RAMADHAN BULAN PENDIKAN DAN PELATIHAN (Bag. VII): Puasa Ramadhan Ala Al-Ghazali Menuju Maghfiroh Allah SWT.

Penulis: A. Rusdiana

Dibaca: 201 kali

A. Rusdiana

Oleh A. Rusdiana

 

Tak terasa umat muslim telah menjalankan ibadah puasa Ramadan 1444 Hijriah memasuki 10 hari kedua, merupakan hari penuh ampunan maghfiroh. Fase ini sering dianggap sebagai fase transisi semangat, yakni menurunnya semangat karena euforia Ramadan di 10 hari pertama sudah usai serta timbulnya sedikit euforia menjelang liburan. Tak sedikit juga masjid-masjid mulai kehilangan sebagian besar jamaahnya di fase ini. Sejatinya pada 10 hari kedua ini dijadikan momentum  untuk mendongkrak kualitas ketaqwaan guna menuju maghfiroh Allah SWT. (baca: http://beritadisdik.com/news/kaji/mendekat-dengan-tiga-fase-yang-dilalui-selama-bulan-ramadhan).

Banyak hikmah dari  10 hari kedua bulan bulan Ramadan ini, diantaranya;  doa dikabulkan allah SWT, terjaga dari godaan duniawi; wujud rasa syukur; mendapatkan pahala yang besar; wujud istikamah; mencegah maksiat; wujud rasa syukur; wujud istikamah dan diberi kemudahan di dunia dan akhirat. Menjauhkan dari "godaan duniawi" dalam menjalankan rangkaian artinya sebuah bukti bahwa orang tersebut mampu menahan dan menjauhkan dari dari godaan duniawi yang berlebihan.  Puasa Ramadhan adalah ibadah yang sangat istimewa? Bukan saja karena Allah langsung yang menilai dan membalasnya, sebagaimana disabdakan Rasulullah dalam sebuah hadits qudsi. Tetapi juga karena perintah puasa dalam Al-Quran adalah satu-satunya ayat perintah ibadah yang ditutup dengan kata la’allakum tattaqun, agar kalian menjadi orang yang bertaqwa.

Mengutip pesan Al-Ghozali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin Puasa Ramadhan adalah jalan untuk mendongkrak kualitas ketaqwaan seorang muslim. Secara umum ia memandang, ada tiga tingkatan dalam berpuasa yakni: shaumul umum/awam, khusus, dan khususil khusus. (1) puasa orang awam (orang kebanyakan) adalah menahan makan, minum, dan menjaga kemaluan dari godaan syahwat. Puasa ini dikualifikasiasan pada tingkatan paling rendah. (2) puasa orang khusus, adalah selain menahan makan, minum, dan menjaga kemaluan dari godaan syahwat, juga menahan pendengaran, pandangan, ucapan, gerakan tangan kaki dan segala macam bentuk dosa; (3) puasa khususnya orang khusus adalah puasa hati kepentingan jangka penedek pikiran-pikiran duniawi. Puasa khusus yang lebih khusus lagi yaitu disamping beberapa hal di atas, adalah puasa hati dari segala keinginan hina dan segala pikiran duniawi, serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah SWT.

Ketiganya bagaikan tangga yang menarik orang berpuasa agar mencapai khususil khusus. Fase-fase tersebut dalam kajian tasawuf lazim disebut maqam atau maqamat. Imam Abul Qasim Al-Qusyairi dalam Risalatul Qusyairiyyah membagi maqamat tasawuf ke dalam 45 bagian. Beberapa maqamat Al-Qusyairi yang terkandung dalam ibadah puasa antara lain mengosongkan perut, meninggalkan syahwat, mujahadah, sabar, syukur, ikhlas, jujur, istiqamah dan taqwa. Dalam konteks ini, Imam Al-Ghazali, mengajarkan berpuasa khusus lebih khusus, harus menetapi enam persyaratan:

Pertama, tidak melihat segala yang dibenci Allah SWT atau yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat Allah. Nabi Muhammad saw. bersabda, “Pandangan adalah salah satu panah beracun milik setan yang terkutuk. Barangsiapa menjaga pandangannya, karena takut kepada-Nya semata, niscaya Allah ta’ala akan memberinya keimanan yang manis yang diperolehnya dari dalam hati.” (HR. Al Hakim)

Kedua, menjaga lisan dari perkataan sia-sia, dusta, umpatan, fitnah, perkataan keji serta kasar, dan kata-kata permusuhan (pertentangan dan kontroversi). Dan menggantinya dengan lebih banyak berdiam diri, memperbanyak dzikir dan membaca al-Qur’an. Inilah puasa lisan.

