MENDEKAT DENGAN TIGA FASE YANG DILALUI SELAMA BULAN RAMADHAN

Penulis Ahmad Rusdiana

Dibaca: 159 kali

Ahmad Rusdiana

Oleh Ahmad Rusdiana

 

RAMADHAN bagi umat Islam merupakan bulan menempa dan melatih diri untuk menahan segala hawa nafsu, jangankan yang haram seperti mencuri, menipu dan sebagainya yang halal saja dilarang oleh Allah SWT sementara waktu, seperti makan, minum dan berhubungan seks bagi yang sudah menikah sampai waktu yang ditentukan. Diibarkan ramadhan dengan perintah melakukan ibadah puasa, seperti sebuah fase menaiki sebuah gunung, ada 3 titik dalam pendakian menuju puncak ketakwaan. Titik awal mendaki yang penuh dengan perjuangan, titik tengah semakin terasa lelahnya dan ujian terberat ada pada titik terakhir terkadang pada tahap ini banyak orang menyerah padahal disitulah puncak kebahagian. 

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa dari sisi keutamaannya bulan Ramadhan dibagi menjadi tiga tahap. Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Salman Al Farisi: “Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya maghfiroh dan akhirnya pembebasan dari api neraka.” Lengkapnya, yaitu: Sepuluh hari pertama diperolehnya kasih sayang Allah swt (rohmah); Sepuluh hari kedua Kemudian ampunan-Nya (maghfirah) dan hari ketiga (terakhir) terbebasnya mereka yang berpuasa Ramadhan dari siksa api neraka (Itqun minannaar).

Pertama: Sepuluh (10) hari pertama adalah fase rahmat; Ini fase yang berat. Menghadapi fase perubahan kebiasaan diri. Ini  sebagai ujian terberat dalam mencapai suatu ketaqwaan, namun paling banyak mendapatkan pahala. Banyak persoalan yang harus dihadapi dengan proses beradaptasi atau penyesuaian. Siapa yang mampu melewati ini? hanya orang yang benar-benar sabar dan niat beribadahlah yang mampu melewatinya,” Menghadapi fase perubahan kebiasaan diri. Ini  sebagai ujian terberat dalam mencapai suatu ketaqwaan, namun paling banyak mendapatkan pahala.  Pada fase ini dibukakan pintu rahmat yang seluas-luasnya. Jadi kita harus berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Allah Swt memiliki sifat Rahman dan Rahim. Sifat rahman Allah Swt itu diberikan di dunia kepada siapapun tanpa pandang bulu. Kepada manusia, hewan, jin, setan, orang muslim maupun kafir semuanya diberi kesempatan untuk menikmati kehidupan di dunia. Siapapun mereka di dunia ini apakah muslim-non muslim, ahli ibadah atau ahli maksiyat jika pandai dalam urusan di dunia mereka akan mendapat rahmat Allah swt dengan menikmati kehidupan di dunia.

Sifat Rahim Allah Swt khusus diberikan di akhirat nanti bagi siapa yang beriman dan bertakwa kepada-Nya, yaitu berupa kenikmatan masuk surga dan terbebas dari neraka. Bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa dengan keimanan kerelaan semata-mata karena Allah Swt dipastikan memperoleh rahmat Allah Swt, yaitu berupa pahala yang tanpa batas, dan hanya Allah Swt yang akan membalasnya. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad saw: “Semua amalan anak Adam untuknya dan dilipat gandakan setiap satu kebaikan (dianggap) sepuluh kali kebaikan tersebut dan dilipat gandakan menjadi 700 kali. Allah Swt berfirman: Kecuali puasa, karena amalan itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. (disebabkan) meninggalkan sahwatnya dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim).

Kedua: Sepuluh (10) hari kedua adalah fase maghfiroh (ampunan); Nabi Muhammad SAW menyampaikan, di 10 hari kedua Ramadhan supaya kita mengejar ampunan dari Allah SWT. Maghfiroh itu diberikan khusus di waktu tersebut demi keselamatan orang yang berpuasa dari dosa-dosa yang telah dilakukannya sebagai bentuk kasih sayang Allah, yakni rahmat dan kasih sayang yang Allah SWT berikan kepada hamba-hamba Pilihan-Nya. 

Yakinlah betapa dahsyatnya ampunan Allah Swt bagi hamba-hamba-Nya, maka seharusnya kita lebih bersemangat lagi untuk menjemputnya dan jangan sampai terlintas dalam benak pikiran untuk berputus asa. Sikap putus asa ini adalah sifat orang-orang kafir dan sesat. Firman Allah Swt: “.........Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabb-Nya, kecuali orang-orang yang sesat.” (QS al-Hijr: 55-56).

Salah satu Rahmat dan kasih sayang Allah SWT yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang puasa dengan Iman dan taqwa, yaitu disediakan salah satu pintu masuk ke dalam surga yang tidak dilalui oleh siapapun kecuali para ahli puasa. Ada keutamaan yang berlimpah diberikan oleh Allah SWT pada 10 hari pertama bulan Ramadhan. Pada fase ini dibukakan pintu rahmat yang seluas-luasnya. Jadi kita harus berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Ketiga: Sepuluh (10) hari akhir Ramadhan sebagai fase pembebasan dari api neraka. Sepuluh terakhir ini merupakan penutupan bulan Ramadhan, sedangkan amal perbuatan itu tergantung pada penutupannya atau akhirnya. Kesempatan yang tepat untuk merivieu lagi jalan hidup kita, tentang apa yang telah kita perbuat untuk masa depan kita di kemudian hari (di dunia) maupun hari kemudian (di akhirat). Apakah jalan hidup kita sudah lurus sebagaimana yang selalu kita mohonkan setiap kali sholat, Ihdinasshirootol mustaqim, tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan istiqamah? Atau hidup kehidupan kita masih ‘zig-zag’, belak-belok tak tahu arah, dan masih bersahabat dengan segala dosa dan maksiyat.

Seperti disebutkan dalam Al-Qur’an: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali 'Imran[3]:135). Sepuluh terakhir ini merupakan evaluasi/penutupan bulan Ramadhan, sedangkan amal perbuatan itu tergantung pada penutupannya atau akhirnya.

Mudah-mudahan pada Ramadhan tahun ini kita bisa diberikan kekuatan dalam menjalaninya dan kita bisa tergolong sebagai hambanya yang muttaqin sebagaimana dengan tujuan dan hakekat puasa untuk mendapat rahmat, maghfiroh dan pembebasan dari api neraka.

Wallahu A'lam Bishowab

Penulis:

Ahmad Rusdiana, Founder tresnabhakti.org, pegiat Rumah Baca Tresna Bhakti, Pengampu mata kuliah manajemen pendidikan; Penulis buku: Risalah Ramadhan, Kepemimpinan Pendidikan; Kebijakan Pendidikan; Etika Komunikasi Organisasi; Manajemen Risiko, Kewirausahaan Teori dan Praktek; Manajemen Kewirausahaan Pendidikan dll. (tidak kurang dari 50 buku& 30 Jurnal). Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pendidik, Peneliti, dan Pengabdi; Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al Misbah Cipadung Bandung yang mengembangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 70 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK TPA Paket A B C. Rumah Baca Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan  Panawangan Kab. Ciamis Jawa Barat. Korespondensi :(1) http://a.rusdiana.id (2) http://tresnabhakti.org/webprofil;  (3) http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators (4) https://www.google.com/search? q=buku +a.rusdiana+shopee&source (5) https://play.google.com/store/books/ author?id.

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Semangat Revitalisasi di Mata Angkie

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...