Penulis: Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd.

Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd.
Oleh Dr. Drs. Raya
Erwana, M.Pd.
(Kepala SMAN 1
Cigombong Kab. Bogor)
Sebuah parodi
pendidikan tersaji di kanal youtube dengan jenaka menggambarkan atau lebih
tepatnya menyindir orang tua siswa yang seolah selalu menuntut prestasi terbaik
anaknya dari segi akademik. Karena kalau anaknya tidak masuk sepuluh besar
terbaik, akan dibully habis-habisan bahkan dimarahi sampai diberi hukuman
fisik.
Dalam parodi
tersebut dikisahkan seorang guru sedang membagikan rapot dengan memanggil orang
tua satu per satu ke depan.
Dengan sabar sang
guru memberikan penjelasan tentang perkembangan setiap anaknya, baik dari segi
akademik maupun non akademik dan tentu ditambahi dengan berbagai arahan dan
nasehat sebagai komitmen mendidik anak didik secara bersama-sama.
Tibalah pada salah
seorang orang tua murid yang sepertinya mempunyai ambisi tersendiri karena
terlihat dari roman muka dan juga dari ambisi yang diperlihatkan dari gerak
tubuhnya. Ketika sudah berhadapan, sang guru berkata sambil menjabat tangan
orang tua murid tersebut, "Selamat, anak bapak meraih rangking 35 dari 35
peserta didik yang ada di kelas ini."
Tentu saja orang
tua murid tadi terhenyak kaget dan roman marah juga kecewa segera terpancar
dari raut wajahnya. Mengetahui hal itu sang guru melanjutkan bicaranya,
"Bapak jangan marah atau kecewa dulu, sebab anak bapak ternyata jago
atletik di sekolah kami, sehingga dia membuat harum sekolah ini sampai ke
tingkat kabupaten." Lanjut sang guru. "Bapak jangan memarahi anak
bapak, tetapi bapak harus memberikan motivasi yang tinggi untuk anak
bapak."
Menelaah parodi di
atas, sejenak pikiran melayang ke beberapa puluh tahun silam, bertafakur
mengenang perjalanan hidup sampai saat ini.
Merasa pernah
menjadi siswa yang tidak memiliki kemampuan akademik yang baik, padahal
notabene kedua orangtuaku adalah guru yang mendidik dan memberikan ilmu kepada
siapapun, termasuk aku diantaranya. Di setiap jam pelajaran berlangsung yang
ada hanya perasaan kesal yang menemani karena tidak bisa memahami setiap materi
mata pelajaran yang diberikan. Terkadang ada rasa iri kepada teman yang bisa
dan mampu meraih berbagai prestasi akademik.
Hanya satu yang
patut aku syukuri bahwa orangtuaku tidak pernah menuntut terlalu jauh mengenai
prestasi akademik tadi, apalagi sampai membully atau menghukum secara fisik.
Malah mereka cenderung membiarkan aku mau ke arah mana aku berjalan dalam
menapaki dunia pendidikan hingga akhirnya nanti.
Maka untuk
melampiaskan kekesalanku, aku salurkan minat bakatku ke bidang seni dan sastra
yang sepertinya ada turunan dari kedua orangtuaku. Aku belajar musik
tradisional sampai modern secara otodidak. Piawai bermain gitar sampai 'gendang
jaipong'. Kadang bermain 'kacapi suling' dan organ juga.
Dari sana baru aku
sadari. Aku bersyukur kepada Allah SWT ternyata aku juga diberi kelebihan yang
sangat luar biasa, kelebihan non akademik yang ternyata orang lain pun belum
tentu bisa melakukannya. Dan hal ini juga ternyata membawa aku kepada
kesuksesan yang hakiki sebagaimana seseorang yang berkemampuan di bidang
akademik. Karena, dalam hal pendidikan maupun jenjang karir pun ternyata aku
tidak kalah dengan yang berkemampuan di bidang akademik. Alhamdulillah.
Palabuhanratu,
27/04/23