SYARAT PEMIMPIN DALAM PERSEFETIF RAJA ALI HAJI

Penulis Ahmad Rusdiana

Dibaca: 140 kali

Ahmad Rusdiana

Oleh Ahmad Rusdiana

 

Kepemimpinan, jika berbicara masalah ini dalam pemikiran kita pasti mengasosiasikan pada sosok pemimpin seperti presiden, gubernur, wali kota, bupati, pak camat atau kepala desa. Bahkan Kepala Sekolah, Rektor Perguruan Tinggi disebut pemimpin juga. Namun kepemimpinan bukan hanya berbicara masalah jabatan atau siapa yang menjadi seorang pemimpin, melainkan memiliki makna yang lebih luas, yaitu yang berkaitan dengan tugas-tugas seorang pemimpin, apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin dan juga sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dalam mengatasi berbagai permasalahan yang kompleks. 

Sebentar lagi kita akan melaksanakan pesta demokrasi (pemilu). Saat seperti inilah seringkali, kita jumpai hal-hal ganjil yang biasa dilakukan oleh para kandidat calon pemimpi. Banyak para calon calon pemimpin mengumbar janji-janji manis. Mulai dari pola blusukan yang dilakukan ke pedesaan, pasar-pasar, pondok pesanten, dengan mengedepankan pemimpin yang dekat dengan rakyat. Juga ada yang mempublikasikan bahwa dirinya memiliki sifat rendah hati, sederhana, jujur, bahkan ada juga yang menggunakan simbol kebapakan, hingga ada yang menyangkut pautkan dengan hal mistis seperti ramalan Jaya Baya, maupun yang menyangkut pautkan dengan masalah agama mayoritas dan minoritas.

Membahas masalah kepemimpinan Raja Ali Haji menggunakan istilah "raja", karena sistem pemerintahan yang ada di masa hidupnya adalah berbentuk kerajaan atau kesultanan. Apabila ditarik ke era sekarang, raja ini berarti kepala negara sekaligus kepala pemerintahan, kepala daerah, DPR, atau siapa pun yang mengemban amanah rakyat. Kriteria di atas menunjukkan bahwa beliau menginginkan seorang pemimpin yang benar-benar mampu melaksanakan dan mencapai kemaslahatan umum bagi seluruh rakyat. Adapun syarat seorang pemimpin yang terkait dengan sifat batiniyah antara lain: mukallaf; merdeka; adil; mempunyai kemampuan ijtihad yang baik; mempunyai keberanian yang kokoh; rajin, tidak malas mengurusi permasalahan yang ada di dalam pemerintahannya.(Tenas Effendi, 2002).

Pertama: Mukallaf di sini berarti sudah cakap hukum, yaitu seorang pemimpin sudah dapat bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan. Kebijakan dan semua langkahnya dalam menjalankan roda kepemimpinan benar-benar lahir dari pemikiran yang dewasa. Karena pemimpin harus bertanggung jawab terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Ungkapan Melayu menyatakan: “Orang beradab bertanggung jawab”

Kedua: Merdeka; syarat merdeka di sini antara lain berarti bahwa kebijakan pemimpin harus bebas dari kepentingan pribadi atau kelompok dan benar-benar mandiri. Pemimpin harus benar-benar bisa memosisikan dirinya di atas kepentingan semua kelompok, kepentingan masyarakat luas yang dipimpinnya. Kebijakan yang diambil tidak berdasar pada tekanan kepentingan atau pihak-pihak tertentu, independen, dan benar-benar berdasarkan suara hati nurani rakyatnya.

Ketiga: Adil; Prinsip keadilan bagi seorang raja lebih bernuansa penghargaan yang sama kepada semua orang dengan tidak membedakan dari mana unsur atau golongan. Hal ini dibuktikan dengan jalannya hukum yang berlaku tanpa pandang bulu. Adil berarti harus benar dalam melaksanakan hak dan kewajiban sesuai perilaku hukum dan undang-undang, agama, adat, dan norma sosial yang dianut masyarakat. Ungkapan Melayu “yang disebut adil, tidak membedakan besar dan kecil”.

