Budaya Sekolah Aman dan Nyaman sebagai Implementasi ASTA CITA dan Misi Pendidikan Bermutu untuk Semua

Penulis: Atin Kartinah

Dibaca: 303 kali

Atin Kartinah

Oleh Atin Kartinah

Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Garut

 

Budaya Sekolah Aman dan Nyaman merupakan landasan strategis dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua sebagaimana diamanatkan dalam Visi ASTA CITA Presiden Republik Indonesia dan Misi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Budaya Sekolah Aman dan Nyaman dimaknai sebagai keseluruhan tata nilai, sikap, kebiasaan, dan perilaku yang dibangun di lingkungan sekolah untuk menjamin pemenuhan kebutuhan spiritual, pelindungan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosiokultural, serta keadaban dan keamanan digital. Pemenuhan aspek-aspek tersebut menjadi prasyarat utama terciptanya lingkungan belajar yang kondusif bagi seluruh warga sekolah.

Visi ASTA CITA menegaskan pentingnya pembangunan manusia Indonesia yang berkarakter, sehat, cerdas, dan berdaya saing. Pendidikan yang bermutu tidak dapat dilepaskan dari lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Sekolah yang bebas dari kekerasan, diskriminasi, dan perundungan merupakan wujud nyata keberpihakan negara terhadap martabat peserta didik. Dalam konteks ini, Budaya Sekolah Aman dan Nyaman menjadi instrumen penting untuk menerjemahkan cita-cita pembangunan manusia Indonesia ke dalam praktik nyata di satuan pendidikan.

Budaya Sekolah Aman dan Nyaman mencakup empat pilar utama. Pertama, pemenuhan kebutuhan spiritual, di mana sekolah menjadi ruang yang menghormati keyakinan, memberikan kebebasan beribadah, serta menumbuhkan sikap saling menghargai antarumat beragama. Kedua, pelindungan fisik melalui penyediaan lingkungan dan sarana prasarana sekolah yang aman, layak, aksesibel, dan ramah bagi semua, termasuk peserta didik penyandang disabilitas. Ketiga, kesejahteraan psikologis dan keamanan sosiokultural, yang diwujudkan melalui iklim sekolah yang inklusif, bebas diskriminasi, serta menolak segala bentuk perundungan dan perlakuan yang merendahkan martabat. Keempat, keadaban dan keamanan digital, mengingat ruang belajar peserta didik kini juga berlangsung di ruang digital yang memerlukan literasi, etika, dan pelindungan data pribadi.

Misi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mewujudkan pendidikan bermutu bagi semua selaras dengan pendekatan yang diusung dalam Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, yaitu humanis, komprehensif, dan partisipatif. Pendekatan humanis menekankan relasi saling menghormati dan berkeadaban antarwarga sekolah. Pendekatan komprehensif memastikan bahwa aspek fisik, psikologis, sosial, spiritual, dan digital ditangani secara menyeluruh. Sementara itu, pendekatan partisipatif menuntut keterlibatan bermakna Catur Pusat Pendidikan, yakni sekolah, keluarga, masyarakat, dan media, sebagai satu ekosistem pendidikan yang saling menguatkan.

Gerakan Rukun Sama Teman merupakan gerakan nasional untuk menumbuhkan budaya pertemanan yang ramah, aman, dan saling menghargai di lingkungan sekolah. Gerakan ini diluncurankan bulan nopember lalu oleh Menteri pendidikan dasar dan menengah Prof Abdul Mu’t,i. Pada tanggal 8 Januari 2026 beliau mengunjungi Kabupaten Garut dalam rangka peresmian revitalisasi sekolah untuk mewujudkan sekolah aman, nyaman dan rukun sama teman. Dalam pidatonya beliau menyampaikan salah satu latar belakang gerakan rukun bersama teman adalah situasi saat ini terlihat adanya gejala di lingkungan sekolah, meskipun masih dalam skala terbatas, di mana kualitas pertemanan dan keakraban antar sesama peserta didik cenderung mengalami penurunan. Fenomena ini menunjukkan adanya pengikisan relasi sosial yang sebelumnya menjadi bagian penting dalam kehidupan sekolah. Gerakan rukun sama teman memiliki urgensi yang tinggi karena Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berupaya mengembalikan sekolah sebagai sebuah ekosistem yang sehat. Upaya ini diarahkan agar peserta didik, baik yang terlibat langsung dalam kegiatan tersebut maupun anak-anak Indonesia secara umum, dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan sekolah yang sehat secara fisik, mental, dan sosial.

Ditekankan pula bahwa gerakan ini sangat penting untuk menghidupkan kembali hakikat peserta didik dalam membangun interaksi antarmanusia yang sejati. Ia menjelaskan bahwa dalam kerangka Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH), salah satu kebiasaan utama adalah kemampuan bermasyarakat, yang proses penanamannya harus dimulai sejak dini. Sekolah, menurutnya, merupakan miniatur masyarakat yang merepresentasikan keberagaman latar belakang, sehingga menjadi ruang strategis untuk membentuk sikap sosial dan kebersamaan.

Salah satu contoh kongkrit gerakan rukun sama teman adalah Program Sahabat Hebat. Pada program ini murid dilibatkan secara aktif sebagai agen budaya positif. Melalui peran Sahabat Hebat, murid didorong untuk menjalankan prinsip 3M, yaitu mengenali tanda-tanda ketidaknyamanan atau perundungan, mendukung teman secara empatik melalui komunikasi. Dukungan psikologis awal dari teman serta melaporkan kondisi “zona merah” kepada pihak sekolah secara aman dan bertanggung jawab.

Peran ini sejalan dengan penguatan delapan dimensi Profil Lulusan, seperti penalaran kritis, kolaborasi, kemandirian, kewargaan, komunikasi, dan kepedulian terhadap kesehatan mental. Peran kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua, masyarakat, dan media sebagai bagian dari ekosistem Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Kepala sekolah bertugas menetapkan kebijakan dan memimpin implementasi, guru dan tenaga kependidikan menciptakan pembelajaran yang aman serta melakukan deteksi dini, sementara orang tua dan masyarakat berperan sebagai mitra aktif dalam menjaga kesinambungan nilai dan keamanan peserta didik, termasuk di ruang digital.

Kunjungan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah beserta jajaran Kemendikdasmen ke Kabupaten Garut pada 8 Januari 2026 lalu merupakan salah satu contoh nyata komitmen untuk mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Kegiatan tersebut menjadi simbol penerjemahan visi ASTA CITA dan misi Kemendikdasmen ke dalam tindakan nyata. Revitalisasi sekolah tidak hanya berfokus pada pembaruan sarana fisik, tetapi juga pada penguatan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung terwujudnya gerakan rukun bersama teman.

Dengan demikian, Budaya Sekolah Aman dan Nyaman merupakan fondasi utama pendidikan bermutu untuk semua. Melalui sinergi kebijakan nasional, pelibatan seluruh pemangku kepentingan, serta penguatan peran murid sebagai agen budaya positif, sekolah diharapkan menjadi ruang yang aman, nyaman, dan berkeadaban. Inilah wujud nyata komitmen negara dalam membangun pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan setiap anak Indonesia. Semoga Aamiin Yra.

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Cerutu

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...