RAMADHAN BULAN PENDIKAN DAN PELATIHAN (Bag. VI): Mendidik manusia agar mampu mengendalikan hawa nafsunya

Penulis A. Rusdiana

Dibaca: 121 kali

A. Rusdiana

Oleh A. Rusdiana

 

Puasa di bulan Ramadhan sejatinya mengantarkan setiap mukmin ke posisi takwa (Al-Baqarah [2]:183). Di antara ciri orang yang bertakwa adalah bersifat sabar (Al-Baqarah [2]:177) dan Ali Imran [3]:17). Puasa Ramadhan melatih dan mendidik sifat sabar agar terbentuk karakter muttaqin. Rasulullah SAW bersaba: al-shaumu nishf al-shabr, puasa itu setengah sabar (HR. At-Tirmdizi). Dalam hadis lain: al-shabr nishf al-iman, sabar itu setengah dari iman (HR.al-Hakim). Berdasarkan dua hadis ini, Imam al-Ghazali menyebut puasa itu seperempat iman. Di antara makna puasa dan sabar ialah menahan. Puasa adalah menahan diri dari segala yang membatalkannya, seperti makan, minum dan bersetubuh. Sementara sabar juga mencakup makna menahan diri dari segala yang tidak berkenan di hati dan tidak berkeluh kesah. Puasa yang hakiki mendidik manusia agar mampu mengendalikan hawa nafsunya. Imam al-Ghazali menyebut ada dua bentuk hawa nafsu, yaitu syahwat dan ghadab (marah).

Puasa adalah ibadah yang dilakukan umat Muslim selama bulan Ramadan dengan menahan diri dari makan, minum, dan aktivitas seksual dari fajar hingga terbenam matahari. Selain itu, puasa juga memiliki dimensi spiritual dan sosial yang sangat penting. Menurut Imam al-Ghazali, salah satu manfaat puasa adalah untuk mengendalikan hawa nafsu seseorang, yang terdiri dari dua bentuk utama: syahwat dan ghadab.

Pertama; Syahwat merujuk pada keinginan atau hasrat seksual, rasa lapar, atau rasa haus yang sangat kuat. Syahwat bisa menjadi sumber daya yang positif dan memberikan kekuatan kepada manusia, namun jika tidak terkontrol, dapat mengarah pada perilaku buruk seperti ketidaksetiaan dalam hubungan, kebiasaan makan yang tidak sehat, atau kecanduan. Dalam konteks puasa, menahan diri dari makan dan minum selama berjam-jam dapat membantu seseorang memahami arti sebenarnya dari lapar dan haus, serta memberikan kesempatan untuk mengendalikan dan mengarahkan keinginan dan hasrat tersebut dengan cara yang lebih sehat dan bermanfaat.

Kedua; Ghadab atau marah, merujuk pada keadaan ketika seseorang merasa sangat kesal atau emosi yang sulit dikontrol. Marah adalah emosi yang normal dan dapat membantu manusia dalam beberapa situasi, seperti saat menghadapi situasi yang menantang atau berbahaya. Namun, jika tidak terkontrol, marah dapat memicu perilaku agresif, kekerasan, atau konflik yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dalam konteks puasa, menahan diri dari makan dan minum dapat membantu seseorang memahami perasaan ketika lapar dan haus, serta memperkuat kemampuan untuk mengendalikan emosi marah. Puasa juga membantu untuk memperkuat kemauan dan ketahanan mental, sehingga dapat membantu seseorang untuk mengendalikan diri ketika mengalami emosi yang kuat.

Dampak positif dari mengendalikan hawa nafsu melalui puasa adalah dapat membantu seseorang untuk menjadi lebih sabar, disiplin, dan bermartabat. Selain itu, puasa juga dapat membantu meningkatkan kesadaran spiritual dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam konteks sosial, puasa juga dapat membantu untuk memperkuat hubungan antarmanusia dan mempromosikan rasa empati dan solidaritas terhadap orang lain yang lebih membutuhkan. Namun, jika seseorang gagal mengendalikan hawa nafsu melalui puasa, dampaknya bisa menjadi sebaliknya. Misalnya, seseorang mungkin menjadi mudah tersinggung, tidak sabar, dan mudah terprovokasi. Hal ini dapat berdampak negatif pada hubungan sosial dan kesehatan mental seseorang. Oleh karena itu, sangat penting bagi seseorang yang berpuasa untuk memahami makna sebenarnya dari ibadah tersebut dan berusaha mengendalikan hawa nafsunya secara bijaksana dan positif.

