Nilai itu Hanya Angka bukan Patokan Kesuksesan (Kisah inspiratif)

Penulis: Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd.

Dibaca: 203 kali

Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd.

Oleh Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd.

(Kepala SMAN 1 Cigombong Kab. Bogor)

 

Sebuah parodi pendidikan tersaji di kanal youtube dengan jenaka menggambarkan atau lebih tepatnya menyindir orang tua siswa yang seolah selalu menuntut prestasi terbaik anaknya dari segi akademik. Karena kalau anaknya tidak masuk sepuluh besar terbaik, akan dibully habis-habisan bahkan dimarahi sampai diberi hukuman fisik.

Dalam parodi tersebut dikisahkan seorang guru sedang membagikan rapot dengan memanggil orang tua satu per satu ke depan.

Dengan sabar sang guru memberikan penjelasan tentang perkembangan setiap anaknya, baik dari segi akademik maupun non akademik dan tentu ditambahi dengan berbagai arahan dan nasehat sebagai komitmen mendidik anak didik secara bersama-sama.

Tibalah pada salah seorang orang tua murid yang sepertinya mempunyai ambisi tersendiri karena terlihat dari roman muka dan juga dari ambisi yang diperlihatkan dari gerak tubuhnya. Ketika sudah berhadapan, sang guru berkata sambil menjabat tangan orang tua murid tersebut, "Selamat, anak bapak meraih rangking 35 dari 35 peserta didik yang ada di kelas ini."

Tentu saja orang tua murid tadi terhenyak kaget dan roman marah juga kecewa segera terpancar dari raut wajahnya. Mengetahui hal itu sang guru melanjutkan bicaranya, "Bapak jangan marah atau kecewa dulu, sebab anak bapak ternyata jago atletik di sekolah kami, sehingga dia membuat harum sekolah ini sampai ke tingkat kabupaten." Lanjut sang guru. "Bapak jangan memarahi anak bapak, tetapi bapak harus memberikan motivasi yang tinggi untuk anak bapak."

Menelaah parodi di atas, sejenak pikiran melayang ke beberapa puluh tahun silam, bertafakur mengenang perjalanan hidup sampai saat ini.

Merasa pernah menjadi siswa yang tidak memiliki kemampuan akademik yang baik, padahal notabene kedua orangtuaku adalah guru yang mendidik dan memberikan ilmu kepada siapapun, termasuk aku diantaranya. Di setiap jam pelajaran berlangsung yang ada hanya perasaan kesal yang menemani karena tidak bisa memahami setiap materi mata pelajaran yang diberikan. Terkadang ada rasa iri kepada teman yang bisa dan mampu meraih berbagai prestasi akademik.

Hanya satu yang patut aku syukuri bahwa orangtuaku tidak pernah menuntut terlalu jauh mengenai prestasi akademik tadi, apalagi sampai membully atau menghukum secara fisik. Malah mereka cenderung membiarkan aku mau ke arah mana aku berjalan dalam menapaki dunia pendidikan hingga akhirnya nanti.

Maka untuk melampiaskan kekesalanku, aku salurkan minat bakatku ke bidang seni dan sastra yang sepertinya ada turunan dari kedua orangtuaku. Aku belajar musik tradisional sampai modern secara otodidak. Piawai bermain gitar sampai 'gendang jaipong'. Kadang bermain 'kacapi suling' dan organ juga.

Dari sana baru aku sadari. Aku bersyukur kepada Allah SWT ternyata aku juga diberi kelebihan yang sangat luar biasa, kelebihan non akademik yang ternyata orang lain pun belum tentu bisa melakukannya. Dan hal ini juga ternyata membawa aku kepada kesuksesan yang hakiki sebagaimana seseorang yang berkemampuan di bidang akademik. Karena, dalam hal pendidikan maupun jenjang karir pun ternyata aku tidak kalah dengan yang berkemampuan di bidang akademik. Alhamdulillah.

Palabuhanratu, 27/04/23

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Cerutu

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...