MERINDUKAN PEMINPIN YANG HUMASIS

Penulis A. Rusdiana

Dibaca: 203 kali

A. Rusdiana

Oleh A. Rusdiana

 

Pemimpin yang humanis adalah pemimpin yang memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan dalam kepemimpinannya. Dalam konteks MPH, pemimpin humanis diposisikan setelah pemimpin "merakyat, profesional, humanis". Kepemimpimpinan dengan orientasi hubungan kemanusiaan (human relation) yang dipelopori oleh Mayo memberikan perhatian terhadap hubungan kemanusiaan kepada bawahan. Menurut Luthans, "kepemimpinan adalah soal menciptakan pengharapan, kemungkinan, dan masa depan. Kepemimpinan tidak hanya mengubah individu dan organisasi sampai kepada aspirasi mereka yang tertinggi, tetapi juga menciptakan momen-meomen visi dan komprehensi yang memungkinkan orang berubah ke tingkat pengalaman dan kinerja yang baru. Eksperimen Mayo menyimpulkan bahwa: perhatian khusus dapat menyebabkan seseorang meningkatkan usahanya" (Handoko,1984).

Teori Kepemimpinan Humanistik Elton Mayo ada 7 point tentang Human Relation, yaitu: (1) Mengutamakan hubungan/interaksi manusia atasan dengan bawahan, bawahan dengan atasan, antar tenaga kerja dan lain-lain; (2) Baik-buruknya organisasi diidentifikasikan oleh: hubungan manusianya, moral manusia, efisiensi kerja dll.; (3) Untuk menciptakan hubungan manusia yang baik, manager harus memahami mengapa karyawan melakukan apa yang ia lakukan, faktor sosial apa yang mendorong, dan psikologis yang bagaimana yang memotivasi mereka; (4) Keberhasilan produktifitas organisasi dipengaruhi oleh rantai emosional yang kompleks. Hubungan manusia antara pekerja lebih menentukan produktifitas daripada kondisi kerja. Perhatian simpatik dari pengawas/manager yang mereka terima mendorong peningkatan motivasi kerja.(5) Hawthorne effect: Perhatian khusus (perasaan terpilih menjadi partisipan sangat mempengaruhi usaha); (6) Kelompok kerja informal lingkungan sosial sangat berpengaruh terhadap produktivitas; dan (7) Konsep manusia sebagai mahluk sosial yang termotivasi untuk memenuhi kebutuhan sosial, keinginan timbal balik dalam pekerjaan, responsif terhadap dorongan kelompok kerja, pengawasan administrasi telah menggantikan konsep manusia sebagai mahluk rasional yang termotivasi memenuhi kebutuhan fisik. (Adi Permadi, 2019).

Selanjunya Manullang (Adi Permadi, 2019); mereduksi 7 point tentang Human Relation Mayo menjadi 4 nilai esensial yang harus dimiliki oleh kepemimpinan yang humanis meliputi: Pertama; Kemampuan berkomunikasi: Kemampuan berkomunikasi yang baik sangat penting bagi seorang pemimpin humanis. Seorang pemimpin yang efektif harus dapat menyampaikan gagasan, ide, dan instruksi dengan jelas dan mudah dipahami oleh orang lain. Dengan kemampuan berkomunikasi yang baik, seorang pemimpin dapat membangun hubungan yang kuat dan saling menguntungkan dengan anggota timnya.

Kedua; Kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan orang lain: Seorang pemimpin humanis harus mampu memotivasi dirinya sendiri dan orang lain. Motivasi adalah faktor penting dalam mencapai tujuan, terutama dalam lingkungan kerja. Seorang pemimpin yang mampu memotivasi anggota timnya dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja tim secara keseluruhan.

Ketiga: Kemampuan menerima tanggungjawab dan memimpin orang lain: Seorang pemimpin humanis harus mampu menerima tanggung jawab atas tindakan dan keputusannya. Selain itu, pemimpin humanis harus memimpin orang lain dengan sikap yang positif dan membangun hubungan yang baik dengan anggota timnya. Pemimpin yang humanis juga harus mampu memberikan arahan dan instruksi yang jelas, serta memastikan bahwa anggota timnya memiliki sumber daya yang cukup untuk mencapai tujuan.

