Penulis: Atin Kartinah

Atin Kartinah
Oleh Atin Kartinah
Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Garut
Budaya Sekolah Aman dan Nyaman
merupakan landasan strategis dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua
sebagaimana diamanatkan dalam Visi ASTA CITA Presiden Republik Indonesia dan
Misi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Budaya Sekolah Aman dan Nyaman
dimaknai sebagai keseluruhan tata nilai, sikap, kebiasaan, dan perilaku yang
dibangun di lingkungan sekolah untuk menjamin pemenuhan kebutuhan spiritual,
pelindungan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosiokultural, serta
keadaban dan keamanan digital. Pemenuhan aspek-aspek tersebut menjadi prasyarat
utama terciptanya lingkungan belajar yang kondusif bagi seluruh warga sekolah.
Visi ASTA CITA menegaskan
pentingnya pembangunan manusia Indonesia yang berkarakter, sehat, cerdas, dan
berdaya saing. Pendidikan yang bermutu tidak dapat dilepaskan dari lingkungan
belajar yang aman dan nyaman. Sekolah yang bebas dari kekerasan, diskriminasi,
dan perundungan merupakan wujud nyata keberpihakan negara terhadap martabat
peserta didik. Dalam konteks ini, Budaya Sekolah Aman dan Nyaman menjadi
instrumen penting untuk menerjemahkan cita-cita pembangunan manusia Indonesia
ke dalam praktik nyata di satuan pendidikan.
Budaya Sekolah Aman dan Nyaman
mencakup empat pilar utama. Pertama, pemenuhan kebutuhan spiritual, di mana
sekolah menjadi ruang yang menghormati keyakinan, memberikan kebebasan
beribadah, serta menumbuhkan sikap saling menghargai antarumat beragama. Kedua,
pelindungan fisik melalui penyediaan lingkungan dan sarana prasarana sekolah
yang aman, layak, aksesibel, dan ramah bagi semua, termasuk peserta didik
penyandang disabilitas. Ketiga, kesejahteraan psikologis dan keamanan
sosiokultural, yang diwujudkan melalui iklim sekolah yang inklusif, bebas
diskriminasi, serta menolak segala bentuk perundungan dan perlakuan yang
merendahkan martabat. Keempat, keadaban dan keamanan digital, mengingat ruang
belajar peserta didik kini juga berlangsung di ruang digital yang memerlukan
literasi, etika, dan pelindungan data pribadi.
Misi
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mewujudkan pendidikan bermutu
bagi semua selaras dengan pendekatan yang diusung dalam Budaya Sekolah Aman dan
Nyaman, yaitu humanis, komprehensif, dan partisipatif. Pendekatan humanis
menekankan relasi saling menghormati dan berkeadaban antarwarga sekolah.
Pendekatan komprehensif memastikan bahwa aspek fisik, psikologis, sosial,
spiritual, dan digital ditangani secara menyeluruh. Sementara itu, pendekatan
partisipatif menuntut keterlibatan bermakna Catur Pusat Pendidikan, yakni
sekolah, keluarga, masyarakat, dan media, sebagai satu ekosistem pendidikan
yang saling menguatkan.
Gerakan Rukun Sama Teman
merupakan gerakan nasional untuk menumbuhkan budaya pertemanan yang ramah,
aman, dan saling menghargai di lingkungan sekolah. Gerakan ini diluncurankan
bulan nopember lalu oleh Menteri pendidikan dasar dan menengah Prof Abdul Mu’t,i.
Pada tanggal 8 Januari 2026 beliau mengunjungi Kabupaten Garut dalam rangka
peresmian revitalisasi sekolah untuk mewujudkan sekolah aman, nyaman dan rukun
sama teman. Dalam pidatonya beliau menyampaikan salah satu latar belakang
gerakan rukun bersama teman adalah situasi saat ini terlihat adanya gejala di
lingkungan sekolah, meskipun masih dalam skala terbatas, di mana kualitas
pertemanan dan keakraban antar sesama peserta didik cenderung mengalami
penurunan. Fenomena ini menunjukkan adanya pengikisan relasi sosial yang
sebelumnya menjadi bagian penting dalam kehidupan sekolah. Gerakan rukun sama
teman memiliki urgensi yang tinggi karena Kementerian Pendidikan Dasar dan
Menengah berupaya mengembalikan sekolah sebagai sebuah ekosistem yang sehat.
Upaya ini diarahkan agar peserta didik, baik yang terlibat langsung dalam
kegiatan tersebut maupun anak-anak Indonesia secara umum, dapat tumbuh dan
berkembang dalam lingkungan sekolah yang sehat secara fisik, mental, dan
sosial.
Ditekankan pula bahwa gerakan ini
sangat penting untuk menghidupkan kembali hakikat peserta didik dalam membangun
interaksi antarmanusia yang sejati. Ia menjelaskan bahwa dalam kerangka Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH),
salah satu kebiasaan utama adalah kemampuan bermasyarakat, yang proses
penanamannya harus dimulai sejak dini. Sekolah, menurutnya, merupakan miniatur
masyarakat yang merepresentasikan keberagaman latar belakang, sehingga menjadi
ruang strategis untuk membentuk sikap sosial dan kebersamaan.
Salah satu contoh kongkrit
gerakan rukun sama teman adalah Program Sahabat Hebat. Pada program ini murid
dilibatkan secara aktif sebagai agen budaya positif. Melalui peran Sahabat Hebat, murid didorong untuk menjalankan prinsip 3M,
yaitu mengenali tanda-tanda ketidaknyamanan atau perundungan, mendukung teman
secara empatik melalui komunikasi. Dukungan psikologis awal dari teman serta
melaporkan kondisi “zona merah” kepada pihak sekolah secara aman dan
bertanggung jawab.
Peran ini sejalan dengan
penguatan delapan dimensi Profil Lulusan, seperti penalaran kritis, kolaborasi,
kemandirian, kewargaan, komunikasi, dan kepedulian terhadap kesehatan mental.
Peran kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua, masyarakat, dan
media sebagai bagian dari ekosistem Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Kepala
sekolah bertugas menetapkan kebijakan dan memimpin implementasi, guru dan
tenaga kependidikan menciptakan pembelajaran yang aman serta melakukan deteksi
dini, sementara orang tua dan masyarakat berperan sebagai mitra aktif dalam
menjaga kesinambungan nilai dan keamanan peserta didik, termasuk di ruang
digital.
Kunjungan Menteri Pendidikan
Dasar dan Menengah beserta jajaran Kemendikdasmen ke Kabupaten Garut pada 8
Januari 2026 lalu merupakan salah satu contoh nyata komitmen untuk mewujudkan
Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Kegiatan tersebut menjadi simbol penerjemahan
visi ASTA CITA dan misi Kemendikdasmen ke dalam tindakan nyata. Revitalisasi
sekolah tidak hanya berfokus pada pembaruan sarana fisik, tetapi juga pada
penguatan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung terwujudnya
gerakan rukun bersama teman.
Dengan demikian, Budaya Sekolah
Aman dan Nyaman merupakan fondasi utama pendidikan bermutu untuk semua. Melalui
sinergi kebijakan nasional, pelibatan seluruh pemangku kepentingan, serta
penguatan peran murid sebagai agen budaya positif, sekolah diharapkan menjadi
ruang yang aman, nyaman, dan berkeadaban. Inilah wujud nyata komitmen negara
dalam membangun pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga
memanusiakan setiap anak Indonesia. Semoga Aamiin Yra.