RAMADHAN BULAN PENDIKAN DAN PELATIHAN (Bag. IV): Menjadi Peserta Didik Ramadhan yang Sukses

Penulis A. Rusdiana

Dibaca: 173 kali

A. Rusdiana

Oleh A. Rusdiana

 

PARA ULAMA sepakat menyebut bulan Ramadhan sebagai syahrut at-tarbiyah atau bulan pendidikan. Ramadhan ibarat sebuah sekolah atau universitas yang siap mencetak anak didiknya menjadi pribadi yang pintar, matang, dan sukses. Bedanya dengan lembaga pendidikan lain, peserta didik di lembaga pendidikan bernama Ramadhan ini langsung dibina dan dididik oleh Allah SWT.

Bukan guru, dosen dan guru besar biasa seperti yang kita temui di beberapa sekolah dan perguruan tinggi di dalam dan luar negeri. Bisa dibayangkan, jika dzat yang menciptakan alam ini sekaligus Tuhan yang maha mengetahui langsung mendidik kita. Hasilnya sudah pasti sempurna. Tidak ada sedikitpun ruang keraguan pada-Nya. Alumni-alumni Ramadhan sudah pasti menjelma menjadi pribadi yang didambakan karena kualitas dirinya.

Kesuksesan yang dia raih tidak hanya berguna untuk dirinya, tapi berguna pula untuk keluarga, lingkungan, masyarakat, bangsa, dan agamanya. Allah SWT telah menyiapkan kurikulum sempurna melalui serangkaian ibadah yang dipastikan berhasil mendidik kita. Dari terbit fajar hingga tenggelamnnya matahari, proses pendidikan itu terus dia berikan tanpa henti.

Pertama: Diawali dengan bangun di sepertiga malam untuk makan sahur, setelah itu tilawah Alquran sambil menunggu datangnya waktu Shubuh. Setelah itu, kita mantap untuk menahan segala bentuk godaan duniawi sepanjang hari. Mulai dari makan, minum, dan hawa nafsu. Bukan perkara mudah untuk bisa bertahan sepanjang hari dari godaan tersebut. Apalagi, bagi kita yang hidup di kota besar ini. Perlu mental dan komitmen yang kuat untuk tetap setia dengan serangkaian pendidikan yang Allah SWT berikan.

Kedua: Pada malam hari pun ada serangkaian pendidikan yang harus dijalani. Selain sholat Maghrib dan Isya, amalan-amalan lain seperti taraweh dan tadarus Alquran menjadi rutinitas yang mesti dijalani. Jika semua ibadah itu berhasil kita jalani, maka praktis hasilnya akan mengembirakan. Rasulullah SAW bersabda, "puasa bulan Ramadhan dan tiga hari pada setiap bulan dapat menghilangkan kekerasan hati" (Hadits Riwayat Imam Ahmad). Jika kekerasan hati kita sudah dihilangkan, maka sudah pasti kita mudah beradaptasi dengan seluruh ajaran Allah SWT.

Ketiga: Kehebatan alumni-alumni itu tidak hanya dikenang di zaman dan tempat mereka tinggal, tapi namanya juga harum melampaui tangga-tangga zaman hingga kini. Ada Lukman Al-Hakim yang kisahnya sangat indah diceritakan oleh Allah SWT dalam Alquran. Ada pula Ashabul Kahfi, sekumpulan anak-anak muda yang diselamatkan Allah SWT dari pemimpin yang dzalim karena kuatnya keimanan pada diri mereka.

Tak cukup sampai di situ, sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang dulunya tidak pernah tersentuh oleh cahaya kebenaran, tiba-tiba menjelma menjadi pribadi-pribadi hebat yang mengharumkan tanah Arab lewat aroma keimanannya. Sebut saja Umar bin Khattab, Hamzah, dan Bilal bin Rabah. Makanya Allah SWT mengingatkan kita dalam firman-Nya tentang kewajiban puasa di bulan Ramadhan, bahwa kewajiban tersebut juga sudah dia buktikan terhadap orang-orang sebelum kita. "Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa"(QS. Albaqarah[2]:183).

