RAMADHAN BULAN PENDIKAN DAN PELATIHAN (Bag. V): Mendidik Manusia agar menjadi Jurur, selalu meningkatkan ilmu pengetahuan dan meningkatkan amal Ibadah

Penulis A. Rusdiana

Dibaca: 274 kali

A. Rusdiana

Oleh A. Rusdiana

 

RAMADHAN, selain sebagai syahru al-maghfirah (bulan ampunan), juga disebut dengan syahru al-tarbiyah (bulan pendidikan dan latihan) bagi manusia. Pada bulan ramadhan, manusia dididik agar menjadi orang yang bertaqwa. Firman Allah SWT; "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS.Al-Baqarah [2]: 183).

Setidaknya ada empat nilai pendidikan yang terkandung dalam puasa ramadhan di lihat dalam beberapa hal:

Pertama, perintah berpuasa mendidik manusia agar menjadi orang yang jujur;  Puasa sendiri, mendidik manusia agar menjadi orang yang jujur. Meskipun tidak ada orang yang tahu, seseorang yang berpuasa tetap tidak boleh makan, minum, dan melakukan hal-hal yang dilarang dalam berpuasa. Pada dasarnya seseorang berpuasa atau tidak yang mengetahui hanyalah dirinya sendiri dan Allah swt. Sehingga digambarkan puasa hanya untuk Allah, maka Allah sendiri yang akan memberikan pahalanya. Harapannya, kejujuran orang yang berpuasa tidak hanya pada saat puasa saja, tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Selain mendidik menjadi manusia jujur, puasa mendidik manusia agar tidak menuruti hawa nafsu. Hawa nafsu yang dimiliki manusia cenderung bersifat negatif. Dalam bahasa Sigmund Freud, hawa nafsu (id) manusia lebih mengedepankan prinsip keinginan semata (pleasure principle). Tidak sedikit manusia yang sebelumnya terhormat, jatuh hanya dikarenakan tidak bisa mengendalikan dan menahan nafsu. Orang yang seperti ini digambarkan allah swt dalam Al-Quran tergolong derajat yang paling rendah. ”Kemudian kami kembalikan manusia dalam keadaan yang serendah-rendahnya. (QS.At-Tin [95]: 5).

Kedua, mendidik manusia agar selalu meningkatkan ilmu pengetahuan; Peristiwa nuzulul quran (turunnya al-Quran), dimana QS. Al-Alaq:1-5 menjadi ayat yang pertama kali diterima Nabi Muhammad Saw menjadi bukti agar manusia mau belajar. Perintah belajar, yang terkandung dalam kalimah iqra (bacalah) mengandung makna yang sangat mendalam. Melalui membaca, manusia akan memperkaya ilmu pengetahuan yang dimiliki. Dari yang belum tahu menjadi tahu. Dari tidak bisa menjadi bisa. Oleh karena tadarus Al Quran yang kita lakukan saat puasa ini, hendaknya setelah puasa selesai dapat kita lanjutkan sebagaimana mestinya.

Ketiga, Mendidik Manusia untuk meningkatkan amal Ibadah; Janji Allah, pada bulan ramadhan, amal ibadah seseorang akan dilipat gandakan. Siapa yang tidak mau. Ibarat patokan orang dagang, sedikit modalnya, tetapi untungnya besar. Mengerjakan sholat sunah pada bulan ramadhan dihitung sama dengan shalat fardhu. Orang yang memberikan makan berbuka untuk orang yang berpuasa, pahalanya sama dengan orang yang berpuasa. Orang yang shalat shubuh berjamah nilai pahalanya sama dengan pahala shalat sunat satu malam suntuk, itu bukan di bulan ramadhan, bagaimana kalau ini kita lakukan dibulan ramadhan tentu pahalanya berlipat ganda. Demikian, semoga bermanfaat buat kita bersama.

Di akhir tulisan ini, penulis mengajak kepada kita semua. marilah bersungguh dalam menapaki bulan Ramadhan tahun ini. Berikan yang terbaik, karena belum tentu kita dipertemukan Kembali dengan Ramadhan tahun depan. Bulan Ramadhan mendidik, dimana tujuan Pendidikan yang tertuang dalam undang-undang sisdiknas dapat tercapai melalui kegiatan di bulan Ramadhan bahkan lebih dari pada itu. Namun, kita tetap terus berharap dan berdoa semoga kita dipertemukan Kembali dengan bulan Ramadhan tahun depan. Amin.

Walahu A'lam Bishowab.

Penulis:

Ahmad Rusdiana, Founder tresnabhakti.org, pegiat Rumah Baca Tresna Bhakti, Pengampu mata kuliah manajemen pendidikan; Penulis buku: Risalah Ramadhan, https://etheses.uinsgd.ac.id/29428/1/BKKPengaRisalahRamadhan-TnpaISBN.pdf. Kepemimpinan Pendidikan; Kebijakan Pendidikan; Etika Komunikasi Organisasi; Manajemen Risiko, Kewirausahaan Teori dan Praktek; Manajemen Kewirausahaan Pendidikan dll. (tidak kurang dari 60 buku, 18 Penelitian dan 40 Jurnal). Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pendidik, Peneliti, dan Pengabdi; Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al Misbah Cipadung Bandung yang mengembangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 70 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK TPA Paket A B C. Rumah Baca Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan  Panawangan Kab. Ciamis Jawa Barat. Korespondensi: (1) http://a.rusdiana.id (2) http://tresnabhakti.org/webprofil;  (3) http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators (4) https://www.google.com/search? q=buku+a.rusdiana+shopee&source (5) https://play.google.com/store/books/ author?id. Curiculum Vitae lenkap dalam laman https://a.rusdiana.id/2022/11/16/profil-prof-dr-h-ahmad-rusdiana-drs-mm-27-september-2022.

 

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Semangat Revitalisasi di Mata Angkie

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...