Keempat: Mempunyai ijtihad yang baik, seorang pemimpin harus benar-benar cermat dalam mengambil keputusan dan kebijakan. Keputusan yang diambil harus benar-benar berdasarkan pemikiran yang mendalam dan pertimbangan yang cermat dan matang. Selain itu, juga mempertimbangkan efek manfaat dan madharat dari keputusan atau kebijakan tersebut. Syarat ini juga berarti pemimpin harus visioner, mampu merencanakan dan menatap masa depan dengan cermat dan baik. Dengan memandang jauh ke depan, maka pemimpin diharapkan memilki wawasan yang luas, pikiran panjang, dan perhitungan yang semakin cermat. Berpandangan jauh ke depan akan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap generasi berikutnya.

Kelima: Mempunyai keberanian yang tinggi, sehingga kepemimpinannya benar-benar kredibel dan bisa lepas dari tekanan dan kepentingan pihak-pihak tertentu yang tidak sesuai dengan kemauan rakyat. Sifat rajin berarti seorang pemimpin harus benar-benar all out dalam mencurahkan pikiran, waktu, dan tenaganya untuk mengurusi kepentingan rakyat. Seorang pemimpin harus benar-benar siap dan mau berkorban lahir dan batin demi kemashlahatan dan kesejahteraan masyarakat yang dipimpinnya.

Kenam: Rajin, tidak malas mengurusi permasalahan yang ada di dalam pemerintahannya. Rasa malas sebenarnya merupakan kodrat (sifat bawaan) bagi manusia. Menengok sejarah nenek moyang kita, mereka dahulu hidup secara nomaden (berpindah dari satu tempat ke tempat lain). Karena nomaden dirasa cukup melelahkan, akhirnya mereka beralih dari nomaden menuju kegiatan bercocok tanam yang membuat mereka menetap. Ide tersebut sebenarnya berawal dari adanya aktivitas rutin yang dirasa tidak efektif sehingga membuat pelakunya menjadi malas, yang akhirnya kemalasan tersebut membawa mereka untuk berpikir kreatif.

Sebagai penutup, penulis mengingatkan tentang pentingnya sarat pemimpim bagi Raja Ali Haji beberapa dekade yang lalu yang telah terekam dalam berbagai karyanya, khususnya Tsamarat al-muhimmah dan Muqaddima fi Intidzam tentang kriteria kepemimpinan yang ideal, sudah cukup menjadi pelajaran bagi pelaksana negara di Indonesia. Apabila prinsip-prinsip tersebut dapat dilaksanakan secara konsisten dan kontinyu, niscaya akan tercipta masyarakat yang adil, makmur, aman, dan tenteram; dan Indonesia akan menjadi bangsa yang maju dan bermartabat tinggi di mata bangsa-bangsa lain.

Walahu A'lam Bishowab.

 

Penulis

Ahmad Rusdiana, Founder tresnabhakti.org, pegiat Rumah Baca Tresna Bhakti, Pengampu mata kuliah manajemen pendidikan; Penulis buku: Kepemimpinan Pendidikan; Kebijakan Pendidikan; Etika Komunikasi Organisasi; Manajemen Risiko, Kewirausahaan Teori dan Praktek; Manajemen Kewirausahaan Pendidikan; Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pendidik, Peneliti, dan Pengabdi; Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al Misbah Cipadung Bandung yang mengembangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 70 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK TPA Paket A B C. Rumah Baca Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan  Panawangan Kab. Ciamis Jawa Barat. Korespondensi :(1) http://a.rusdiana.id (2) http://tresnabhakti.org/webprofil;  (3) http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators (4) https://www.google.com/search?q=buku+ a.rusdiana +shopee&source (5) https://play.google.com/store/books/author?id.

 

 

 

 

 

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Semangat Revitalisasi di Mata Angkie

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...