Strategi Menghafal Alqur'an dengan Ziyadah dan Muraja’ah (Cara Praktis Menjaga Alqur'an )

Penulis: Rakhmi Ifada, S.Ag., M.Pd.I.

Dibaca: 560 kali

Rakhmi Ifada, S.Ag., M.Pd.I.

Oleh Rakhmi Ifada, S.Ag., M.Pd.I.

(Pengawas PAI Kabupaten Bogor)

 

"Barang siapa menjaga Alqur'an, Allah pasti akan menjaganya".

Sebaik-baik manusia adalah yang belajar Alqur'an dan mengamalkannya. Penting bagi seorang penghafal Alqur'an menerapkan metode ziyadah dan muraja'ah dalam mengamalkan isi Alqur'an untuk menjaga hafalan. Ziyadah adalah menambah hafalan Alqur'an, sedangkan muraja'ah adalah mengulang hafalannya. Kedua istilah ini sering digunakan dalam menghafal dan mengkaji Alqur'an.

Ziyadah artinya penambahan. Ziyadah merupakan salah satu metode menghafal Al qur'an dan memungkinkan penambahan materi ayat baru ke dalam memori para penghafal Al qur'an.

Muraja'ah berarti menjaga atau mengulang hafalan. Muraja'ah merupakan salah satu metode menghafal Alqur'an. Muraja'ah memastikan bahwa apa yang telah dihafal tetap kokoh dan tidak terlupakan sepanjang masa.

Ziyadah dan muraja'ah itu saling melengkapi dalam siklus belajar Alqur'an setiap harinya. Idealnya, sesi ziyadah diikuti oleh periode muraja'ah yang intensif dan berkelanjutan.

Menghafal Alqur'an memiliki banyak keutamaan, yaitu akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di hadapan Allah, melatih disiplin, menenangkan hati mengasah daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan berpikir dalam menghafal Alqur'an.

Berikut adalah beberapa hal bijaksana yang dapat diambil dari hadits tentang pentingnya menghafal Alqur'an, yaitu:

Pertama, hafalan Alqur’an adalah anugerah yang mulia. Menghafal Alqur’an merupakan bukti kecintaan kita kepada Allah Swt dan Kitab suci-Nya. Menjaganya adalah bentuk rasa syukur dan tanggung jawab kepada Allah Swt.

Kedua, membaca dan mengulang-ulang bacaan hafalan secara rutin adalah kunci utama. Semakin sering kita membaca dan mengulang hafalan, semakin kuat ingatan kita terhadap ayat-ayat Alqur’an yang dihafal.

Ketiga, menjaga hafalan membutuhkan kontinuitas, dedikasi dan keteguhan. Tidak mudah untuk selalu konsisten dalam membaca dan mengulang hafalan. Diperlukan tekad yang kuat dan keteguhan iman untuk menjaganya.

Keempat, menjaga hafalan Alqur’an bukan hanya tentang kuantitas, tetapi juga kualitas. Bukan hanya seberapa banyak ayat yang dihafal, tetapi juga seberapa baik pemahaman dan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kelima, menjaga hafalan Alqur’an adalah amal jariyah yang pahalanya berlipat ganda dan terus menerus. Setiap huruf Al-Qur’an yang dihafal dan dijaga akan menjadi syafaat / penolong bagi penghafalnya di akhirat kelak.

Dalam mengejar cita-cita mulia menghafal Alqur'an harus dilakukan dengan penuh semangat dan dedikasi. Dalam lingkungan yang mendukung ini, ziyadah dan muraja’ah menjadi dua konsep penting yang diadopsi untuk memastikan bahwa setiap kata Alqur'an tidak hanya dihafal tetapi juga dipahami dan dipertahankan dengan baik.

Ziyadah dalam konteks penghafalan Alqur'an merujuk pada proses menambah hafalan baru. Ini adalah fase di mana seorang hafiz atau hafizah penghafal Alqur'an berjibaku belajar giat mempelajari ayat-ayat baru untuk ditambahkan ke dalam hafalan yang sudah ada. Ziyadah adalah tentang pertumbuhan dan ekspansi, ini adalah fase di mana hafalan berlangsung dan pengetahuan Alqur'an diperluas. Setiap proses ziyadah biasanya diikuti dengan latihan intensif untuk memastikan bahwa ayat baru tersebut benar-benar terhafal dengan baik dan benar.

Pentingnya muraja'ah dalam menghafal Alqur'an harus terus menerus dilakukan. Muraja’ah adalah proses mengulang dan merevisi hafalan Al-Quran yang sudah ada. Artinya secara harfiah adalah kembali berulang-ulang. Tekun diulang. Ini adalah teknik yang digunakan oleh para hafiz penjaga Alqur'an untuk memelihara dan memperkuat hafalan yang telah mereka capai. Melalui murajaah, hafalan Alqur'an harus dipertahankan dan kesalahan yang mungkin telah terjadi selama proses ziyadah dapat diperbaiki. Proses ini memastikan bahwa hafalan tetap segar dan akurat dalam ingatan tidak terlupakan selama jangka panjang.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Hafalkanlah (dan rutinkanlah) membaca Alqur’an. Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, Alqur’an itu lebih mudah lepas daripada unta yang lepas dari ikatannya.” (Muttafaqun ‘Alaih).

