Mengapa Siswa Cepat Lupa? Rahasia Pembelajaran Mendalam yang Jarang Dipraktikkan

Penulis: Rina Indrawaty

Dibaca: 625 kali

Ilustrasi

Oleh Rina Indrawaty

 

Di dalam kelas, beberapa guru tampak asyik mengerjakan tugas sambil ditemani alunan musik pop tahun 2000-an dari smartboard. Sementara itu, di koridor sekolah yang disulap layaknya sebuah kafe, sekelompok guru lainnya terlibat dalam diskusi hangat sambil menikmati udara segar. Di ruangan lain, ada pula guru-guru yang memilih suasana sunyi dan fokus bekerja ditemani secangkir kopi hangat.

Ini bukan jam istirahat. Ini adalah sesi pelatihan In House Training bertema pembelajaran mendalam yang sedang berlangsung. Sebagai kepala sekolah, saya sengaja merancang pelatihan ini dengan pendekatan yang berbeda. Sebab saya percaya, 'Bagaimana mungkin kita mengajarkan pembelajaran yang menyenangkan kepada siswa jika cara kita belajar sendiri terasa membosankan?”

Terinspirasi oleh pengalaman In House Training (IHT) di SMP BPI yang baru saja dilaksanakan (20-21 Juni 2025), serta dari tulisan Tatang Sunendar di sebuah media masa (beritadisdik.com, 22 Juni 2025) tentang sosok fasilitator pelatihan yang ideal, saya terdorong untuk mengulas kembali rahasia pembelajaran mendalam yang selama ini kerap terlupakan di ruang-ruang kelas.

Pernahkah Anda sebagai seorang guru menjelaskan materi berkali-kali, tetapi siswa tetap lupa di minggu berikutnya? Atau melihat siswa yang mendapatkan nilai baik saat ujian, namun bingung ketika diminta menerapkannya dalam kehidupan nyata?

Tanpa disadari, guru-guru SMP BPI yang mengikuti IHT baru-baru ini sedang mengalami jawaban dari dilema tersebut. Mereka merasakan langsung pembelajaran mendalam, bukan melalui teori, tetapi dari pengalaman yang nyata.

Guru yang memilih belajar di ruangan sambil mendengarkan musik merasakan suasana yang rileks namun tetap fokus. Mereka yang memilih area luar ruangan dengan nuansa kafe menikmati energi segar yang membangkitkan kreativitas. Sementara itu, guru yang memilih ketenangan bersama secangkir kopi hangat menemukan ruang untuk berpikir lebih dalam. “Jika saya sebagai orang dewasa merasakan perbedaan signifikan ketika diberi pilihan cara belajar, bagaimana dengan siswa-siswa saya?” ungkap salah satu peserta dalam refleksinya.

Pembelajaran mendalam bukanlah tentang materi yang rumit atau durasi yang panjang. Ia adalah filosofi yang memastikan setiap pengalaman belajar meresap hingga ke dalam jiwa siswa, bukan hanya tersimpan sementara di memori jangka pendek.

Bayangkan, pembelajaran seperti menanam benih. Pembelajaran biasa seperti menaburkan benih di tanah keras, mungkin tumbuh, tapi cepat layu. Pembelajaran mendalam seperti menanam di tanah yang sudah diolah dengan sabar, menghasilkan tanaman kuat berakar dalam.

Guru yang baik tidak hanya memahami teori BBM (Berkesadaran, Bermakna, Menyenangkan) tentang pembelajaran mendalam. Melalui kegiatan IHT yang telah dilaksanakan, guru mendapat pencerahan dan mendapatkan pengalaman langsung tentang pembelajaran mendalam.

Langkah awal dalam “berkesadaran”, guru sebagai peserta IHT harus memahami tujuan kegiatan, mampu meregulasi diri terhadap tugas yang diberikan, dan termotivasi untuk mengerjakan tugas tersebut tepat waktu.

Selanjutnya untuk “bermakna”, guru sebagai peserta IHT mendapatkan pendampingan dalam mengerjakan tugas berupa administrasi pembelajaran dan buku ajar yang akan digunakan di kelas pada tahun ajaran depan.

Terakhir “menyenangkan”, guru sebagai peserta IHT difasilitasi dengan baik dengan suasana yang kondusif.

