BERHENTI SAJA JADI GURU

Penulis: Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd.

Dibaca: 192 kali

Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd.

Oleh Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd.

(Kepala SMAN 1 Cigombong Kab. Bogor)

 

Tulisan ini ditujukan kepada para guru dimanapun berada hanya sebagai sebuah sumbang saran saja, yaitu ada baiknya kita 'berhenti' untuk mengajar. Jangan jadi guru, karena jadi guru itu berat. Tidak akan sekuat Dilan. Jadi, ada baiknya disudahi saja pekerjaan itu.

Bagi siapa saja yang punya cita-cita ingin menjadi guru, sebaiknya berpikir ulang merealisasikan niatnya itu. Karena pekerjaan sebagai seorang guru sekarang bukan lagi profesi yang populer, apa lagi sampai menjadi profesi yang menjanjikan. Mendingan jadi artis sinetron saja. Sekarang jadi artis tidak harus punya paras rupawan. Asal bisa bikin kontroversi dibarengi dengan keberanian yang tinggi, sekejap saja akan dipuja-puji.

Menjadi guru itu tidaklah mudah. Kalau pun punya keahlian yang handal, mampu berspekulasi di angka-angka rupiah, sebaiknya jadi pebisnis. Kalau punya pengalaman menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial budaya, bisa jadi pejabat dadakan atau minimal politisi. Jadi pebisnis atau politikus lebih gampang sebab nantinya hanya akan selalu memberi opini dan asumsi saja kepada khalayak yang mendukung keinginan orang tersebut. Selain itu mereka selalu siap memfasilitasi apa saja yang diinginkan selagi mereka juga difasilitasi. Tapi berbeda dengan menjadi guru yang banyak tuntutannya. Jadi dari pada mempersulit diri, sebaiknya berhenti saja. Kalau tidak punya alasan dan pertimbangan mengapa sebaiknya berhenti mengajar. Pada uraian selanjutnya akan diberikan 5 gambaran alasan yang kuat supaya besok lusa bisa berhenti mengajar secepatnya.

1. Mengandalkan Teori

Guru sebaiknya berhenti mengajar jika setiap memberikan materi hanya menuliskan teori-teori di papan tulis. Lalu meminta siswa mencatat semua tulisan itu. Kemudian ketika waktu ulangan tiba, meminta mereka mengingat semua teori itu dan menggunakannya untuk menyelesaikan soal yang diberikan. Masa bodoh dengan alasan untuk apa mereka melakukannya. Yang penting mereka mengikuti apa yang dicontohkan dan soal terjawab benar.

Sebaiknya segera berhenti jadi guru. Sebab guru bukan saja menghilangkan materi dari pembelajarannya, tetapi juga berpotensi menyesatkan. Sudah berapa banyak siswa di tingkat dasar yang hafal rumus-rumus berbagai pelajaran eksak, tapi ketika diminta menunjukkan dimanakah rumus itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari, mereka semua kaget. Nyaris semua siswa tahu bagaimana menentukan hitungan pecahan dari suatu soal, tapi mereka terpana ketika ditanya untuk apa data dicari hasil akhirnya. Bukannya lebih baik membiarkan gelas kosong dari pada mengisinya dengan yang dikira air, padahal itu adalah air kotor.

2. Mementingkan Nilai

Alasan kedua harusnya alasan yang kuat sekali. Ketika mementingkan nilai dalam kelas, guru seolah menganggap bahwa siswa-siswa adalah mesin yang dioperasikan untuk menghasilkan output tertentu yang sesuai keinginan guru. Guru pemberi pelajaran dan bukan operator. Mereka siswa dan bukan mesin bermotor. Tugas guru adalah mengkonstruksi pengetahuan mereka, bukan memberi nilai.

Ketika berfokus pada nilai, maka guru akan selalu membandingkan siswanya satu sama lainnya. Menganggap yang satu lebih hebat dari yang lainnya. Bagi siswa yang mendapat nilai baik mereka akan terus memburunya dan lupa apa tujuan belajar sebenarnya. Sedangkan bagi siswa dengan nilai buruk mereka akan berakhir dengan menganggap diri mereka sendiri bodoh. Guru juga berpotensi salah jalur. Guru bisa lupa bahwa tujuan penilaian sebenarnya adalah untuk memperbaiki pengajarannya.

