Penulis: Rakhmi Ifada, S.Ag., M.Pd.I.

Rakhmi Ifada, S.Ag., M.Pd.I.
Oleh Rakhmi Ifada, S.Ag., M.Pd.I.
(Pengawas PAI
Kabupaten Bogor)
"Barang siapa
menjaga Alqur'an, Allah pasti akan menjaganya".
Sebaik-baik
manusia adalah yang belajar Alqur'an dan mengamalkannya. Penting bagi seorang
penghafal Alqur'an menerapkan metode ziyadah dan muraja'ah dalam mengamalkan
isi Alqur'an untuk menjaga hafalan. Ziyadah adalah menambah hafalan Alqur'an,
sedangkan muraja'ah adalah mengulang hafalannya. Kedua istilah ini sering
digunakan dalam menghafal dan mengkaji Alqur'an.
Ziyadah artinya
penambahan. Ziyadah merupakan salah satu metode menghafal Al qur'an dan
memungkinkan penambahan materi ayat baru ke dalam memori para penghafal Al
qur'an.
Muraja'ah berarti
menjaga atau mengulang hafalan. Muraja'ah merupakan salah satu metode menghafal
Alqur'an. Muraja'ah memastikan bahwa apa yang telah dihafal tetap kokoh dan
tidak terlupakan sepanjang masa.
Ziyadah dan
muraja'ah itu saling melengkapi dalam siklus belajar Alqur'an setiap harinya.
Idealnya, sesi ziyadah diikuti oleh periode muraja'ah yang intensif dan
berkelanjutan.
Menghafal Alqur'an
memiliki banyak keutamaan, yaitu akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di
hadapan Allah, melatih disiplin, menenangkan hati mengasah daya ingat,
konsentrasi, dan kemampuan berpikir dalam menghafal Alqur'an.
Berikut adalah
beberapa hal bijaksana yang dapat diambil dari hadits tentang pentingnya
menghafal Alqur'an, yaitu:
Pertama, hafalan
Alqur’an adalah anugerah yang mulia. Menghafal Alqur’an merupakan bukti
kecintaan kita kepada Allah Swt dan Kitab suci-Nya. Menjaganya adalah bentuk
rasa syukur dan tanggung jawab kepada Allah Swt.
Kedua, membaca dan
mengulang-ulang bacaan hafalan secara rutin adalah kunci utama. Semakin sering
kita membaca dan mengulang hafalan, semakin kuat ingatan kita terhadap
ayat-ayat Alqur’an yang dihafal.
Ketiga, menjaga
hafalan membutuhkan kontinuitas, dedikasi dan keteguhan. Tidak mudah untuk
selalu konsisten dalam membaca dan mengulang hafalan. Diperlukan tekad yang
kuat dan keteguhan iman untuk menjaganya.
Keempat, menjaga
hafalan Alqur’an bukan hanya tentang kuantitas, tetapi juga kualitas. Bukan
hanya seberapa banyak ayat yang dihafal, tetapi juga seberapa baik pemahaman
dan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kelima, menjaga
hafalan Alqur’an adalah amal jariyah yang pahalanya berlipat ganda dan terus
menerus. Setiap huruf Al-Qur’an yang dihafal dan dijaga akan menjadi syafaat /
penolong bagi penghafalnya di akhirat kelak.
Dalam mengejar
cita-cita mulia menghafal Alqur'an harus dilakukan dengan penuh semangat dan
dedikasi. Dalam lingkungan yang mendukung ini, ziyadah dan muraja’ah menjadi
dua konsep penting yang diadopsi untuk memastikan bahwa setiap kata Alqur'an
tidak hanya dihafal tetapi juga dipahami dan dipertahankan dengan baik.
Ziyadah dalam
konteks penghafalan Alqur'an merujuk pada proses menambah hafalan baru. Ini
adalah fase di mana seorang hafiz atau hafizah penghafal Alqur'an berjibaku
belajar giat mempelajari ayat-ayat baru untuk ditambahkan ke dalam hafalan yang
sudah ada. Ziyadah adalah tentang pertumbuhan dan ekspansi, ini adalah fase di
mana hafalan berlangsung dan pengetahuan Alqur'an diperluas. Setiap proses
ziyadah biasanya diikuti dengan latihan intensif untuk memastikan bahwa ayat
baru tersebut benar-benar terhafal dengan baik dan benar.
Pentingnya
muraja'ah dalam menghafal Alqur'an harus terus menerus dilakukan. Muraja’ah
adalah proses mengulang dan merevisi hafalan Al-Quran yang sudah ada. Artinya
secara harfiah adalah kembali berulang-ulang. Tekun diulang. Ini adalah teknik
yang digunakan oleh para hafiz penjaga Alqur'an untuk memelihara dan memperkuat
hafalan yang telah mereka capai. Melalui murajaah, hafalan Alqur'an harus
dipertahankan dan kesalahan yang mungkin telah terjadi selama proses ziyadah
dapat diperbaiki. Proses ini memastikan bahwa hafalan tetap segar dan akurat
dalam ingatan tidak terlupakan selama jangka panjang.
