Profesi Mulia Seorang Guru

Penulis: Taopik ipebe

Dibaca: 978 kali

Taopik ipebe

Oleh Taopik ipebe

(Kepala SMAN 1 Leuwiliang)

 

 

Manusia dalam menjalani kehidupannya biasanya membutuhkan dukungan materi berupa uang dan kekayaan. Uang dan kekayaan dapat diperoleh diantarnya dengan menjalani profesi tertentu. Terlalu banyak profesi yang bisa kita temukan di dunia ini, diantaranya dokter, perawat,  pedagang, pengusaha, arsitek, guru, jurnalis dan lain-lain. Memilih profesi merupakan bagian dari cita-cita, tapi tidak semua profesi yang dijalani sesuai cita-cita.

 

Guru adalah salah satu profesi yang bisa dipilih manusia. Secara hakikat, sebenarnya manusia merupakan guru pertama dan utama bagi putera-puterinya, artinya setiap manusia bisa menjadi guru. Jika para orang tua sadar bahwa salah satu fungsi mereka adalah guru bagi putera-puterinya, maka keduanya pasti akan mencari atau mempelajari ilmu untuk melaksanakan tugas itu dengan baik. Hal ini dilakukan agar hasilnya maksimal, dibuktikan dengan kualitas karakter, kecerdasan dan keterampilan putera-puterinya yang lebih baik.

 

Di samping sebagai tugas kedua orang tua, guru juga telah diakui merupakan sebuah profesi. Kedudukan guru sebagai tenaga profesional tercantum dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada Pasal 2 yang menjelaskan bahwa guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevalusi peserta didik, merupakan tugas guru di lembaga pendidikan formal dari mulai pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Keempat jenjang ini merupakan jenjang pendidikan yang mengutamakan peletakan fundamen yang kuat, terutama tentang karakter untuk membangun kepribadian peserta didik.

 

Pedagogi, sosial, kepribadian dan profesionalisme merupakan empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam menjalankan profesinya. Secara etimologis kata dari pedagogi asalnya dari bahasa Yunani kuno yang artinya membimbing anak-anak. Adapun kompetensi kepribadian berkaitan dengan karakter personal. Ada indikator yang mencerminkan kepribadian positif seorang guru yaitu: supel, sabar, disiplin, jujur, rendah hati, berwibawa, santun, empati, ikhlas, berakhlak mulia, bertindak sesuai norma sosial & hukum, dan lain-lain.

 

Kepribadian positif wajib dimiliki seorang guru karena para guru harus bisa jadi teladan bagi para siswanya. Selain itu, guru juga harus mampu mendidik para siswanya supaya memiliki attitude yang baik. Kompetensi Profesional Guru adalah kemampuan atau keterampilan yang wajib dimiliki supaya tugas-tugas keguruan bisa diselesaikan dengan baik. Kompetensi Sosial berkaitan dengan keterampilan komunikasi, bersikap dan berinteraksi secara umum, baik itu dengan peserta didik, sesama guru, tenaga kependidikan, orang tua siswa, hingga masyarakat secara luas.

 

Empat kompetensi guru ini, jika ditambah dengan kualifikasi akademik minimal S1 atau Diploma IV dan memiliki sertifikat pendidik, maka hampir bisa dikatakan bahwa pribadi dan profesi guru adalah sempurna dalam mendidik. Harapannya adalah, guru mampu menjawab keinginan, kebutuhan dan tantangan yang datang dari orang tua yang menitipkan anaknya di sekolah. Sangat jarang pekerjaan yang memiliki karyawan dengan kualifikasi minimal Sarjana atau Diploma empat.

 

Para Guru terbiasa berkumpul, berdiskusi, berkolaborasi untuk tujuan yang sama yakni mendidik anak-anak ideologisnya agar menjadi manusia yang memiliki karakter mulia, cerdas dalam berpikir dan terampil menjalankan kehidupan di masa yang akan datang. Para guru terkadang lupa dengan kehidupannya di luar sekolah, waktu untuk keluarganya pun sering tersita untuk memikirkan, membimbing dan menangani permasalahan anak-anak ideologisnya di sekolah.

 

Kekuatan hati yang ingin selalu berbagi, yang ingin melihat anak-anak didiknya lebih maju dari dirinya, membuatnya terus istiqomah menjalani profesinya, profesi yang mulia, walaupun bisa jadi secara materi  masih jauh dari sejahtera. Kekuatan hati ini juga yang sering mengabaikan perasaan atau sakit hatinya saat diprotes orang tua atau dianggap tidak ada perannya dalam membuat anak didiknya sukses.