Pengalaman yang didapat guru sebagai peserta IHT sangat relevan dengan tulisan Tatang Sunendar tentang "Fasilitator Pelatihan Yang Diidamkan". Pengajar harus mampu bertransformasi menjadi fasilitator. Fasilitator ideal bukan yang pandai berceramah, melainkan yang mampu menciptakan kondisi optimal bagi peserta untuk belajar mandiri.

Dalam pembelajaran mendalam, guru berevolusi dari pengajar menjadi fasilitator. Pengajar fokus pada apa yang dia sampaikan, fasilitator fokus pada apa yang siswa alami. Ketika guru tidak mendominasi dengan ceramah panjang, tapi memandu dengan pertanyaan pemantik, guru berarti sudah memahmi esensi fasilitator sesungguhnya.

Salah satu kunci pembelajaran mendalam yang sering diabaikan adalah membangun koneksi emosional. Siswa belajar dengan hati sebelum dengan pikiran. Ketika mereka merasa aman, dihargai, dan dipahami, otak mereka terbuka untuk menerima informasi baru.

Dalam IHT yang baru ini dilaksanakan, koneksi emosional dibangun melalui penghargaan terhadap preferensi individual. Ketika guru diberi pilihan tempat dan cara belajar, mereka merasakan dihargai sebagai individu unik. Perasaan ini menciptakan rasa aman yang membuat mereka lebih terbuka untuk belajar.

Momen paling berkesan dalam IHT adalah ketika para guru menyadari bahwa tugas mereka bukanlah latihan kosong, melainkan persiapan nyata untuk tahun ajaran mendatang. Tingkat keterlibatan meningkat drastis karena mereka tahu dampaknya terhadap pembelajaran siswa.

Ketika siswa memahami relevansi langsung pembelajaran dengan kehidupan mereka, motivasi akan muncul secara natural. Mereka tidak lagi bertanya "Untuk apa saya belajar ini?" tapi "Bagaimana saya bisa menguasai ini lebih baik?"

Momen paling berharga dalam IHT adalah saat refleksi. Seorang guru bercerita bagaimana dia lebih kreatif ketika mendengarkan musik, sementara guru lain merasa lebih fokus dalam ketenangan. Mereka kemudian merefleksikan bagaimana pengalaman ini bisa diterapkan di kelas.

Refleksi dalam pembelajaran mendalam bukan sekadar menanyakan "Apa yang kalian pelajari?" tapi menggali proses pembelajaran itu sendiri. Pertanyaan seperti "Bagaimana perasaan kalian ketika diberi kebebasan memilih cara belajar?" jauh lebih bermakna.

Ketika pembelajaran mendalam diterapkan konsisten, siswa tidak lagi belajar dengan sistem menghafal -mudah- lupa, tapi benar-benar membangun pemahaman kokoh dan aplikatif. Siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, motivasi intrinsik, dan keingintahuan mendalam.

Seperti yang ditulis Tatang Sunendar, fasilitator terbaik memahami bahwa pembelajaran sejati terjadi ketika peserta merasakan, bukan hanya mendengar. Dan perasaan ini hanya muncul ketika pembelajaran menyentuh hati sebelum menyentuh pikiran.

Transformasi pembelajaran mendalam dimulai dari guru itu sendiri. Ketika guru merasakan bagaimana pembelajaran mendalam memengaruhi kualitas pemahaman, guru akan secara natural ingin memberikan pengalaman yang sama kepada siswa.

Perjalanan menuju pembelajaran mendalam mungkin tidak mudah, tapi dampaknya luar biasa. Ketika kita melihat mata siswa berbinar karena benar-benar memahami sesuatu, ketika mereka antusias bercerita tentang aplikasi pengetahuan dalam kehidupan, kita tahu pembelajaran sejati telah terjadi.

Pembelajaran mendalam bukan tentang mengajar lebih banyak, tapi membantu siswa memahami lebih dalam. Dan semua itu itu dimulai dari hati guru yang benar-benar peduli dengan perkembangan setiap siswa yang dipercayakan kepadanya.

Pembelajaran mendalam bukan destinasi, melainkan perjalanan yang dimulai ketika kita berani mengubah cara pandang tentang apa arti mendidik yang sesungguhnya.

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Cerutu

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...