Penulis Neng Ati Indriati

Neng Ati Indriati
Oleh Neng Ati
Indriati
(Guru Ekonomi SMAN
1 Sukadana)
Ramadhan merupakan
suatu momen super khusus disediakan Alloh SWT kepada kaum muslimin. Dikatakan
demikian karena bulan Ramadhan memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki
bulan lainnya. Alloh menyediakan berbagai keutamaan bagi orang-orang yang
memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan. Inilah rahmat dan nikmat Allloh SWT yang
diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang memanfaatkan moment ini dengan memperbanyak
ibadah.
Ramadhan adalah
bulan di mana syetan dibelenggu, hawa nafsu dikendalikan dengan puasa,
pintu-pintu neraka ditutup dan pintu-pintu surga dibuka. Sehingga bulan
Ramadhan bagi kita umat Islam adalah bulan yang sangat kondusif untuk beramal
shaleh, untuk bertaubat dan memulai hidup baru dengan langkah baru yang lebih
baik.
Taubat
berarti meninggalkan kemaksiatan, dosa dan kesalahan serta kembali kepada
kebenaran. Atau kembalinya hamba kepada Allah subhanahu wata'ala, meninggalkan
jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat. Taubat bukan hanya
terkait dengan meninggalkan kemaksiatan, tetapi juga terkait dengan pelaksanaan
perintah Allah subhanahu wata'ala. Orang yang bertaubat masuk kelompok yang
beruntung. Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam Al-Qur'an surat An-Nur ayat
31: yang artimya "Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai
orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung”.
Oleh
karena itu, di bulan Ramadhan orang-orang beriman harus memperbanyak istighfar
dan taubat kepada Allah subhanahu wata'ala. Mengakui kesalahan dan meminta maaf
kepada sesama manusia yang dizhaliminya serta mengembalikan hak-hak mereka.
Taubat dan istighfar menjadi syarat utama untuk mendapat maghfirah (ampunan),
rahmat dan karunia Allah subhanahu wata'ala. Allah subhanahu wata'ala berfirman
dalam Al-Qur'an surat Hud ayat 52, Artinya: Dan (Hud berkata), “Wahai
kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya
Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas
kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.”
Roda kehidupan
terus bergulir. Tak lelah berputar hingga menodakan jiwa yang suci. Ia terus
bermetamorfosis, berdinamika, dam mengalir menelusuri banyak perubahan yang kerap
tak terduga-duga. Seorang insan yang mulia dapat saja terpuruk ke dalam jurang
kenistaan, tenggelam dalam derasnya arus kemaksiatan, terombang ambingkan oleh
kenikmatan semu, bagai hujan tanpa mendung, lalu tiba-tiba saja menjadi sosok
yang liar tanpa dapat diprediksi.
Mengetuk Pintu Taubat
Ketika manusia
telah ditunggangi hawa napsu dan terjatuh dalam gelapnya kabut maksiat, maka
tidak ada lagi alasan baginya untuk mengelak dengan dalih takdir. Karena saat
itulah Allah SWT memerintah untuk bertaubat. Karena itulah jalan terbaik.
Perkara taubat
adalah perkara klasik. Namun, layaknya sebuah barang antik, semakin ia usang
semakin ia dicari. Begitulah taubat sering diperbincangkan dan dimaknai.
Ekpresi dan cara orang meraihnya pun amat beragam dari masa ke masa. Ada yang
menyendiri, meratapi diri, menangisi dan mengakui segala dosa kepada Allah SWT,
dikeheningan malam.
Ada pula dengan
cara berkelompok, istighfar bersama-sama, menyebut asma Allah seraya meminta
belas ampunan-Nya dari satu mesjid ke mesjid lainnya. Mereka ingin kembali suci dari noda, sebab
pada intinya mereka sangat paham bahwa fitrah dasar dari mereka itu baik dan
bersih.
Demikianlah hakikatnya
sebuah pertaubatan. Bukankah kata taubat (at Taubah) diambil dari kata Taaba
dalam bahasa arab yang berarti kembali. Artinya ketika seseorang telah
bertaubat maka seseorang itu telah
kembali ke jalan yang lurus setelah salama ini masuk dalam lingkaran maksiat
dan dosa. Ia menjadi manusia baru lagi. Manusia yang berharap mendapat ridha
dan ampunan-Nya.
