Pesan Rhenald Kasali di Webinar PGRI

Penulis: Dudung Nurullah Koswara

Dibaca: 193 kali

Dudung Nurullah Koswara

Oleh Dudung Nurullah Koswara

(Ketua Pengurus Besar PGRI/Komunitas Cinta Indonesia/KACI #PASTI BISA#)

 

Prof. Rhenald Kasali mengatakan, “Kita adalah makhluk terbaik yang Tuhan ciptakan. Seseorang akan menjadi pribadi yang mahir dan ahli karena belajar dan karena terlatih dengan waktu yang panjang. Begitu pun anak didik, Ia harus dilibatkan dalam proses belajar yang membuat mereka menjadi mahir.

Selanjutnya Ia mengatakan, “Kalau anak didik hari ini dididik dengan cara lama, kelak anak mau jadi apa?” Ia pun menjelaskan ada pola berbeda antara pendidikan di bangsa lain dengan bangsa kita. Sejak kecil anak kita dibedong, dibungkus atau diikat dengan kain khusus. Kemudian biasa digendong dan dituntun.

Proses bedong, gendong dan dituntun di sisi lain kontraproduktif dalam tumbuh kembang potensi anak. Bagaikan burung yang sayapnya sering diikat, Ia akan kesulitan untuk terbang. Kita orangtua dan guru terkadang terlalu takut anak menjadi kotor, jatuh, tergores atau terluka. Padahal pengalaman kotor, terjatuh dan bahkan terluka adalah sebuah proses merasa.

Bahkan sebuah pola pendidikan di Jepang lebih menghargai anak didik patah tulang karena belajar dibanding patah mental karena gagal belajar. Tulang anak didik masih bisa tumbuh dengan baik. Patah mental dan gagal karakter bagaimana cara menyembuhkannya. Ambil risiko hari ini daripada gagal hidup pada masa depan.

Apa yang disampaikan oleh Prof. Rhenald dalam bahasa Sunda ada yang disebut “Nyaah Dulang”. Makna nyaah dulang adalah sebuah pendekatan pendidikan pada anak yang penuh kasih sayang tetapi salah porsi. Hal ini akan berdampak pada lahirnya anak manja. Anak manja yang tidak bisa mandiri. Kalau diibaratkan seekor burung, ibarat burung yang sayapnya tidak mengembang, tak dapat terbang.

Mendidik anak menurut Prof. Rhenald sebaiknya mampu membangkitkan potensi terpendam Sang Anak. Sebaiknya saat anak belajar menghitung, Ia pun mendapatkan imajinasi, mendapatkan peran dan ada unsur belajar kerja sama. Ia secara afektif, pikomotor dan kognitifnya harus bertumbuh. Anak yang pendidikannya baik akan mandiri dan tangguh.

Anak yang gagal dalam proses pendidikannya akan mudah menebar hoaks, berani kalau bergerombol, bertengkar sesama bangsa, mudah menebar kebencian dan hujatan. Pendidikan harus melahirkan generasi pemenang bukan malah melahirkan pecundang. Generasi pemenang tak pernah berhenti belajar. Generasi pecundang adalah mereka yang berhenti.

Pendidikan yang baik menurut Prof. Rhenald akan menghasilkan generasi yang punya mental tangguh dan adaptif. Sehingga saat ada ketidakpastian dan kesulitan menghadang, misal seperti wabah Covid-19. Maka generasi terbaik punya mental “Sulit Tapi Bisa, Bukan Bisa Tapi Sulit”. Generasi terbaik akan berending bisa! Bukan berending sulit!

Pesan Prof. Rhenald selalu menekankan pentingnya kita (guru) mendidik anak dengan materi pengetahuan dan keahlian yang akan mereka perlukan pada masa depan. Bahkan kita para guru harus menjadi futurolog. Apa yang akan terjadi pada masa depan. Bila kita gelap dari masa depan maka anak akan jadi korban.

Para guru pun harus menangkap prediksi Prof. Rhenald yang mengatakan, “Di kota akan terjadi pengurangan tenaga kerja kaum muda karena teknologi. Desa memiliki tiga keunggulan strategis yakni udara bersih, air bersih, dan pangan sehat. Jika dikelola dengan baik bakal menentukan nasib bangsa ini ke depan.”

Ayo para guru kita terus belajar. Sebuah pepatah mengatakan, “Bila guru berhenti belajar maka Ia pun hakikatnya telah berhenti menjadi guru”. Sejumlah orang boleh berhenti belajar, tapi bagi para guru “terlarang”. Guru dengan belajar bagaikan raga dengan napasnya. Termasuk saat wabah Covid-19 guru tetap berdaring, belajar dalam jaringan!

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Cerutu

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...