Penulis: Taopik ipebe

Taopik ipebe
Oleh Taopik ipebe
(Kepala SMAN 1
Leuwiliang)
Manusia dalam menjalani
kehidupannya biasanya membutuhkan dukungan materi berupa uang dan kekayaan.
Uang dan kekayaan dapat diperoleh diantarnya dengan menjalani profesi tertentu.
Terlalu banyak profesi yang bisa kita temukan di dunia ini, diantaranya dokter,
perawat, pedagang, pengusaha, arsitek, guru,
jurnalis dan lain-lain. Memilih profesi merupakan bagian dari cita-cita, tapi
tidak semua profesi yang dijalani sesuai cita-cita.
Guru adalah salah satu
profesi yang bisa dipilih manusia. Secara hakikat, sebenarnya manusia merupakan
guru pertama dan utama bagi putera-puterinya, artinya setiap manusia bisa
menjadi guru. Jika para orang tua sadar bahwa salah satu fungsi mereka adalah
guru bagi putera-puterinya, maka keduanya pasti akan mencari atau mempelajari
ilmu untuk melaksanakan tugas itu dengan baik. Hal ini dilakukan agar hasilnya
maksimal, dibuktikan dengan kualitas karakter, kecerdasan dan keterampilan putera-puterinya
yang lebih baik.
Di
samping sebagai tugas kedua orang tua, guru juga telah diakui merupakan sebuah
profesi. Kedudukan guru sebagai tenaga profesional tercantum dalam
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen pada Pasal 2 yang menjelaskan bahwa guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga
profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah dan
pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
Mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevalusi peserta didik,
merupakan tugas guru di lembaga pendidikan formal dari mulai pendidikan anak
usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Keempat jenjang ini
merupakan jenjang pendidikan yang mengutamakan peletakan fundamen yang kuat,
terutama tentang karakter untuk membangun kepribadian peserta didik.
Pedagogi, sosial, kepribadian
dan profesionalisme merupakan empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang
guru dalam menjalankan profesinya. Secara etimologis kata dari pedagogi asalnya
dari bahasa Yunani kuno yang artinya membimbing anak-anak. Adapun kompetensi kepribadian
berkaitan dengan karakter personal. Ada indikator yang mencerminkan kepribadian
positif seorang guru yaitu: supel, sabar, disiplin, jujur, rendah hati, berwibawa,
santun, empati, ikhlas, berakhlak mulia, bertindak sesuai norma sosial &
hukum, dan lain-lain.
Kepribadian
positif wajib dimiliki seorang guru karena para guru harus bisa jadi teladan
bagi para siswanya. Selain itu, guru juga harus mampu mendidik para siswanya
supaya memiliki attitude yang baik. Kompetensi Profesional Guru adalah
kemampuan atau keterampilan yang wajib dimiliki supaya tugas-tugas keguruan
bisa diselesaikan dengan baik. Kompetensi Sosial berkaitan dengan keterampilan
komunikasi, bersikap dan berinteraksi secara umum, baik itu dengan peserta
didik, sesama guru, tenaga kependidikan, orang tua siswa, hingga masyarakat
secara luas.
Empat
kompetensi guru ini, jika ditambah dengan kualifikasi akademik minimal S1 atau
Diploma IV dan memiliki sertifikat pendidik, maka hampir bisa dikatakan bahwa pribadi
dan profesi guru adalah sempurna dalam mendidik. Harapannya adalah, guru mampu
menjawab keinginan, kebutuhan dan tantangan yang datang dari orang tua yang
menitipkan anaknya di sekolah. Sangat jarang pekerjaan yang memiliki karyawan
dengan kualifikasi minimal Sarjana atau Diploma empat.
Para
Guru terbiasa berkumpul, berdiskusi, berkolaborasi untuk tujuan yang sama yakni
mendidik anak-anak ideologisnya agar menjadi manusia yang memiliki karakter mulia,
cerdas dalam berpikir dan terampil menjalankan kehidupan di masa yang akan
datang. Para guru terkadang lupa dengan kehidupannya di luar sekolah, waktu untuk
keluarganya pun sering tersita untuk memikirkan, membimbing dan menangani
permasalahan anak-anak ideologisnya di sekolah.
Kekuatan
hati yang ingin selalu berbagi, yang ingin melihat anak-anak didiknya lebih maju
dari dirinya, membuatnya terus istiqomah menjalani profesinya, profesi yang
mulia, walaupun bisa jadi secara materi masih jauh dari sejahtera. Kekuatan hati ini
juga yang sering mengabaikan perasaan atau sakit hatinya saat diprotes orang tua
atau dianggap tidak ada perannya dalam membuat anak didiknya sukses.