Keempat: Kemampuan berempati terhadap orang lain dan memahami permasalahan mereka: Kemampuan berempati sangat penting bagi seorang pemimpin humanis. Seorang pemimpin yang berempati dapat memahami permasalahan yang dihadapi oleh anggota timnya dan membantu mereka dalam menyelesaikan masalah tersebut. Dengan memiliki kemampuan berempati, seorang pemimpin dapat membangun hubungan yang kuat dan saling menguntungkan dengan anggota timnya, sehingga meningkatkan kinerja dan produktivitas tim secara keseluruhan.

Pesan moral bagi para pemimpin dari 4 poin di atas adalah bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang humanis dan efektif, mereka harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, mampu memotivasi diri sendiri dan orang lain, menerima tanggung jawab dan memimpin dengan sikap positif, serta berempati terhadap orang lain dan memahami permasalahan mereka.

Sebagaimana kita pahami dalam sejarah, bahwa Nabi hadir membawa sistem kepercayaan alternatif yang egaliter dan membebaskan. Karena ajaran  yang disampaikan nabi membawa pesan bahwa segala ketundukan dan kepatuhan hanya diberikan kepada Allah, bukan kepada manusia. Karena kebenaran datang dari Allah, maka kekuasaan yang sebenarnya juga berada pada kekuasaan-Nya, bukan kepada raja atau pemerintah. Secara empirik kemudian nabi melakukan gerakan reformasi dengan mengembalikan kekuasaan dari tangan raja (kelompok elit) kepada kekuasaan Allah melalui sistem musyawarah. Kehadiran nabi tersebut membawa angin segar bagi “masyarakat baru” yang mendambakan sebuah kondisi sosial masyarakat yang adil dan beradab. Karena apa yang dibawa nabi sebetulnya sistem ajaran yang menegakkan nilai-nilai sosial/kemanusiaan: persamaan hak, persamaan derajat di antara sesama manusia, kejujuran dan keadilan (akhlaq hasanah). Sesuai posisinya sebagai pembawa  rahmat, nabi terus berjuang merombak masyarakat pagan-jahiliyah menuju masyarakat yang beradab, atau dalam bahasa al-Qur’an disebut min-’l-Dhulumat ila-’l-Nur (lihat QS. Al-Baqarah:257, al-Maidah:15, al-Hadid: 9, al-Thalaq:10-11 dan al-Ahzab:41-43).

Selama kurang lebih sepuluh tahun di Madinah, nabi telah melakukan reformasi secara gradual untuk menegakkan Islam, yang memiliki perhatian terhadap tatanan masyarakat yang ideal. Masyarakat dikehendaki dalam rumusan piagam Madinah, adalah masyarakat yang memiliki kesatuan kolektif dan masyarakat muslim yang berperadaban tinggi, baik dalam konteks relasi antar manusia maupun dengan Tuhan. Kasih sayang terhadap golongan  yang lemah seperti kaum feminis, para janda dan anak-anak yatim. Tidak berlebihan jika Michael Hart dalam laporan penelitiannya: The 100: A Ranking of Most Influential in History, menempatkan beliau sebagai tokoh peringkat pertama yang paling berpengaruh di dunia.

Wallahu A'lam Bissowab.

Penulis:

Ahmad Rusdiana, Founder tresnabhakti.org, pegiat Rumah Baca Tresna Bhakti, Pengampu mata kuliah manajemen pendidikan; Penulis buku: Kepemimpinan Pendidikan; Kebijakan Pendidikan; Etika Komunikasi Organisasi; Manajemen Risiko, Kewirausahaan Teori dan Praktek; Manajemen Kewirausahaan Pendidikan; Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pendidik, Peneliti, dan Pengabdi; Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al Misbah Cipadung Bandung yang mengembangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 70 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK TPA Paket A B C. Rumah Baca Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan  Panawangan Kab. Ciamis Jawa Barat. Korespondensi :(1) http://a.rusdiana.id (2) http://tresnabhakti.org/webprofil;  (3) http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators (4) https://www.google.com/search?q=buku+ a.rusdiana +shopee&source (5) https://play.google.com/store/books/author?id.

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Semangat Revitalisasi di Mata Angkie

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...