Pada titik inilah,
kiranya Allah SWT menyari’atkan taubat dalam hidup hamba-Nya. Karena ia telah
mengetahui bahwa mahluk ciptaan-Nya yang bernama manusia kelak setelah menghuni
bumi itu bakal terlibat dalam gelimang maksiat, kerusakan dan kesalahan yang
sering disebut sebut sebagai dosa. Allah sodorkan taubat kepada umat manusia
sebagai sarana untuk mengharap rahmat-Nya hingga manusia tidak putus asa akan
anugrah ampunan-Nya.
Sebaliknya, bayangkan
bila Allah SWT tidak menyari’atkan taubat, maka kezaliman pun akan merejalela.
Kenapa? Sebab jika seseorang itu melakukan perbuatan maksiat dan ia tahu kalau
tindakannya itu tidak akan mendapat ampunan, maka orang itu akan bertambah
melakukan maksiat dan kejahatan. Karena, memang tidak ada gunanya lagi
melakukan amal soleh. Dan apabila manusia yang melakukan maksiatnya itu kian
bertambah maka penderitaan pun akan menimpa seluruh masyarakat. Sebab,
perbuatan maksiat itu merupakan pelanggaran atas mahluk Allah SWT dan hak-hak
mereka. Hal ini menjunjukkan bahwa persyari’atan taubat menjadi hal yang sangat
diperhitungkan-Nya. Saking bermaknanya taubat ada satu surat yang dinamakan
surah At Taubah. Belum lagi ayat-ayat pada surat lain yang juga acapkali
menyebut-nyebut taubat.
Misalnya ayat ini:
Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki
diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Al Ma’idah :39).
Manusia selalu
mendapat kesempatan untuk memasuki pintu
taubat berkali-kali. Sebanyak apa pun atau sesering apapun dia mengulang-ngulang dosa yang sama, maka Allah azza wa jalla selalu memberi kesempatan
kepadanya untuk terus mengetuk pintu Taubat-Nya.
Menguak Tabir Taubat
Setelah mengetahui
taubat satu satunya jalan bertabur keselamatan, saat jiwa nyaris terperosok
dalam jurang kesengsaraan, maka sudah selayaknya seorang hamba mengetahui
hakikat taubat.
Secara syar’i taubat artinya meninggalkan dosa karena
mengetahui keburukannya, menyesali telah melakukannnya dan bertekad kuat untuk
tidak mengulanginya kembali ketika ada kemampuan untuk melakukannhya, serta melaksanakan amalan-amalan yang pernah
ditinggalkan.
Ketahuilah ada
saatnya ketika taubat tidak akan bernilai di sisi Allla yaitu ketika nyawa
telah berada di kerongkongan.
Taubat mestinya
ikhlas dan jujur karena Allah SWT. Ia mesti disandingkan dengan cinta kepada
Allah dan apa yang dicintai Allah, serta bersayapkan rasa harap akan
pengampunan dan rasa takut akan balasan bagi para pelaku maksiat. Inilah
tanda-tanda ketulusan yang akan mengetuk pintu taubat, sehingga ia akan terbuka
dengan lebar.
Menapaki Tangga Pengampunan
Akhir kata,
rawatlah jiwa untuk mengikhlaskan diri dan jujur dalam menapaki tangga taubat
menuju ampunan yang Maha Pengampun. Ketuklah pintu taubat dengan dalamnya
penyesalan akan dosa yang telah kita perbuat,
dengan kuatnya tekad untuk tidak kembali
tersungkur dalam gelapnya kabut maksiat dan dengan kecintaan kepada
amalan yang telah lama ditinggalkan. Semoga Allah SWT menerima taubat kita,
sehingga kita layaknya seorang yang tidak perbah mengenal dosa sama sekali.
Aamiin
Biodata Penulis
Neng Ati Indriati,
S.Pd, lahir di Ciamis, 3 Januari 1970. Saat ini mengampu mata pelajaran Ekonomi
di SMA Negeri 1 Sukadana. Pernah meraih juara 1 Guru Berperestasi Tingkat
Kabupaten Ciamis tahun 2016 dan mendapat penghargaan sebagai ASN berprestasi
Tingkat Provinsi Jawa Barat pada tahap III pada tahun 2022. Selain itu, sebagai
penggiat literasi di SMA Negeri 1 Sukadana