Ada beberapa pembelajaran yang bisa diambil bagi umat Muslim yang sedang menjalani puasa:

Pertama Mengendalikan hawa nafsu; Puasa memberikan kesempatan bagi seseorang untuk mengendalikan hawa nafsunya, terutama dalam hal mengendalikan keinginan untuk makan dan minum. Selain itu, puasa juga dapat membantu mengendalikan emosi dan keinginan lainnya yang mungkin merugikan diri sendiri atau orang lain.

Kedua: Meningkatkan kesadaran spiritual; Puasa dapat membantu seseorang untuk lebih fokus pada kehidupan spiritual dan memperkuat hubungan dengan Tuhan. Melalui puasa, seseorang dapat membaca Al-Quran, berdoa, dan melakukan ibadah lainnya yang dapat meningkatkan kesadaran spiritual.

Ketiga; Memperkuat hubungan sosial: Puasa juga dapat membantu memperkuat hubungan sosial antarmanusia. Selama bulan Ramadan, banyak umat Muslim yang berbuka puasa bersama, berkumpul untuk sholat tarawih, dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial lainnya. Hal ini dapat membantu mempromosikan rasa solidaritas dan empati terhadap orang lain.

Keempat; Memperkuat disiplin dan kemauan: Puasa dapat membantu memperkuat disiplin dan kemauan seseorang. Menahan diri dari makan dan minum selama berjam-jam membutuhkan kekuatan mental dan kemauan yang kuat. Melalui puasa, seseorang dapat memperkuat kemampuan untuk mengendalikan diri dan mencapai tujuan yang diinginkan.

Kelima; Menghargai nikmat makanan dan minuman: Puasa dapat membantu seseorang untuk lebih menghargai nikmat makanan dan minuman. Dengan menahan diri dari makan dan minum selama berjam-jam, seseorang dapat memahami arti sebenarnya dari lapar dan haus, serta meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan.

Jadi, bagi umat Muslim yang sedang menjalani puasa, penting untuk memahami makna sebenarnya dari ibadah tersebut dan berusaha untuk mengambil pembelajaran yang positif dari puasa. Dengan mengendalikan hawa nafsu, meningkatkan kesadaran spiritual, memperkuat hubungan sosial, memperkuat disiplin dan kemauan, serta menghargai nikmat makanan dan minuman, kita dapat menjadi lebih baik sebagai manusia dan lebih dekat dengan Tuhan. Kegiatan di 10 hari kedua Ramadan merupakan hari penuh ampunan. Fase ini juga sering dianggap sebagai fase transisi semangat, seyogianya dijadikan momen untuk meningkatkan semangat menuju mukmin ke posisi takwa.

Walahu A'lam Bishowab.

Penulis:

Ahmad Rusdiana, Founder tresnabhakti.org, pegiat Rumah Baca Tresna Bhakti, Pengampu mata kuliah manajemen pendidikan; Penulis buku: Risalah Ramadhan, https://etheses.uinsgd.ac.id/29428/1/BKKPengaRisalahRamadhan-TnpaISBN.pdf. Kepemimpinan Pendidikan; Kebijakan Pendidikan; Etika Komunikasi Organisasi; Manajemen Risiko, Kewirausahaan Teori dan Praktek; Manajemen Kewirausahaan Pendidikan dll. (tidak kurang dari 60 buku, 18 Penelitian dan 40 Jurnal). Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pendidik, Peneliti, dan Pengabdi; Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al Misbah Cipadung Bandung yang mengembangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 70 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK TPA Paket A B C. Rumah Baca Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan  Panawangan Kab. Ciamis Jawa Barat. Korespondensi: (1) http://a.rusdiana.id (2) http://tresnabhakti.org/webprofil;  (3) http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators (4) https://www.google.com/search? q=buku+a.rusdiana+shopee&source (5) https://play.google.com/store/books/ author?id. Curiculum Vitae lenkap dalam laman https://a.rusdiana.id/2022/11/16/profil-prof-dr-h-ahmad-rusdiana-drs-mm-27-september-2022.

 

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Semangat Revitalisasi di Mata Angkie

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...