Self-Determination Theory dan Tes yang Efektif

Penulis: Atin Kartinah

Dibaca: 174 kali

Atin Kartinah

Oleh Atin Kartinah

Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kabupaten Garut

 

Motivasi belajar merupakan faktor kunci yang memengaruhi keterlibatan, ketekunan, dan keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi cenderung menunjukkan partisipasi aktif, ketahanan menghadapi kesulitan, serta kemauan untuk terus memperbaiki kemampuan akademiknya. Salah satu faktor yang berpengaruh besar terhadap motivasi belajar siswa adalah asesmen. Dalam praktik pendidikan, asesmen kerap dipersepsikan sebagai alat evaluasi hasil belajar yang bersifat administratif dan menekan. Namun, dalam perspektif psikologi pendidikan modern, asesmen justru memiliki potensi besar sebagai sarana penguat motivasi belajar apabila dirancang dan dilaksanakan secara tepat. Hubungan antara asesmen dan motivasi belajar ini dapat dijelaskan secara komprehensif melalui Self-Determination Theory (SDT) yang dikembangkan oleh Deci dan Ryan.

Self-Determination Theory menegaskan bahwa motivasi belajar yang optimal akan berkembang ketika tiga kebutuhan psikologis dasar siswa terpenuhi, yaitu kompetensi, otonomi, dan keterhubungan (Deci & Ryan, 2000). Ketiga kebutuhan ini bersifat universal dan menjadi fondasi bagi tumbuhnya motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik yang terinternalisasi secara positif. Dalam konteks pembelajaran, asesmen memiliki peran strategis karena dapat menjadi sarana yang mendukung atau justru menghambat pemenuhan ketiga kebutuhan tersebut, tergantung pada orientasi dan cara pelaksanaannya.

Kebutuhan kompetensi berkaitan dengan perasaan mampu dan efektif dalam menghadapi tantangan belajar. Asesmen yang disertai umpan balik konstruktif membantu siswa memahami kekuatan dan kelemahan belajarnya serta memberikan arah yang jelas untuk perbaikan. Menurut Deci dan Ryan, umpan balik yang bersifat informasional dan tidak menghakimi akan memperkuat persepsi kompetensi siswa dan meningkatkan motivasi belajar. Sebaliknya, asesmen yang hanya menghasilkan skor atau peringkat tanpa penjelasan cenderung tidak memberi makna perkembangan belajar, sehingga dapat melemahkan rasa kompetensi, terutama bagi siswa yang mengalami kesulitan akademik.

Selain kompetensi, kebutuhan otonomi juga menjadi elemen penting dalam SDT. Otonomi merujuk pada perasaan memiliki kendali dan pilihan dalam proses belajar. Asesmen dapat mendukung kebutuhan ini ketika siswa diberi ruang untuk berpartisipasi aktif dalam proses penilaian, misalnya melalui refleksi diri, penilaian diri, atau pilihan dalam cara menunjukkan hasil belajar. Praktik asesmen yang mendukung otonomi membantu siswa memandang belajar sebagai proses yang mereka miliki, bukan sekadar tuntutan eksternal. Deci dan Ryan menegaskan bahwa asesmen yang bersifat kontrolatif misalnya melalui tekanan nilai, ancaman kegagalan, atau hukuman akademik cenderung menurunkan motivasi intrinsik dan menghasilkan keterlibatan belajar yang dangkal.

Kebutuhan keterhubungan juga memiliki peran penting dalam hubungan antara asesmen dan motivasi belajar. Keterhubungan berkaitan dengan perasaan diterima, dihargai, dan memiliki hubungan positif dengan guru dan lingkungan belajar. Pelaksanaan asesmen yang komunikatif, empatik, dan humanis akan memperkuat relasi guru dan siswa. Ketika hasil asesmen disampaikan dengan menghargai usaha siswa dan menunjukkan kepedulian terhadap perkembangan belajar mereka, siswa akan merasa aman secara psikologis dan lebih terbuka menerima umpan balik. Kondisi ini mendukung internalisasi tujuan belajar dan meningkatkan motivasi yang berkelanjutan.

Berdasarkan Self-Determination Theory, asesmen yang efektif adalah asesmen yang bersifat autonomy-supportive, informasional, dan relasional. Asesmen semacam ini berfungsi sebagai pendorong motivasi belajar karena membantu siswa merasa mampu, memiliki kendali atas belajarnya, dan merasa didukung oleh guru. Sebaliknya, asesmen yang digunakan semata-mata sebagai alat kontrol tanpa diikuti oleh tindak lanjut upaya perbaikan proses pembelajaran akan berisiko menimbulkan kecemasan akademik dan menurunkan kualitas motivasi belajar siswa.

Ada beberapa teknik assesmen yang bisa dilaksanakan oleh guru dan siswa dalam dan setelah proses pembelajaran misalnya: observasi, kinerja, proyek, penilaian diri, penilaian antar teman, tes tertulis, penugasan porto folio, dan tes lisan. Semua teknik tersebut dilaksanakan oleh murid sebagai refleksi atas efektipitas perjalanan belajarnya atau sebagai refleksi untuk guru itu sendiri sejauh mana perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang dibuatnya bisa menumbuhkan motivasi belajar murid dan kemampuannya. Sedangkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang sekarang mulai dilaksanakan secara Nasional dilaksanakan secara tertulis bertujuan untuk menilai pemahaman konsep terutama berbasis literasi numerasi. Berbagai teknik tersebut saling bersinergi untuk bisa mengantarkan murid pada hasil proses pembelajaran yang sesungguhnya.

Perspektif Self-Determination Theory yang dijelaskan sebelumnya memberikan landasan teoretis yang penting agar TKA yang merupakan asesmen berskala nasional tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat pemetaan kemampuan akademik, tetapi juga mendukung motivasi belajar siswa. TKA berpotensi memperkuat rasa kompetensi karena hasilnya dipahami sebagai gambaran kemampuan yang dapat dikembangkan, bukan sebagai label kemampuan tetap. Selain itu, TKA dapat mendukung kebutuhan otonomi karena hasil asesmen dimanfaatkan untuk refleksi dan perbaikan pembelajaran di sekolah, bukan sebagai instrumen hukuman atau tekanan akademik. Kebijakan TKA ditindak lanjuti pula dengan berbagai dorongan aktipitas belajar guru untuk bisa meningkatkan kemampuan akademiknya misalnya dengan mengoftimalkan aktipitas komunitas belajar guru di sekolah. Komunitas belajar tersebut sebagai wadah refleksi dan kolaborasi guru yang lebih efektip dan berkenjutan.

Penyampaian dan pemanfaatan hasil tes secara komunikatif dan berorientasi pada perbaikan akan memperkuat keterhubungan antara siswa, guru, dan institusi pendidikan, sehingga meningkatkan penerimaan siswa terhadap asesmen (Black & Wiliam, 1998; Brookhart, 2008). Hal ini sejalan dengan pelaksanaan TKA yang diharapkan selaras dengan prinsip-prinsip Self-Determination Theory. TKA menjadikan asesmen sebagai sarana penguatan motivasi belajar yang bermakna dan berkelanjutan, sekaligus mendukung peningkatan mutu pendidikan secara sistemik. Semoga, Aamiin Yra.

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Cerutu

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...