Penulis: Dudung Nurullah Koswara

Dudung Nurullah Koswara
Oleh Dudung Nurullah Koswara
(Ketua Pengurus Besar PGRI/Komunitas Cinta Indonesia/KACI #PASTI BISA#)
Prof. Rhenald Kasali mengatakan, “Kita
adalah makhluk terbaik
yang Tuhan ciptakan.” Seseorang akan menjadi pribadi yang mahir
dan ahli karena belajar dan karena terlatih dengan waktu yang panjang. Begitu
pun anak didik, Ia harus dilibatkan dalam proses belajar yang membuat mereka
menjadi mahir.
Selanjutnya Ia mengatakan, “Kalau anak didik hari ini
dididik dengan cara lama, kelak anak mau jadi
apa?” Ia pun menjelaskan ada pola berbeda
antara pendidikan di bangsa lain dengan bangsa kita. Sejak kecil anak kita
dibedong, dibungkus atau diikat dengan kain khusus. Kemudian biasa digendong
dan dituntun.
Proses bedong, gendong
dan dituntun di sisi lain kontraproduktif dalam
tumbuh kembang potensi anak. Bagaikan burung yang
sayapnya sering diikat, Ia akan kesulitan untuk terbang. Kita orangtua dan guru
terkadang terlalu takut anak menjadi kotor, jatuh, tergores atau terluka.
Padahal pengalaman kotor, terjatuh dan bahkan terluka adalah sebuah proses merasa.
Bahkan sebuah pola pendidikan di Jepang lebih
menghargai anak didik patah tulang karena belajar dibanding patah mental karena
gagal belajar. Tulang anak didik masih bisa tumbuh dengan baik. Patah mental
dan gagal karakter bagaimana cara menyembuhkannya. Ambil risiko hari ini
daripada gagal hidup pada masa depan.
Apa yang disampaikan oleh Prof. Rhenald
dalam bahasa Sunda ada yang disebut “Nyaah Dulang”.
Makna nyaah dulang adalah sebuah
pendekatan pendidikan pada anak yang penuh kasih sayang
tetapi salah porsi. Hal ini akan berdampak
pada lahirnya anak manja. Anak manja yang tidak bisa mandiri. Kalau diibaratkan seekor
burung, ibarat burung yang sayapnya tidak mengembang, tak dapat terbang.
Mendidik anak menurut Prof. Rhenald sebaiknya mampu
membangkitkan potensi terpendam Sang Anak. Sebaiknya saat anak belajar
menghitung, Ia pun mendapatkan imajinasi, mendapatkan peran dan ada unsur
belajar kerja sama. Ia secara afektif,
pikomotor dan kognitifnya harus bertumbuh. Anak yang pendidikannya baik akan
mandiri dan tangguh.
Anak yang gagal dalam proses pendidikannya akan mudah
menebar hoaks, berani kalau bergerombol, bertengkar sesama
bangsa, mudah menebar kebencian dan hujatan. Pendidikan harus melahirkan
generasi pemenang bukan malah melahirkan pecundang. Generasi pemenang tak
pernah berhenti belajar. Generasi pecundang adalah mereka yang berhenti.
Pendidikan yang baik menurut Prof. Rhenald akan
menghasilkan generasi yang punya mental tangguh dan
adaptif. Sehingga saat ada ketidakpastian dan kesulitan menghadang, misal
seperti wabah Covid-19. Maka generasi terbaik punya mental “Sulit Tapi Bisa,
Bukan Bisa Tapi Sulit”. Generasi terbaik akan berending bisa! Bukan berending
sulit!
Pesan Prof. Rhenald selalu menekankan pentingnya kita
(guru) mendidik anak dengan materi pengetahuan dan keahlian yang akan mereka
perlukan pada masa depan. Bahkan kita para guru harus menjadi futurolog. Apa yang akan terjadi pada masa depan. Bila kita gelap dari masa depan maka anak akan jadi korban.
Para guru pun harus menangkap prediksi Prof. Rhenald
yang mengatakan, “Di kota akan terjadi pengurangan tenaga
kerja kaum muda karena teknologi. Desa memiliki tiga keunggulan strategis yakni udara bersih, air bersih,
dan pangan sehat. Jika dikelola dengan baik bakal menentukan nasib bangsa ini
ke depan.”
Ayo para guru kita terus belajar. Sebuah pepatah
mengatakan, “Bila guru berhenti belajar maka Ia pun hakikatnya telah berhenti menjadi guru”. Sejumlah orang
boleh berhenti belajar, tapi bagi para guru “terlarang”. Guru dengan belajar
bagaikan raga dengan napasnya. Termasuk saat wabah
Covid-19 guru tetap berdaring, belajar dalam jaringan!