Dari Abu Musa
radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Hafalkanlah (dan rutinkanlah) membaca Alqur’an. Demi yang jiwa Muhammad berada
di tangan-Nya, Alqur’an itu lebih mudah lepas daripada unta yang lepas dari
ikatannya.” (Muttafaqun ‘Alaih).
Hadits di atas
bertujuan supaya kita menjadi rajin menjaga hafalan dengan membacanya dengan
rutin dan terjaga dengan baik. Jika terus mengulangi hafalan dengan rutin
membaca, maka hafalan akan terus menancap dalam hati karena hafalan Alqur’an
itu cepat lebih lepas daripada ikatan unta. Hadits ini mengandung pesan
mendalam tentang pentingnya menjaga hafalan Alqur’an. Ibarat unta yang perlu
diikat dan dirawat, hafalan Alqur’an pun membutuhkan usaha dan komitmen untuk
menjaganya.
Berikut beberapa
hal bijaksana yang dapat diambil dari hadits di atas adalah
Pertama, hafalan
Alqur’an adalah anugerah yang mulia dan harus terus diperjuangkan. Menghafal
Alqur’an merupakan bukti kecintaan kita kepada Allah SWT dan Kitab SuciNya.
Menjaganya adalah bentuk rasa syukur dan tanggung jawab kepadaNya.
Kedua, membaca dan
mengulang hafalan Alqur'an secara rutin adalah kunci utama. Semakin sering kita
membaca dan mengulang hafalan, semakin kuat ingatan kita terhadap ayat-ayat
Alqur’an yang dihafal.
Ketiga, menjaga
hafalan membutuhkan rutinitas, dedikasi dan keteguhan. Tidak mudah untuk selalu
konsisten dalam membaca dan mengulang hafalan. Diperlukan tekad yang kuat dan
keteguhan iman untuk menjaganya.
Ke empat, dengan
menjaga hafalan Al qur’an bukan hanya tentang kuantitas, tetapi juga kualitas.
Bukan hanya seberapa banyak ayat yang dihafal, tetapi juga seberapa baik
pemahaman dan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari yang dilaluinya.
Ke lima, menjaga
hafalan Al qur’an adalah amal jariyah yang pahalanya berlipat ganda. Setiap
huruf Al qur’an yang dihafal dan dijaga akan menjadi syafaat/penolong bagi
penghafalnya di akhirat kelak.
Pentingnya ziyadah
dan muraja'ah itu saling melengkapi dalam siklus belajar dan menghafal Al
quran. Sementara ziyadah memungkinkan penambahan materi baru ke dalam memori,
muraja’ah memastikan bahwa apa yang telah dihafal tetap kokoh dan tidak
terlupakan. Idealnya, setelah ziyadah harus selalu diikuti oleh periode
muraja’ah yang intensif. Hal ini membantu meminimalisir kehilangan informasi
dan memperkuat hafalan sebelum ayat baru ditambahkan. Oleh karenanya,
keseimbangan antara kedua proses ini sangat penting dalam memastikan
keberhasilan dalam menghafal Alquran.
Dengan pendekatan
ziyadah dan muraja’ah dalam menghafal Alqur'an akan menawarkan beberapa manfaat
yang luar biasa karena kemampuan hafalan yang lebih kuat. Dengan sistematisasi
hafalan membantu dalam memperkuat memori dan mengurangi kemungkinan lupa
hafalan Alqur'an.
Keakuratan dan
kualitas terjaga, karena muraja’ah yang rutin memungkinkan penghafal untuk
memperbaiki kesalahan dan memahami makna lebih dalam dari ayat-ayat yang
dihafalnya.
Fleksibilitas
dalam Pembelajaran sangat diperlukan dengan ziyadah, penghafal Alqur'an dapat
terus bertumbuh dalam pengetahuan mereka, sementara muraja’ah memberi mereka
kepercayaan bahwa hafalan Alqur'an semakin kuat dan menancap tertanam di dalam
hati.
Meskipun manfaatnya
banyak sekali, proses ziyadah dan muraja’ah bisa menantang. Beberapa
hafizh/penjaga Alqur'an mungkin merasa sulit untuk mengatur waktu antara
mempelajari ayat baru dan mengulangi yang lama. Cara efektifnya adalah
menggunakan jadwal yang baik diatur dengan selalu menyeimbangkan kedua
aktivitas ini.
Selalu menjaga
hafalan dan muraja'ah dengan menggunakan berbagai metode belajar, misalnya
bertadarus dengan waktu yang tepat, mendengarkan rekaman ayat, membaca dengan
lantang, dan mengulang dalam shalat, mengulang-ulang belajar dengan teman dapat
membantu memperkuat hafalan. Isilah hari-hari dengan membaca dan menghafal
Alqur'an dalam pengaturan waktu yang tepat dan kontinuitas setiap harinya
menghiasi dengan bacaan Alqur'an.
Jadikan tiada hari
tanpa membaca dan bertadarus Alqur'an. Mengamalkan Alqur'an dan menjaganya
setiap saat. Kelak di akhirat Alqur'an yang akan menolong dan menjagamu.
Bogor, 21 Januari
2025