Hadits di atas bertujuan supaya kita menjadi rajin menjaga hafalan dengan membacanya dengan rutin dan terjaga dengan baik. Jika terus mengulangi hafalan dengan rutin membaca, maka hafalan akan terus menancap dalam hati karena hafalan Alqur’an itu cepat lebih lepas daripada ikatan unta. Hadits ini mengandung pesan mendalam tentang pentingnya menjaga hafalan Alqur’an. Ibarat unta yang perlu diikat dan dirawat, hafalan Alqur’an pun membutuhkan usaha dan komitmen untuk menjaganya.

Berikut beberapa hal bijaksana yang dapat diambil dari hadits di atas adalah

Pertama, hafalan Alqur’an adalah anugerah yang mulia dan harus terus diperjuangkan. Menghafal Alqur’an merupakan bukti kecintaan kita kepada Allah SWT dan Kitab SuciNya. Menjaganya adalah bentuk rasa syukur dan tanggung jawab kepadaNya.

Kedua, membaca dan mengulang hafalan Alqur'an secara rutin adalah kunci utama. Semakin sering kita membaca dan mengulang hafalan, semakin kuat ingatan kita terhadap ayat-ayat Alqur’an yang dihafal.

Ketiga, menjaga hafalan membutuhkan rutinitas, dedikasi dan keteguhan. Tidak mudah untuk selalu konsisten dalam membaca dan mengulang hafalan. Diperlukan tekad yang kuat dan keteguhan iman untuk menjaganya.

Ke empat, dengan menjaga hafalan Al qur’an bukan hanya tentang kuantitas, tetapi juga kualitas. Bukan hanya seberapa banyak ayat yang dihafal, tetapi juga seberapa baik pemahaman dan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari yang dilaluinya.

Ke lima, menjaga hafalan Al qur’an adalah amal jariyah yang pahalanya berlipat ganda. Setiap huruf Al qur’an yang dihafal dan dijaga akan menjadi syafaat/penolong bagi penghafalnya di akhirat kelak.

Pentingnya ziyadah dan muraja'ah itu saling melengkapi dalam siklus belajar dan menghafal Al quran. Sementara ziyadah memungkinkan penambahan materi baru ke dalam memori, muraja’ah memastikan bahwa apa yang telah dihafal tetap kokoh dan tidak terlupakan. Idealnya, setelah ziyadah harus selalu diikuti oleh periode muraja’ah yang intensif. Hal ini membantu meminimalisir kehilangan informasi dan memperkuat hafalan sebelum ayat baru ditambahkan. Oleh karenanya, keseimbangan antara kedua proses ini sangat penting dalam memastikan keberhasilan dalam menghafal Alquran.

Dengan pendekatan ziyadah dan muraja’ah dalam menghafal Alqur'an akan menawarkan beberapa manfaat yang luar biasa karena kemampuan hafalan yang lebih kuat. Dengan sistematisasi hafalan membantu dalam memperkuat memori dan mengurangi kemungkinan lupa hafalan Alqur'an.

Keakuratan dan kualitas terjaga, karena muraja’ah yang rutin memungkinkan penghafal untuk memperbaiki kesalahan dan memahami makna lebih dalam dari ayat-ayat yang dihafalnya.

Fleksibilitas dalam Pembelajaran sangat diperlukan dengan ziyadah, penghafal Alqur'an dapat terus bertumbuh dalam pengetahuan mereka, sementara muraja’ah memberi mereka kepercayaan bahwa hafalan Alqur'an semakin kuat dan menancap tertanam di dalam hati.

Meskipun manfaatnya banyak sekali, proses ziyadah dan muraja’ah bisa menantang. Beberapa hafizh/penjaga Alqur'an mungkin merasa sulit untuk mengatur waktu antara mempelajari ayat baru dan mengulangi yang lama. Cara efektifnya adalah menggunakan jadwal yang baik diatur dengan selalu menyeimbangkan kedua aktivitas ini.

Selalu menjaga hafalan dan muraja'ah dengan menggunakan berbagai metode belajar, misalnya bertadarus dengan waktu yang tepat, mendengarkan rekaman ayat, membaca dengan lantang, dan mengulang dalam shalat, mengulang-ulang belajar dengan teman dapat membantu memperkuat hafalan. Isilah hari-hari dengan membaca dan menghafal Alqur'an dalam pengaturan waktu yang tepat dan kontinuitas setiap harinya menghiasi dengan bacaan Alqur'an.

Jadikan tiada hari tanpa membaca dan bertadarus Alqur'an. Mengamalkan Alqur'an dan menjaganya setiap saat. Kelak di akhirat Alqur'an yang akan menolong dan menjagamu.

Bogor, 21 Januari 2025

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Cerutu

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...