 

Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wasalam  sendiri diutus untuk menyempurnakan akhlak. Kesempurnaan akhlak tidak akan terjadi tanpa pendidikan seorang guru, maka Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wasalam  merupakan guru besar umat manusia, khususnya umat Islam. Abu Hurairah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

 

Sungguh aku diutus menjadi rasul tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang saleh (baik).

 

Profesi Guru dulu dipandang sebelah mata, namun kini telah menjadi primadona. Pergeseran penilaian masyarakat terhadap profesi guru selain karena kesejahteraan yang mulai membaik, juga terbukti sangat pentingnya peran guru ketika siswa “dikembalikan” kepada orang tuanya saat pandemi Covid-19 berlangsung.

 

Mulianya profesi guru juga terdukung karena guru melakukan aktifitas yang lebih mulia dibanding profesi lain. Mereka mendidik, meneladankan, mengajak kepada kebaikan, mencegah anak didiknya dari berbuat tidak baik (kemunkaran). Kemuliaan guru diakui Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wasalam. Beliau sendiri mengaku bahwa dirinya adalah pendidik, beliau mencontohkan cara mendidik dengan lembut, tidak kaku dan menggunakan metode yang mudah. Beliau shalallaahu ‘alaihi wasalam bersabda:

 

Rasulullah Saw bersabda: “Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kaku dan keras akan tetapi mengutusku sebagai seorang pendidik dan mempermudah”. (HR. Muslim No 2703)

 

Cara mendidik, cara mengajar yang baik dilakukan oleh Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wasalam  diakui oleh sahabatnya, yakni Muawiyah bin Hakam, dia berkata:

 

“Belum pernah aku melihat sebelum dan sesudahnya orang yang lebih baik pengajaranya selain beliau (Nabi Muhammad Saw)”

 

Dalam riwayat dari Abu Dawud disebutkan:

“Aku belum pernah melihat seorang pendidik yang lebih santun dari Rasulullah Saw” (HR. Abu Dawud No 931)

 

Tidak ada pekerjaan yang ladang pahalanya lebih luas daripada ladang pahala yang dimiliki guru. Ketika seorang guru mengajak kebaikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar kemudian dilaksanakan atau diikuti oleh anak didiknya, maka pahala yang sama untuk anak didiknya akan mengalir untuk gurunya, tanpa mengurangi pahala anak didiknya tersebut. Bisa dibayangkan jika anak didiknya berjumlah ratusan bahkan ribuan.

 

Yahya bin Ayyub, Qutaibah bin Sa’id, dan Ibnu Hujr telah menyampaikan hadis kepada kami. Mereka berkata bahwa Isma’il, yakni Ibnu Ja’far, mendapat hadis dari al-‘Ala’, dari ayahnya, dari Abi Hurairah RA. bahwa sesungguhnya Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wasalam. bersabda: “Siapa saja yang mengajak kepada petunjuk (kebenaran), maka baginya pahala (kebaikan) seperti pahala orang yang mengikutinya dan itu tidak mengurangi sedikit pun pahala mereka yang mengikutinya. Dan siapa saja yang mengajak kepada kesesatan (keburukan), baginya menanggung dosanya seperti dosa orang yang mengikutinya. Itu tidak mengurangi sedikitpun dari dosa mereka yang mengikutinya”. (HR. Muslim).

 

Tentu kerugian besar ketika kemuliaan profesi ini disia-siakan oleh guru. Mungkin guru tidak mampu beramal jariah, namun guru pasti mampu mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Jika kemudian guru itu mampu mendidik anak didiknya dengan akhlak yang baik. Pendidikan akhlak anak akan melahirkan anak didik yang shaleh/shalehah,. Jika kemudian mereka mendoakan gurunya, maka guru itu paling tidak akan mendapatkan pahala tanpa putus saat dia meninggal dari dua pintu yakni ilmu yang bermanfaat dan anak (biologis dan ideologis) shaleh yang mendoakannya.

 

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang sholeh(HR. Muslim no. 1631)

 

Ketika seorang guru sudah mengetahui bahwa profesinya adalah profesi yang mulia dengan peluang mendapatkan pahala yang berlimpah, maka dia harus istiqomah dalam tugasnya. Guru harus tahan terhadap godaan pindah profesi, dia juga harus menguatkan niat melaksanakan tugasnya sebagai ibadah untuk meraih rido Allah Subhanahu wata'ala.

 

Selamat Hari Guru Nasional, 25 November 2022. Semoga Allah Subhanahu wata'ala melimpahkan pahala untuk aktivitas para guru dalam mendidik, mengajar dan melatih anak didiknya, aamiin. 

 

Wallahu a’lam

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Cerutu

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...