KEBERANIAN MODALITAS KEPEMIMPINAN ABAD 21: Antara Kekuatan, Peluang, dan Tantangan bagi Organisasi

Penulis Ahmad Rusdiana

Dibaca: 75 kali

Ahmad Rusdiana

Oleh Ahmad Rusdiana 

 

Salah satu fungsi utama pemimpin adalah pengambilan keputusan. Setiap keputusan selalu mengandung resiko, sehingga untuk membuat sebuah keputusan, diperlukan keberanian untuk mengambil resiko tersebut. Keberanian berarti kemampuan bertahan dari rasa khawatir dan rasa takut. Dakam Konteks 5K Lima pilar kepemimpinan Abad 21, Johanes Djohan, (2016), menempatkan keberanian pada urutan kelima (terakhir), setelah melalui  kekuasaan, kompetensi, kredibilitas; kemauan dan semangat. Selanjunta, kelima atau terakir "keberanian" selanjutnya disebut (K-5).

Winston Churchil mengatakan: "Keberanian benar-benar dianggap sebagai kualitas utama dalam diri manusia, karena kualitas inilah yang menjamin kualitas lainnya." Keberanian mudah dilihat dalam diri para pahlawan perang dan juga pada setiap pemimpin besar dalam pemerintahan, bisnis, keagamaan, dll. Setiap kali kita melihat kemajuan pesat dalam sebuah organisasi, umumnya pemimpinnya telah mengambil keputusan yang "berani".  

Pemimpin yang tidak berani mengambil keputusan, sebenarnya sudah membuat keputusan, yaitu tidak mengambil keputusan. Maxwell (2014) menyampaikan fakta-fakta tentang keberanian: (1) Keberanian dimulai dengan pergumulan batin. Seperti juga otot, keberanian harus dilatih agar menjadi berkembang; (2) Keberanian artinya membuat segalanya berjalan dengan benar, bukan hanya sekedar menghaluskannya. (3) Keberanian dalam diri seorang pemimpin membangkitkan komitmen dan motivasi para pengikutnya.

Untuk hal itu Billy Graham, seorang tokoh spiritual Amerika mengatakan: "Keberanian itu menular, jika seorang pemberani berdiri tegak, maka yang lainpun juga akan dikuatkan untuk ikut berdiri tegak. Keberanian yang diperlihatkan oleh seorang pemimpin akan memotivasi dan membuat orang lain ingin jadi pengikutnya. Ungkapan keberanian yang mendorong orang lain untuk melakukan hal yang benar, dan berani untuk mengatakan yang benar. Hal inilah yang sekarang langka di negeri kita.

Keberanian dibagi menjadi dua jenis: Keberanian Internal dan Keberanian Eksternal. Ada pemimpin yang hanya memiliki salah satu keberanian saja, namun ada pula pemimpin yang memiliki kedua jenis keberanian tersebut. Tokoh-tokoh perjuangan kemerdakaan Republik Indonesia umumnya memiliki kedua jenis keberanian tersebut (Johanes Djohan, 2016):

Pertama Keberanian Internal; Yaitu keberanian untuk mendengarkan nurani dan menjalankannya tanpa kompromi. Steven Covey menyebutnya sebagai inner voice atau suara hati. Berdasarkan jenis keberanian ini digolongkan dua jenis pemimpin: (1) Pemimpin konsensus adalah pemimpin yang menerima tugas kepemimpinannya sebagai kewajiban saja. Mekanisme kepemimpinannya berprinsip transaksional atau prinsip penawaran diri. Pemimpin melakukan tawar menawar sehingga usaha, kerja, dan kinerja kepemimpinnya selalu di hubungkan dengan seberapa besar hasil dan resiko yang ia peroleh. Pemimpin tipe ini akan lari dari tanggung jawab jika ia menghadapi resiko atau bahaya. (2) Pemimpin Konsensus selalu memperhitungkan bobot rasa aman kepemimpinan dibanding resiko yang harus dihadapi. Ia tidak berani melawan arus besar, tidak berani mengambil sikap atau keputusan yang tidak populer. Peter Drucker mengatakan DZ" Tugas utama pemimpin adalah melakukan hal yang benar, bukan melakukan sesuatu dengan benar". Saat ini Indonesia banyak memiliki pemimpin jenis ini. (3) Pemimpin kontributif; Pemimpin kontributif yaitu pemimpin yang memiliki keberanian untuk mendengarkan nuraninya sekaligus menjalankan nyaris tanpa konpromi. Ia berani dan mampu melawan arus besar suara mayoritas, suara partai, bahkan otoritas yang lebih tinggi , ia berani mengambil keputusan dan sikap yang penting dan benar meskipun tidak populer. Indonesia pernah memiliki pemimpin jenis kontributif ini dengan keinsanian yang indah antara lain:  Ki Hajar Dewantara. Bung Hatta, Bung  Sjahril,  Hoegeng.