3. Membuat Pelajaran Membosankan

Berapa banyak siswa yang menganggap pelajaran tertentu sebagai monster hanya karena gurunya yang galak atau alasan yang lainnya? Diketahui  bahwa beberapa pelajaran, terutama eksak dan bahasa Inggris, sejatinya penuh  dengan tekanan yaitu tuntutan dari kurikulum, keinginan orang tua dan masyarakat. Karena tuntutan tinggi tersebut  guru biasanya terburu-buru dalam mengajar. Mengejar materi dengan memberikan rumus-rumus dan teori-teori yang cepat. Belum lagi pekerjaan rumah beberapa halaman yang harus dikerjakan siswa di rumah. Begitu siklus yang terus berulang setiap harinya. Datang menerima rumus, dihafal, pulang mengerjakan soal. Besok pun demikian. Membosankan sekali tentunya. Belajar itu selayaknya seperti makan setiap hari. Setiap orang butuh belajar berbagai pelajaran setiap hari sebagaimana butuh makan, tapi tentunya dengan lauk pauk yang berbeda. Seenak apapun goreng ayam, kalau setiap hari dimakannya, pasti akan menimbulkan kebosanan.

4. Memaksa Semua Anak Menjadi Ahli Teori

Jika guru masih percaya pelajaran tertentu sebagai satu-satunya indikator kecerdasan, jika guru masih menganggap bahwa khususnya pelajaran eksak dan bahasa Inggris sebagai penentu kesuksesan, jika guru berharap bahwa semua siswanya sama ahlinya dengan guru tersebut, sebaiknya guru tadi berhenti mengajar. Sebab pandangan guru tersebut kuno dan jadul sekali. Perkembangan ilmu pengetahuan saat ini luar biasa sekali. Di sekitar kita ada begitu banyak orang yang sukses di bidang mereka masing-masing.

Saat ini orang-orang modern percaya bahwa ada banyak bentuk kecerdasan atau yang dikenal multiple intelligence. Meskipun seseorang unggul di salah satu kecerdasan, tetapi masih butuh berbagai jenis kecerdasan lainnya. Seseorang punya kecerdasan yang menonjol di pelajaran eksak dan bahasa. Tapi itu bukan berarti mengabaikan kecerdasan lainnya. Orang tersebut tetap butuh kecerdasan interpersonal untuk membina hubungan dengan orang lain. Begitupun anak-anak. Meskipun mereka kelak menjadi seorang penyanyi atau pemain sepak bola, mereka tetap butuh kecerdasan pelajaran eksak dan bahasa apalagi agama, setidaknya untuk menghitung berapa gaji dan pajak mereka,  juga berkomunikasi dengan yang lainnya,  dengan iman dan ketakwaan yang hakiki.

5. Berhenti Belajar

Alasan terakhir ini semestinya pamungkas. Kalau guru sudah merasa cukup ahli dalam pelajaran tertentu yang sedemikan rupa dan merasa sudah bisa mengajarkannya, maka sebaiknya memang guru tersebut berhenti mengajar. Memahami pelajaran tertentu untuk dirinya sendiri dengan mengajarkan ke orang lain terutama anak-anak adalah dua hal yang sangat berbeda. Contoh, guru tersebut mungkin paham beberapa teori mata pelajaran matematika seperti apa perbedaan variabel, koefisien dan konstanta dalam aljabar. Tapi, membuat siswa memahaminya tidak semudah mengcopy-paste file-file di komputer.

Otak manusia itu sungguh unik. Jika seorang guru hendak memasukkan lagu dangdut ke semua komputer yang ada di dunia guru tersebut cukup melakukannya dengan satu perintah yang sama. Secanggih apapun prosesornya, komputer tidak akan menolak atau mempertanyakan mengapa mereka harus merekam informasi lagu dangdut dalam memori mereka. Keberadaan anak-anak pun berbeda. Otak mereka akan menyaring apa yang menarik dan penting untuk dimasukkan ke dalam memori mereka. Sekedar rumus-rumus akan sekejap saja menguap. Jikalau pun bertahan itu pasti karena dipaksakan.

Apabila guru punya 3 dari 5 alasan itu sebaiknya guru tersebut benar-benar berhenti. Tidak mudah memang menjadi guru mata pelajaran. Tapi jika masih punya semangat untuk terus berusaha dan berkembang, guru bisa melakukan kebalikan dari 5 hal yang  diuraikan di atas. Lakukanlah dengan sebaiknya-baiknya atau berhenti sekarang juga.

Ide dan sumber tulisan: WAG Guru Merdeka

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Cerutu

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...