Penulis: Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd.

Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd.
Oleh Dr. Drs. Raya
Erwana, M.Pd.
(Kepala SMAN 1
Cigombong Kab. Bogor)
Tulisan ini
ditujukan kepada para guru dimanapun berada hanya sebagai sebuah sumbang saran
saja, yaitu ada baiknya kita 'berhenti' untuk mengajar. Jangan jadi guru,
karena jadi guru itu berat. Tidak akan sekuat Dilan. Jadi, ada baiknya disudahi
saja pekerjaan itu.
Bagi siapa saja
yang punya cita-cita ingin menjadi guru, sebaiknya berpikir ulang
merealisasikan niatnya itu. Karena pekerjaan sebagai seorang guru sekarang
bukan lagi profesi yang populer, apa lagi sampai menjadi profesi yang
menjanjikan. Mendingan jadi artis sinetron saja. Sekarang jadi artis tidak
harus punya paras rupawan. Asal bisa bikin kontroversi dibarengi dengan
keberanian yang tinggi, sekejap saja akan dipuja-puji.
Menjadi guru itu
tidaklah mudah. Kalau pun punya keahlian yang handal, mampu berspekulasi di
angka-angka rupiah, sebaiknya jadi pebisnis. Kalau punya pengalaman
menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial budaya, bisa jadi pejabat
dadakan atau minimal politisi. Jadi pebisnis atau politikus lebih gampang sebab
nantinya hanya akan selalu memberi opini dan asumsi saja kepada khalayak yang
mendukung keinginan orang tersebut. Selain itu mereka selalu siap memfasilitasi
apa saja yang diinginkan selagi mereka juga difasilitasi. Tapi berbeda dengan
menjadi guru yang banyak tuntutannya. Jadi dari pada mempersulit diri,
sebaiknya berhenti saja. Kalau tidak punya alasan dan pertimbangan mengapa
sebaiknya berhenti mengajar. Pada uraian selanjutnya akan diberikan 5 gambaran
alasan yang kuat supaya besok lusa bisa berhenti mengajar secepatnya.
1. Mengandalkan
Teori
Guru sebaiknya
berhenti mengajar jika setiap memberikan materi hanya menuliskan teori-teori di
papan tulis. Lalu meminta siswa mencatat semua tulisan itu. Kemudian ketika
waktu ulangan tiba, meminta mereka mengingat semua teori itu dan menggunakannya
untuk menyelesaikan soal yang diberikan. Masa bodoh dengan alasan untuk apa
mereka melakukannya. Yang penting mereka mengikuti apa yang dicontohkan dan
soal terjawab benar.
Sebaiknya segera
berhenti jadi guru. Sebab guru bukan saja menghilangkan materi dari
pembelajarannya, tetapi juga berpotensi menyesatkan. Sudah berapa banyak siswa
di tingkat dasar yang hafal rumus-rumus berbagai pelajaran eksak, tapi ketika
diminta menunjukkan dimanakah rumus itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari,
mereka semua kaget. Nyaris semua siswa tahu bagaimana menentukan hitungan
pecahan dari suatu soal, tapi mereka terpana ketika ditanya untuk apa data
dicari hasil akhirnya. Bukannya lebih baik membiarkan gelas kosong dari pada
mengisinya dengan yang dikira air, padahal itu adalah air kotor.
2. Mementingkan
Nilai
Alasan kedua
harusnya alasan yang kuat sekali. Ketika mementingkan nilai dalam kelas, guru
seolah menganggap bahwa siswa-siswa adalah mesin yang dioperasikan untuk
menghasilkan output tertentu yang sesuai keinginan guru. Guru pemberi pelajaran
dan bukan operator. Mereka siswa dan bukan mesin bermotor. Tugas guru adalah
mengkonstruksi pengetahuan mereka, bukan memberi nilai.
Ketika berfokus
pada nilai, maka guru akan selalu membandingkan siswanya satu sama lainnya.
Menganggap yang satu lebih hebat dari yang lainnya. Bagi siswa yang mendapat
nilai baik mereka akan terus memburunya dan lupa apa tujuan belajar sebenarnya.
Sedangkan bagi siswa dengan nilai buruk mereka akan berakhir dengan menganggap
diri mereka sendiri bodoh. Guru juga berpotensi salah jalur. Guru bisa lupa
bahwa tujuan penilaian sebenarnya adalah untuk memperbaiki pengajarannya.