Jika kepada manusia-manusia terdahulu Ramadhan berhasil, kenapa kita yang sudah berapa kali keluar masuk sekolah Ramadhan ini belum juga menjelma menjadi pribadi seperti para orang sholih itu? Padahal, materi yang Allah SWT berikan di Ramadhan ini masih sama dengan yang diberikan kepada ummat-ummat terdahulu. Kurikulumnya tidak berkurang sedikitpun, masih sama dan masih lengkap.

Persoalannya tentu bukan karena Ramadhan kita beda dengan Ramadhan yang dijalani oleh orang-orang sholih itu, tapi cara kita dalam memaknai setiap proses pendidikan Ramadhan yang mulai berbeda. Berapa banyak kita temui di sekeliling kita yang cekcok gara-gara hal sepele padahal dia dalam kondisi berpuasa. Padahal, Rasulullah SAW bersabda, "apabila seorang dari kamu sekalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan berteriak. Bila dicela orang lain atau dimusuhi, maka katakanlah: "Aku ini sungguh sedang puasa" Dalam hadits lain disebutkan "Barangsiapa yang tidak mampu meninggalkan perkataan dusta, dan melakukan perbuatan dusta, maka Allah SWT tidak membutuhkan lapar dan dahaga mereka," (Hadits Riwayat Bukhari dan Abu Dawud).

Alhamulillah, hingga saat ini Allah SWT masih mempercayai kita menjadi anak didik Ramadhan. Walaupun kita gagal menjadi alumni idaman di Ramadhan-Ramadhan sebelumnya, tapi Allah SWT tetap percaya bahwa kita akan berhasil di Ramadhan ini sesuai dengan harapkan-Nya, tidak lain menjadi hamba-Nya yang bertaqwa.

Kepercayaan yang Allah SWT berikan ini adalah amanah yang harus dijaga dan ditunaikan dengan baik. Rasulullah SAW bersabda, "puasa adalah amanah maka hendaklah salah seorang diantara kamu menjaga amanahnya." Jika amanah yang diberikan sesama manusia saja akan dimintai pertanggung jawab, bagaimana saat yang memberikan amanah tersebut adalah dzat yang memiliki kehidupan ini. Sudah pasti pertanggung jawabannya akan ditagih di yaumul akhir. Jika saat ini usia kita 30 atau 40 tahun, maka ada 30 atau 40 amanah yang akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah SWT. Pertanyaannya: Sudah siapkah kita mempertanggungjawabkan semua itu?

Ramadhan kali ini masih panjang, mari kita manfaatkan dengan semaksimal mungkin. Jika kita berhasil menjadi alumni Ramadhan yang sukses, maka imbalan Allah SWT berikan sudah menunggu. Firman-Nya dalam QS Al-Fajr ayat 27-30: "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." Semoga panggilan mesra Allah SWT itu nantinya ditujukan untuk kita. Amin.

Walahu A'lam Bishowab.

Penulis:

Ahmad Rusdiana, Founder tresnabhakti.org, pegiat Rumah Baca Tresna Bhakti, Pengampu mata kuliah manajemen pendidikan; Penulis buku: Risalah Ramadhan, https://etheses.uinsgd.ac.id/29428/1/BKKPengaRisalahRamadhan-TnpaISBN.pdf. Kepemimpinan Pendidikan; Kebijakan Pendidikan; Etika Komunikasi Organisasi; Manajemen Risiko, Kewirausahaan Teori dan Praktek; Manajemen Kewirausahaan Pendidikan dll. (tidak kurang dari 60 buku, 18 Penelitian dan 40 Jurnal). Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pendidik, Peneliti, dan Pengabdi; Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al Misbah Cipadung Bandung yang mengembangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 70 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK TPA Paket A B C. Rumah Baca Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan  Panawangan Kab. Ciamis Jawa Barat. Korespondensi: (1) http://a.rusdiana.id (2) http://tresnabhakti.org/webprofil;  (3) http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators (4) https://www.google.com/search? q=buku+a.rusdiana+shopee&source (5) https://play.google.com/store/books/ author?id. Curiculum Vitae lenkap dalam laman https://a.rusdiana.id/2022/11/16/profil-prof-dr-h-ahmad-rusdiana-drs-mm-27-september-2022.

 

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Semangat Revitalisasi di Mata Angkie

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...