Rasulullah SAW bersabda, “Puasa adalah perisai. Maka barangsiapa di antara kalian sedang berpuasa, jangan berkata keji. Jika ada orang yang menyerang atau memakimu, katakanlah, ‘Aku sedang berpuasa! Aku sedang berpuasa!’.” (HR Bukhari Muslim).

Ketiga, menjaga pendengaran dari segala sesuatu yang tercela. Karena segala sesuatu yang dilarang untuk diucapkan juga dilarang untuk didengarkan. Dalam hukum Allah, mendengar yang haram sama dengan memakan yang haram. Firman Allah, “Mereka gemar mendengar kebohongan dan memakan yang tidak halal.” (QS Al-Maidah [5]: 42).

Karena itu orang yang ingin puasanya bernilai khusus, sebaiknya berdiam diri dan mengjauhkan diri dari pengumpat. Allah berfirman, “Jika engkau tetap duduk bersama mereka, sungguh engkaupun seperti mereka …” QS An-Nisa’ (4:140). Ini diperkuat dengan hadits Rasulullah SAW, “Yang mengumpat dan pendengarnya, berserikat dalam dosa.” (HR At-Tirmidzi).

Keempat, menjaga kesucian setiap anggota badan dari yang syubhat, apalagi yang haram. Perut, misalnya, harus dijaga dari makanan yang diragukan kehalalannya (syubhat). Puasa tidak berguna bila dilakukan dengan menahan diri dari memakan yang halal, tapi berbuka dengan makanan haram. Rasulullah SAW bersabda, “Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan sesuatu, kecuali lapar dan dahaga!” (HR An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Kelima, menghindari makan berlebihan. Tidak ada kantung yang lebih dibenci Allah SWT selain perut yang dijejali makanan halal. Di antara manfaat puasa adalh untuk mengalahkan syetan dan mengendalikan hawa nafsu. Bagaimana itu akan tercapai, bila saat berbuka perut dijejali secara berlebihan.

Keenam, menuju kepada Allah SWT dengan rasa takut dan pengharapan. Setelah berbuka puasa, seyogyanya hati terayun-ayun antara khauf (takut) dan raja’ (harap). Karena tidak ada seorang yang mengetahui, apakah puasanya diterima ataukah tidak. Tidak hanya puasa, pemikiran tersebut seharusnya juga selalu ada setiap kali selesai melaksanakan suatu ibadah.

Dari al-Ahnaf bin Qais, suatu ketika seseorang berkata kepadanya, “Engkau telah tua; berpuasa akan dapat melemahkanmu.” Al-Ahnaf pun menjawab, “Dengan berpuasa, sebenarnya aku sedang mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang. Bersabar dalam menaati Allah SWT, tentu lebih mudah daripada menanggung siksa Nya.”

Wallahu A'lam Bishowab

Penulis:

Ahmad Rusdiana, Founder tresnabhakti.org, pegiat Rumah Baca Tresna Bhakti, Pengampu mata kuliah manajemen pendidikan; Penulis buku: Risalah Ramadhan, https://etheses.uinsgd.ac.id/29428/1/BKKPengaRisalahRamadhan-TnpaISBN.pdf. Kepemimpinan Pendidikan; Kebijakan Pendidikan; Etika Komunikasi Organisasi; Manajemen Risiko, Kewirausahaan Teori dan Praktek; Manajemen Kewirausahaan Pendidikan dll. (tidak kurang dari 60 buku, 18 Penelitian dan 40 Jurnal). Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pendidik, Peneliti, dan Pengabdi; Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al Misbah Cipadung Bandung yang mengembangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 70 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK TPA Paket A B C. Rumah Baca Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan  Panawangan Kab. Ciamis Jawa Barat. Korespondensi: (1) http://a.rusdiana.id (2) http://tresnabhakti.org/webprofil;  (3) http://digilib.uinsgd.ac.id/ view/creators (4) https://www. google.com/search? q=buku+a.rusdiana+shopee&source (5) https://play. google.com/store/books/author?id. Curiculum Vitae lenkap dalam laman https://a.rusdiana.id/2022/11/16/profil-prof-dr-h-ahmad-rusdiana-drs-mm-27-september-2022.

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Semangat Revitalisasi di Mata Angkie

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...