Rosulullah
shalallaahu ‘alaihi wasalam sendiri
diutus untuk menyempurnakan akhlak. Kesempurnaan akhlak tidak akan terjadi
tanpa pendidikan seorang guru, maka Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wasalam merupakan guru besar umat manusia, khususnya
umat Islam. Abu Hurairah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Sungguh aku diutus menjadi rasul
tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang saleh (baik).”
Profesi Guru dulu
dipandang sebelah mata, namun kini telah menjadi primadona. Pergeseran
penilaian masyarakat terhadap profesi guru selain karena kesejahteraan yang
mulai membaik, juga terbukti sangat pentingnya peran guru ketika siswa “dikembalikan”
kepada orang tuanya saat pandemi Covid-19 berlangsung.
Mulianya profesi
guru juga terdukung karena guru melakukan aktifitas yang lebih mulia dibanding
profesi lain. Mereka mendidik, meneladankan, mengajak kepada kebaikan, mencegah
anak didiknya dari berbuat tidak baik (kemunkaran). Kemuliaan guru diakui Rosulullah
shalallaahu ‘alaihi wasalam. Beliau sendiri mengaku bahwa dirinya adalah pendidik,
beliau mencontohkan cara mendidik dengan lembut, tidak kaku dan menggunakan
metode yang mudah. Beliau shalallaahu ‘alaihi wasalam bersabda:
Rasulullah Saw
bersabda: “Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kaku dan keras akan tetapi
mengutusku sebagai seorang pendidik dan mempermudah”. (HR. Muslim No
2703)
Cara mendidik,
cara mengajar yang baik dilakukan oleh Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wasalam diakui oleh sahabatnya, yakni Muawiyah bin
Hakam, dia berkata:
“Belum pernah aku
melihat sebelum dan sesudahnya orang yang lebih baik pengajaranya selain beliau
(Nabi Muhammad Saw)”
Dalam riwayat dari
Abu Dawud disebutkan:
“Aku
belum pernah melihat seorang pendidik yang lebih santun dari Rasulullah Saw” (HR. Abu Dawud No
931)
Tidak ada pekerjaan yang ladang pahalanya lebih
luas daripada ladang pahala yang dimiliki guru. Ketika seorang guru mengajak
kebaikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar kemudian
dilaksanakan atau diikuti oleh anak didiknya, maka pahala yang sama untuk anak
didiknya akan mengalir untuk gurunya, tanpa mengurangi pahala anak didiknya
tersebut. Bisa dibayangkan jika anak didiknya berjumlah ratusan bahkan ribuan.
Yahya bin Ayyub,
Qutaibah bin Sa’id, dan Ibnu Hujr telah menyampaikan hadis kepada kami. Mereka
berkata bahwa Isma’il, yakni Ibnu Ja’far, mendapat hadis dari al-‘Ala’, dari
ayahnya, dari Abi Hurairah RA. bahwa sesungguhnya Rosulullah shalallaahu
‘alaihi wasalam. bersabda: “Siapa saja yang mengajak kepada petunjuk
(kebenaran), maka baginya pahala (kebaikan) seperti pahala orang yang
mengikutinya dan itu tidak mengurangi sedikit pun pahala mereka yang mengikutinya.
Dan siapa saja yang mengajak kepada kesesatan (keburukan), baginya menanggung
dosanya seperti dosa orang yang mengikutinya. Itu tidak mengurangi sedikitpun
dari dosa mereka yang mengikutinya”. (HR. Muslim).
Tentu kerugian
besar ketika kemuliaan profesi ini disia-siakan oleh guru. Mungkin guru tidak
mampu beramal jariah, namun guru pasti mampu mengajarkan ilmu yang bermanfaat.
Jika kemudian guru itu mampu mendidik anak didiknya dengan akhlak yang baik. Pendidikan
akhlak anak akan melahirkan anak didik yang shaleh/shalehah,. Jika kemudian
mereka mendoakan gurunya, maka guru itu paling tidak akan mendapatkan pahala
tanpa putus saat dia meninggal dari dua pintu yakni ilmu yang bermanfaat dan
anak (biologis dan ideologis) shaleh yang mendoakannya.
“Jika seseorang
meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu):
sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a
anak yang sholeh” (HR. Muslim
no. 1631)
Ketika seorang
guru sudah mengetahui bahwa profesinya adalah profesi yang mulia dengan peluang
mendapatkan pahala yang berlimpah, maka dia harus istiqomah dalam tugasnya. Guru
harus tahan terhadap godaan pindah profesi, dia juga harus menguatkan niat melaksanakan
tugasnya sebagai ibadah untuk meraih rido Allah Subhanahu wata'ala.
Selamat Hari Guru Nasional, 25 November 2022. Semoga Allah Subhanahu wata'ala melimpahkan pahala untuk aktivitas para guru dalam mendidik, mengajar dan melatih anak didiknya, aamiin.
Wallahu a’lam