Penulis: Atin Kartinah

Atin Kartinah
Oleh Atin Kartinah
Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kabupaten Garut
Motivasi belajar merupakan faktor kunci yang
memengaruhi keterlibatan, ketekunan, dan keberhasilan siswa dalam proses
pembelajaran. Siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi cenderung menunjukkan
partisipasi aktif, ketahanan menghadapi kesulitan, serta kemauan untuk terus
memperbaiki kemampuan akademiknya. Salah satu faktor yang berpengaruh besar
terhadap motivasi belajar siswa adalah asesmen. Dalam praktik pendidikan,
asesmen kerap dipersepsikan sebagai alat evaluasi hasil belajar yang bersifat
administratif dan menekan. Namun, dalam perspektif psikologi pendidikan modern,
asesmen justru memiliki potensi besar sebagai sarana penguat motivasi belajar
apabila dirancang dan dilaksanakan secara tepat. Hubungan antara asesmen dan
motivasi belajar ini dapat dijelaskan secara komprehensif melalui Self-Determination Theory (SDT) yang
dikembangkan oleh Deci dan Ryan.
Self-Determination
Theory menegaskan
bahwa motivasi belajar yang optimal akan berkembang ketika tiga kebutuhan
psikologis dasar siswa terpenuhi, yaitu kompetensi, otonomi, dan keterhubungan
(Deci & Ryan, 2000). Ketiga kebutuhan ini bersifat universal dan menjadi
fondasi bagi tumbuhnya motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik yang
terinternalisasi secara positif. Dalam konteks pembelajaran, asesmen memiliki
peran strategis karena dapat menjadi sarana yang mendukung atau justru
menghambat pemenuhan ketiga kebutuhan tersebut, tergantung pada orientasi dan
cara pelaksanaannya.
Kebutuhan kompetensi berkaitan dengan perasaan
mampu dan efektif dalam menghadapi tantangan belajar. Asesmen yang disertai
umpan balik konstruktif membantu siswa memahami kekuatan dan kelemahan
belajarnya serta memberikan arah yang jelas untuk perbaikan. Menurut Deci dan
Ryan, umpan balik yang bersifat informasional dan tidak menghakimi akan
memperkuat persepsi kompetensi siswa dan meningkatkan
motivasi belajar. Sebaliknya, asesmen yang hanya menghasilkan skor atau
peringkat tanpa penjelasan cenderung tidak memberi makna perkembangan belajar,
sehingga dapat melemahkan rasa kompetensi, terutama bagi siswa yang mengalami
kesulitan akademik.
Selain kompetensi, kebutuhan otonomi juga menjadi
elemen penting dalam SDT. Otonomi merujuk pada perasaan memiliki kendali dan
pilihan dalam proses belajar. Asesmen dapat mendukung kebutuhan ini ketika
siswa diberi ruang untuk berpartisipasi aktif dalam proses penilaian, misalnya
melalui refleksi diri, penilaian diri, atau pilihan dalam cara menunjukkan
hasil belajar. Praktik asesmen yang mendukung otonomi membantu siswa memandang
belajar sebagai proses yang mereka miliki, bukan sekadar tuntutan eksternal. Deci
dan Ryan menegaskan bahwa asesmen yang bersifat kontrolatif misalnya melalui
tekanan nilai, ancaman kegagalan, atau hukuman akademik cenderung menurunkan
motivasi intrinsik dan menghasilkan keterlibatan belajar yang dangkal.
Kebutuhan keterhubungan juga memiliki peran penting
dalam hubungan antara asesmen dan motivasi belajar. Keterhubungan berkaitan
dengan perasaan diterima, dihargai, dan memiliki hubungan positif dengan guru
dan lingkungan belajar. Pelaksanaan asesmen yang komunikatif, empatik, dan
humanis akan memperkuat relasi guru dan siswa. Ketika hasil asesmen disampaikan
dengan menghargai usaha siswa dan menunjukkan kepedulian terhadap perkembangan
belajar mereka, siswa akan merasa aman secara psikologis dan lebih terbuka
menerima umpan balik. Kondisi ini mendukung internalisasi tujuan belajar dan
meningkatkan motivasi yang berkelanjutan.
Berdasarkan Self-Determination
Theory, asesmen yang efektif adalah asesmen yang bersifat autonomy-supportive, informasional, dan
relasional. Asesmen semacam ini berfungsi sebagai pendorong motivasi belajar
karena membantu siswa merasa mampu, memiliki kendali atas belajarnya, dan
merasa didukung oleh guru. Sebaliknya, asesmen yang digunakan semata-mata
sebagai alat kontrol tanpa diikuti oleh tindak lanjut upaya perbaikan proses
pembelajaran akan berisiko menimbulkan kecemasan akademik dan
menurunkan kualitas motivasi belajar siswa.
Ada beberapa teknik assesmen yang bisa dilaksanakan
oleh guru dan siswa dalam dan setelah proses pembelajaran misalnya: observasi,
kinerja, proyek, penilaian diri, penilaian antar teman, tes tertulis, penugasan
porto folio, dan tes lisan. Semua teknik tersebut dilaksanakan oleh murid
sebagai refleksi atas efektipitas perjalanan belajarnya atau sebagai refleksi
untuk guru itu sendiri sejauh mana perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran
yang dibuatnya bisa menumbuhkan motivasi belajar murid dan kemampuannya. Sedangkan
Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang sekarang mulai dilaksanakan secara Nasional
dilaksanakan secara tertulis bertujuan untuk menilai pemahaman konsep terutama
berbasis literasi numerasi. Berbagai teknik tersebut saling bersinergi untuk
bisa mengantarkan murid pada hasil proses pembelajaran yang sesungguhnya.
Perspektif Self-Determination
Theory yang dijelaskan sebelumnya memberikan landasan teoretis yang penting
agar TKA yang merupakan asesmen berskala nasional tersebut tidak hanya
berfungsi sebagai alat pemetaan kemampuan akademik, tetapi juga mendukung
motivasi belajar siswa. TKA berpotensi memperkuat rasa kompetensi karena
hasilnya dipahami sebagai gambaran kemampuan yang dapat dikembangkan, bukan
sebagai label kemampuan tetap. Selain itu, TKA dapat mendukung kebutuhan
otonomi karena hasil asesmen dimanfaatkan untuk refleksi dan perbaikan
pembelajaran di sekolah, bukan sebagai instrumen hukuman atau tekanan akademik.
Kebijakan TKA ditindak lanjuti pula dengan berbagai dorongan aktipitas belajar
guru untuk bisa meningkatkan kemampuan akademiknya misalnya dengan
mengoftimalkan aktipitas komunitas belajar guru di sekolah. Komunitas belajar
tersebut sebagai wadah refleksi dan kolaborasi guru yang lebih efektip dan
berkenjutan.
Penyampaian dan pemanfaatan hasil tes secara
komunikatif dan berorientasi pada perbaikan akan memperkuat keterhubungan
antara siswa, guru, dan institusi pendidikan, sehingga meningkatkan penerimaan
siswa terhadap asesmen (Black & Wiliam, 1998; Brookhart,
2008). Hal ini sejalan dengan pelaksanaan TKA yang diharapkan selaras dengan
prinsip-prinsip Self-Determination
Theory. TKA menjadikan asesmen sebagai sarana penguatan motivasi belajar
yang bermakna dan berkelanjutan, sekaligus mendukung peningkatan mutu
pendidikan secara sistemik. Semoga, Aamiin Yra.