yang berkaitan dengan sains dan teknologi serta masalah sosial budaya
yang berkaiatan tentang masalah komunitas atau masyarakat lokal atau global.
Bentuk soal AKM ada 5 jenis yaitu objektif pilihan ganda (hanya satu jawaban benar), pilihan ganda kompleks (jawaban benar lebih dari satu), menjodohkan dan isian singkat (angka, nama/benda yang sudah fixed) serta Soal Non Objektif Essay.
Sumber :
Pusat Assesmen Pembelajaran
AKM Nasional tidak melaporkan ditingkat individu peserta didik namun kepada satuan pendidikan agar dijadikan sebagai acuan perbaikan kualitas pembelajaran satuan pendidikan. Oleh karena itu AKM Nasional tidak dijadikan patokan kelulusan di tingkat SD sampai SMA/SMK, namun diseperti yang sudah dijelaskan diatas bagi siswa Paket Kesetaraan, AKM menjadi salah satu syarat kelulusan. Diagnosa hasil belajar setiap peserta didik dapat dilakukan oleh guru melalui AKM kelas. Hasil AKM kelas digunakan untuk merancang pembelajaran yang menyesuaikan tingkat kompetensi peserta didik (teaching at the right level). AKM kelas bebas diakses oleh guru di semua sekolah.
Demikianlah hasil perkenalan kami dengan AKM dan semoga kita semakin giat dalam melakukan pembiasaan literasi kepada peserta didik agar mereka mampu menyelesaikan soal AKM dengan baik sebagai potret kualitas pembelajaran di satuan pendidikan kita.