Kedua Keberanian Eksternal; Suatu organisasi tidak selalu berjalan dengan mulus dan nyaman. Terkadang ditemui hambatan-hambatan dan tantangan-tantangan dimana pemimpin harus mengambil suatu keputusan yang mengandung resiko. Hambatan dan tantangan tersebut bisa berasal dari luar organisasi seperti perubahan peraturan peraturan pemerintah, kondisi ekonomi, kondisi sosial, dsb. Bisa juga berasal dari dalam organisasi, seperti perubahan struktur kepemilikan, konflik internal, dsb. Sebelum mengambil keputusan yang beresiko, pemimpin yang bijak tentu menganalisa resiko yang mungkin terjadi. Seorang pemimpin yang baik tidak selalu membuat pengikutnya ataupun pihak-pihak di luar organisasi merasa senang.

Ada kalanya pemimpin harus menghadapi orang orang yang menentang dia. Pemimpin sejati berani menghadapi orang orang yang menentangnya bahkan yang brutal sekalipun. Pemimpin yang memiliki keberanian seperti ini di sebut juga sebagai "Lincoln Type Leader". Ia bahkan terkadang mati dibunuh seperti yang di alami mantan presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln yang memperjuangkan persamaan hak. Lee Kuan Yew juga termasuk pemimpin tipe ini yang berhasil memimpin Singapura yang tadinya miskin, tidak memiliki sumber alam, kas negara kosong, kotor, sering terjadi pertikaian antar etnis, menjadi negara yang bersih, disiplin, jujur, tertib, makmur, dengan penghasilan nomer tiga didunia, dan di hormati oleh bangsa bangsa lain. Lee Kuan Yew mempimpin singapura dengan gaya otoriter yang cocok untuk penduduk Singapura saat itu.

Sebenarnya bagi Umat Islam telah diajarkan melalui keberanian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,  Berbagai bentuk keberanian Rasulullah SAW., yang beliau tunjukkan dan tercatat dalam lembaran sejarah adalah petunjuk penting bagi umatnya untuk diteladani dan dijadikan acuan sekaligus point evaluasi dalam menghadapi tantangan dakwah di masa dan kondisi sosial masing-masing Pertempuran Badar Kubra. Perang Uhud; Perang Hunain; Keberanian Akal Rasulullah SAW., selain keberanian hati atau mental, juga memiliki keberanian akal. Keberanian akal beliau tampak jelas ketika menghadapi kekerasan yang dilakukan Suhail bin Amr ketika beliau sedang mendiktekan isi surat perjanjian Hudaibiyah.

Wallahu a’lam Bishowab.

Penulis:

Ahmad Rusdiana, Founder tresnabhakti.org, pegiat Rumah Baca Tresna Bhakti, Pengampu mata kuliah manajemen pendidikan; Penulis buku: Kepemimpinan Pendidikan; Kebijakan Pendidikan; Etika Komunikasi Organisasi; Manajemen Risiko, Kewirausahaan Teori dan Praktek; Manajemen Kewirausahaan Pendidikan; Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pendidik, Peneliti, dan Pengabdi; Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al Misbah Cipadung Bandung yang mengembangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 70 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK TPA Paket A B C. Rumah Baca Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan  Panawangan Kab. Ciamis Jawa Barat. Korespondensi :(1) http://a.rusdiana.id (2) http://tresnabhakti.org/webprofil;  (3) http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators (4) https://www.google.com/search?q=buku+ a.rusdiana +shopee&source (5) https://play.google.com/store/books/author?id.

 

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Semangat Revitalisasi di Mata Angkie

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...