“MENGETUK PINTU TAUBAT DI BULAN RAMADAN”

Penulis Neng Ati Indriati

Dibaca: 339 kali

Neng Ati Indriati

Oleh Neng Ati Indriati

(Guru Ekonomi SMAN 1 Sukadana)

 

Ramadhan merupakan suatu momen super khusus disediakan Alloh SWT kepada kaum muslimin. Dikatakan demikian karena bulan Ramadhan memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki bulan lainnya. Alloh menyediakan berbagai keutamaan bagi orang-orang yang memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan. Inilah rahmat dan nikmat Allloh SWT yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang memanfaatkan moment ini dengan memperbanyak ibadah.

Ramadhan adalah bulan di mana syetan dibelenggu, hawa nafsu dikendalikan dengan puasa, pintu-pintu neraka ditutup dan pintu-pintu surga dibuka. Sehingga bulan Ramadhan bagi kita umat Islam adalah bulan yang sangat kondusif untuk beramal shaleh, untuk bertaubat dan memulai hidup baru dengan langkah baru yang lebih baik.

Taubat berarti meninggalkan kemaksiatan, dosa dan kesalahan serta kembali kepada kebenaran. Atau kembalinya hamba kepada Allah subhanahu wata'ala, meninggalkan jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat. Taubat bukan hanya terkait dengan meninggalkan kemaksiatan, tetapi juga terkait dengan pelaksanaan perintah Allah subhanahu wata'ala. Orang yang bertaubat masuk kelompok yang beruntung. Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam Al-Qur'an surat An-Nur ayat 31: yang artimya "Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung”.

Oleh karena itu, di bulan Ramadhan orang-orang beriman harus memperbanyak istighfar dan taubat kepada Allah subhanahu wata'ala. Mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada sesama manusia yang dizhaliminya serta mengembalikan hak-hak mereka. Taubat dan istighfar menjadi syarat utama untuk mendapat maghfirah (ampunan), rahmat dan karunia Allah subhanahu wata'ala. Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam Al-Qur'an surat Hud ayat 52, Artinya: Dan (Hud berkata), “Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.” 

Roda kehidupan terus bergulir. Tak lelah berputar hingga menodakan jiwa yang suci. Ia terus bermetamorfosis, berdinamika, dam mengalir menelusuri banyak perubahan yang kerap tak terduga-duga. Seorang insan yang mulia dapat saja terpuruk ke dalam jurang kenistaan, tenggelam dalam derasnya arus kemaksiatan, terombang ambingkan oleh kenikmatan semu, bagai hujan tanpa mendung, lalu tiba-tiba saja menjadi sosok yang liar tanpa dapat diprediksi.

Mengetuk Pintu Taubat

Ketika manusia telah ditunggangi hawa napsu dan terjatuh dalam gelapnya kabut maksiat, maka tidak ada lagi alasan baginya untuk mengelak dengan dalih takdir. Karena saat itulah Allah SWT memerintah untuk bertaubat. Karena itulah jalan terbaik.

Perkara taubat adalah perkara klasik. Namun, layaknya sebuah barang antik, semakin ia usang semakin ia dicari. Begitulah taubat sering diperbincangkan dan dimaknai. Ekpresi dan cara orang meraihnya pun amat beragam dari masa ke masa. Ada yang menyendiri, meratapi diri, menangisi dan mengakui segala dosa kepada Allah SWT, dikeheningan malam.

Ada pula dengan cara berkelompok, istighfar bersama-sama, menyebut asma Allah seraya meminta belas ampunan-Nya dari satu mesjid ke mesjid lainnya.  Mereka ingin kembali suci dari noda, sebab pada intinya mereka sangat paham bahwa fitrah dasar dari mereka itu baik dan bersih.

Demikianlah hakikatnya sebuah pertaubatan. Bukankah kata taubat (at Taubah) diambil dari kata Taaba dalam bahasa arab yang berarti kembali. Artinya ketika seseorang telah bertaubat  maka seseorang itu telah kembali ke jalan yang lurus setelah salama ini masuk dalam lingkaran maksiat dan dosa. Ia menjadi manusia baru lagi. Manusia yang berharap mendapat ridha dan ampunan-Nya.

