RAMADHAN BULAN PENDIKAN DAN PELATIHAN (Bag. XXII): Belajar dari Keberkahan Ramadan, Ampunan Allah yang Tiada Batas

Penulis A. Rusdiana

Dibaca: 146 kali

A. Rusdiana

Oleh A. Rusdiana

 

RAMADHAN bulan keberkahan telah menginjak 10 hari terakhir, beberapa hari lagi akan segera berakhir. Mungkin di antara keberkahan terpenting dari bulan Ramadan adalah rahmat dan magfirah dan ampunan Allah SWT. Memang bulan ini adalah bulan di mana Allah membuka pintu-pintu yang Maha luas akan kasih sayang dan ampunan-Nya untuk hamba-Nya. Sesungguhnya sisi sifat Allah yang paling dominan adalah rahmah atau kasih sayang-Nya. Hanya saja, sejak lama Islam disalahpahami seolah Islam kurang kasih sayang. Konsep ketuhanan kerap kali ditampilkan sebagai Tuhan yang kasar, bengis, tiada belas kasih. Kebodohan bahkan kebohongan ini sengaja dipromosikan untuk menumbuhkan rasa takut, bahkan kebencian kepada Islam. Padahal jika dikaji semua aspek ajaran agama ini, mulai dari konsep teologisnya, amalan ritual, hingga ke muamalahnya mengajarkan kasih sayang itu.

Ampunan Allah merupakan karakteristik Allah yang Maha Rahman dalam ajaran Islam, salah satunya terefleksi dalam bentuk pengampunan-Nya. Bahwa Allah Yang Maha menguasai langit dan bumi itu membuka pintu-pintu pengampunan dan taubat bagi semua hambaNya yang ingin dan sungguh-sungguh untuk meraihnya. Al-Qur'an menegaskan: "Dan bergegaslah kalian kepada ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya langit dan bumi, disiapkan bagi orang-rang yang bertakwa." (QS. Ali Imran [3]:133)

Kecintaan Allah yang tiada batas itu terwujud dalam sebuah ayat yang saya sebut dengan deklarasi pengampunan: "Katakanlah, Wahai hamba-hambaKu (ibaadiya) jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa-dosa. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang". QS.Az-Zumar [39]:53). Ayat ini menekankan beberapa poin penting untuk dimaknai diantaranya:

Pertama, bahwa kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya begitu sangat dalam, bahkan tiada batas. Allah memanggil mereka yang melakukan dosa dengan panggilan kasih: "Wahai hamba-hambaKu." Padahal mereka telah melampaui batas dan ketetapan Allah (asrafuu). Luar biasanya Allah masih memanggil mereka dengan panggilan yang termulia 'ibaad.

Kedua, mereka yang melakukan dosa disebut asrafuu atau melampaui batas dan berlebihan. Hal itu karena agama jika dijalankan sebagaimana mestinya akan sejalan dengan kebutuhan dan tabiat manusia. Di saat agama tidak dijalankan sebagaimana mestinya maka terjadi prilaku melampaui batas dari tabiat (nature) kemanusiaan.

Ketiga, pengampunan itu bukan sekedar karena usaha kita semata. Bukan pula karena sekedar ibadah yang kita lakukan. Tapi semuanya karena semata rahmat Allah. Dan yang terpenting bahwa Rahmat Allah tiada batas. Dan karenanya jangan pernah berputus Ada.

Keempat, semua dosa itu terbuka untuk diampuni, kecuali syirik yang terbawa mati. Dan karenanya ayat ini mendeklarasikan bahwa "Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa". Karena memang itulah Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dari semua ini dipahami bahwa ampunan Allah itu adalah bentuk rahmah-Nya yang terbesar. Hanya dengan ampunan-Nya seorang hamba akan masuk syurga. Dan hanya dengan rahmat-Nya seorang hamba akan diampuni. Rasulullah SAW, bersabda: "Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba sebelum suara terakhir keluar dari tenggorokannya (HR. Imam Ahmad dan Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah ra).

Dipenghujung 10 hari terakhir ini,  marilah sisa-sisa hari akhir ramadhan ini kita gunakan untuk meningkatkan ibadah kepada Allah SWT, kita banyak memohon ampun kepada Allah.  Sambut kedatangan hari yang berbahagia, dengan hati yang tulus ikhlas memaafkan. Dengan harapan ketika bulan ramadhan ini lewat dosa-dosa kita benar-benar diampuni Allah SWT. Seraya berdo'a: "Ya Allah, rezekikanlah kepadaku keutamaan lailatul qadr, dan ubahlah perkara-perkaraku yang sulit menjadi mudah terimalah permintaan maafku, dan hapuskanlah dosa dan kesalahanku, Wahai Yang Maha Penyayang terhadap hamba-hambanya yang saleh".

 

Wallahu A'lam Bishowab

Penulis:

Ahmad Rusdiana, Founder tresnabhakti.org, pegiat Rumah Baca Tresna Bhakti, Pengampu mata kuliah manajemen pendidikan; Penulis buku: Risalah Ramadhan, https://etheses. uinsgd.ac.id/ 29428/1/BKKPengaRisalahRamadhan-TnpaISBN.pdf. Kepemimpinan Pendidikan; Kebijakan Pendidikan; Etika Komunikasi Organisasi; Manajemen Risiko, Kewirausahaan Teori dan Praktek; Manajemen Kewirausahaan Pendidikan dll. (tidak kurang dari 60 buku, 18 Penelitian dan 40 Jurnal). Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pendidik, Peneliti, dan Pengabdi; Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al Misbah Cipadung Bandung yang mengembangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 70 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK TPA Paket A B C. Rumah Baca Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan  Panawangan Kab. Ciamis Jawa Barat. Korespondensi: (1) http://a.rusdiana.id (2) http://tresnabhakti.org/webprofil; (3) http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators (4) https://www. google.com/search? q=buku +a.rusdiana+shopee&source (5) https://play. google.com/store/books/author?id. Curiculum Vitae lenkap dalam laman https://a.rusdiana.id/2022/11/16/profil-prof-dr-h-ahmad-rusdiana-drs-mm-27-september-2022.

 

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Semangat Revitalisasi di Mata Angkie

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...