3. Membuat
Pelajaran Membosankan
Berapa banyak
siswa yang menganggap pelajaran tertentu sebagai monster hanya karena gurunya
yang galak atau alasan yang lainnya? Diketahui
bahwa beberapa pelajaran, terutama eksak dan bahasa Inggris, sejatinya
penuh dengan tekanan yaitu tuntutan dari
kurikulum, keinginan orang tua dan masyarakat. Karena tuntutan tinggi tersebut guru biasanya terburu-buru dalam mengajar.
Mengejar materi dengan memberikan rumus-rumus dan teori-teori yang cepat. Belum
lagi pekerjaan rumah beberapa halaman yang harus dikerjakan siswa di rumah.
Begitu siklus yang terus berulang setiap harinya. Datang menerima rumus,
dihafal, pulang mengerjakan soal. Besok pun demikian. Membosankan sekali
tentunya. Belajar itu selayaknya seperti makan setiap hari. Setiap orang butuh
belajar berbagai pelajaran setiap hari sebagaimana butuh makan, tapi tentunya dengan
lauk pauk yang berbeda. Seenak apapun goreng ayam, kalau setiap hari
dimakannya, pasti akan menimbulkan kebosanan.
4. Memaksa Semua
Anak Menjadi Ahli Teori
Jika guru masih
percaya pelajaran tertentu sebagai satu-satunya indikator kecerdasan, jika guru
masih menganggap bahwa khususnya pelajaran eksak dan bahasa Inggris sebagai
penentu kesuksesan, jika guru berharap bahwa semua siswanya sama ahlinya dengan
guru tersebut, sebaiknya guru tadi berhenti mengajar. Sebab pandangan guru
tersebut kuno dan jadul sekali. Perkembangan ilmu pengetahuan saat ini luar
biasa sekali. Di sekitar kita ada begitu banyak orang yang sukses di bidang
mereka masing-masing.
Saat ini
orang-orang modern percaya bahwa ada banyak bentuk kecerdasan atau yang dikenal
multiple intelligence. Meskipun seseorang unggul di salah satu kecerdasan,
tetapi masih butuh berbagai jenis kecerdasan lainnya. Seseorang punya
kecerdasan yang menonjol di pelajaran eksak dan bahasa. Tapi itu bukan berarti
mengabaikan kecerdasan lainnya. Orang tersebut tetap butuh kecerdasan
interpersonal untuk membina hubungan dengan orang lain. Begitupun anak-anak.
Meskipun mereka kelak menjadi seorang penyanyi atau pemain sepak bola, mereka
tetap butuh kecerdasan pelajaran eksak dan bahasa apalagi agama, setidaknya untuk
menghitung berapa gaji dan pajak mereka,
juga berkomunikasi dengan yang lainnya,
dengan iman dan ketakwaan yang hakiki.
5. Berhenti
Belajar
Alasan terakhir
ini semestinya pamungkas. Kalau guru sudah merasa cukup ahli dalam pelajaran
tertentu yang sedemikan rupa dan merasa sudah bisa mengajarkannya, maka
sebaiknya memang guru tersebut berhenti mengajar. Memahami pelajaran tertentu
untuk dirinya sendiri dengan mengajarkan ke orang lain terutama anak-anak
adalah dua hal yang sangat berbeda. Contoh, guru tersebut mungkin paham
beberapa teori mata pelajaran matematika seperti apa perbedaan variabel,
koefisien dan konstanta dalam aljabar. Tapi, membuat siswa memahaminya tidak
semudah mengcopy-paste file-file di komputer.
Otak manusia itu
sungguh unik. Jika seorang guru hendak memasukkan lagu dangdut ke semua
komputer yang ada di dunia guru tersebut cukup melakukannya dengan satu
perintah yang sama. Secanggih apapun prosesornya, komputer tidak akan menolak
atau mempertanyakan mengapa mereka harus merekam informasi lagu dangdut dalam
memori mereka. Keberadaan anak-anak pun berbeda. Otak mereka akan menyaring apa
yang menarik dan penting untuk dimasukkan ke dalam memori mereka. Sekedar
rumus-rumus akan sekejap saja menguap. Jikalau pun bertahan itu pasti karena
dipaksakan.
Apabila guru punya
3 dari 5 alasan itu sebaiknya guru tersebut benar-benar berhenti. Tidak mudah
memang menjadi guru mata pelajaran. Tapi jika masih punya semangat untuk terus
berusaha dan berkembang, guru bisa melakukan kebalikan dari 5 hal yang diuraikan di atas. Lakukanlah dengan
sebaiknya-baiknya atau berhenti sekarang juga.
Ide dan sumber
tulisan: WAG Guru Merdeka