Pada titik inilah, kiranya Allah SWT menyari’atkan taubat dalam hidup hamba-Nya. Karena ia telah mengetahui bahwa mahluk ciptaan-Nya yang bernama manusia kelak setelah menghuni bumi itu bakal terlibat dalam gelimang maksiat, kerusakan dan kesalahan yang sering disebut sebut sebagai dosa. Allah sodorkan taubat kepada umat manusia sebagai sarana untuk mengharap rahmat-Nya hingga manusia tidak putus asa akan anugrah ampunan-Nya.

Sebaliknya, bayangkan bila Allah SWT tidak menyari’atkan taubat, maka kezaliman pun akan merejalela. Kenapa? Sebab jika seseorang itu melakukan perbuatan maksiat dan ia tahu kalau tindakannya itu tidak akan mendapat ampunan, maka orang itu akan bertambah melakukan maksiat dan kejahatan. Karena, memang tidak ada gunanya lagi melakukan amal soleh. Dan apabila manusia yang melakukan maksiatnya itu kian bertambah maka penderitaan pun akan menimpa seluruh masyarakat. Sebab, perbuatan maksiat itu merupakan pelanggaran atas mahluk Allah SWT dan hak-hak mereka. Hal ini menjunjukkan bahwa persyari’atan taubat menjadi hal yang sangat diperhitungkan-Nya. Saking bermaknanya taubat ada satu surat yang dinamakan surah At Taubah. Belum lagi ayat-ayat pada surat lain yang juga acapkali menyebut-nyebut taubat.

Misalnya ayat ini: Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Al Ma’idah :39).

Manusia selalu mendapat kesempatan untuk  memasuki pintu taubat berkali-kali. Sebanyak apa pun atau sesering apapun  dia mengulang-ngulang dosa yang sama, maka  Allah azza wa jalla selalu memberi kesempatan kepadanya untuk terus mengetuk pintu Taubat-Nya.

Menguak Tabir Taubat

Setelah mengetahui taubat satu satunya jalan bertabur keselamatan, saat jiwa nyaris terperosok dalam jurang kesengsaraan, maka sudah selayaknya seorang hamba mengetahui hakikat taubat.

Secara syar’i  taubat artinya meninggalkan dosa karena mengetahui keburukannya, menyesali telah melakukannnya dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya kembali ketika ada kemampuan  untuk melakukannhya,  serta melaksanakan amalan-amalan yang pernah ditinggalkan.

Ketahuilah ada saatnya ketika taubat tidak akan bernilai di sisi Allla yaitu ketika nyawa telah berada di kerongkongan.

Taubat mestinya ikhlas dan jujur karena Allah SWT. Ia mesti disandingkan dengan cinta kepada Allah dan apa yang dicintai Allah, serta bersayapkan rasa harap akan pengampunan dan rasa takut akan balasan bagi para pelaku maksiat. Inilah tanda-tanda ketulusan yang akan mengetuk pintu taubat, sehingga ia akan terbuka dengan lebar.

Menapaki Tangga Pengampunan

Akhir kata, rawatlah jiwa untuk mengikhlaskan diri dan jujur dalam menapaki tangga taubat menuju ampunan yang Maha Pengampun. Ketuklah pintu taubat dengan dalamnya penyesalan akan dosa yang telah kita perbuat,  dengan kuatnya tekad untuk tidak kembali  tersungkur dalam gelapnya kabut maksiat dan dengan kecintaan kepada amalan yang telah lama ditinggalkan. Semoga Allah SWT menerima taubat kita, sehingga kita layaknya seorang yang tidak perbah mengenal dosa sama sekali. Aamiin

Biodata Penulis

Neng Ati Indriati, S.Pd, lahir di Ciamis, 3 Januari 1970. Saat ini mengampu mata pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 1 Sukadana. Pernah meraih juara 1 Guru Berperestasi Tingkat Kabupaten Ciamis tahun 2016 dan mendapat penghargaan sebagai ASN berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Barat pada tahap III pada tahun 2022. Selain itu, sebagai penggiat literasi di SMA Negeri 1 Sukadana

 

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Cerutu

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...