“WAG Sebagai Solusi Membelajarkan Siswa”

Penulis: Dra. Elis Herawati, M.Pd

Dibaca: 1428 kali

Dra. Elis Herawati, M.Pd

Oleh Dra. Elis Herawati, M.Pd

(Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Sumedang/KomunitaS Cinta Indonesia/KACI #PASTI BISA#)

 

Kasus Covid-19 pada awalnya kami mendengar dan menyaksikan di berita luar negeri sambil berharap semoga saja tidak sampai terjadi di negara tercinta kita, kami masih melaksanakan kegiatan-kegiatan yang normal biasa kami laksanakan, saat itu kami semua sedang disibukkan dengan persiapan UNBK. Sebuah kegiatan yang sudah rutin kami laksanakan setiap tahun mulai dari mempersiapkan perangkat-perangkat komputer dan perangkat pendukung lainnya. Mengawasi para proctor dan teknisi untuk memastikan semua tahapan dilaksanakan sepenuhnya bahkan sampai proses sinkronisasi dengan server pusat telah kami laksanakan tanpa kendala, intinya kami telah siap untuk UNBK.

Tapi sayang takdir berkata lain, Allah SWT ternyata memiliki rencana yang jauh lebih indah untuk negeri tercinta. Covid-19 yang tadinya hanya ada di berita ternyata hadir juga di negeri ini dan berdampak pada semua aspek kehidupan tanpa kecuali termasuk dunia pendidikan. Lembaga pendidikan yang sangat bersentuhan langsung dengan kerumunan orang tentu saja hal ini sangat riskan terhadap penyebaran Covid-19. Untungnya pemerintah kita cepat tanggap dengan menerbitkan surat edaran penghentian semua kegiatan yang dapat mempercepat penularan Covid-19. UNBK, Ujian Sekolah, Uji Kompetensi dan proses pembelajaran semuanya ditiadakan. Sungguh sebuah hal yang tidak pernah diduga sebelumnya dan tidak ada petunjuk teknis yang dapat dijadikan pedoman. Bekerja dari rumah dan Belajar dari rumah hanya dua petunjuk itu yang harus kami pedomani dan kami laksanakan.

Seperti judul lagu dari band legendaris Queen “The Show Must Go On” kita jangan terlalu larut dalam suasana pandemik ini karena ada kepentingan yang juga sangat penting yaitu peroses pembelajaran jangan sampai terhenti, jangan sampai Covid-19 mengalahkan kita untuk terus membekali anak-anak didik kita, untuk terus mengajarkan optimism, untuk terus mengajarkan solidaritas, untuk terus mengajarkan bagaimana meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan dan kepedulian terhadap sesama. Selalu mengingatkan anak didik untuk selalu mematuhi protokol Kesehatan dari pemerintah termasuk implementasi jaga jarak dan hindari kerumunan.

Pada awal diberlakukan belajar dari rumah kami mencoba menerapkan sistem pembelajaran e-learning dengan memanfaatkan aplikasi-aplikasi yang tersedia secara gratis seperti Edmodo, google class room, model, aplikasi zoom meeting dan lain-lain. Kami memberikan kebebasan kepada Bapak/Ibu guru untuk memilih aplikasi-aplikasi yang menurut mereka paling efektif. Setelah berjalan kurang lebih dua minggu ternyata muncul keluhan-keluhan. Keluahan dari anak didik mereka sebagian besar tidak memiliki komputer atau laptop, dari orang tua siswa mengeluhkan biaya kuota internet, ada beberapa guru yang kesulitan dengan jaringan seluler di tempat tinggalnya karena di Sumedang sinyal 4G belum merata sepenuhnya.

Dari masalah-masalah yang timbul tersebut kami coba melakukan evaluasi dengan pemetaan DNA (Devaice, Network dan Application). Pertama Devaice atau perangkat yang digunakan untuk pembelajaran kami nilai smartphone yang paling efektif karena semua peserta didik dan semua guru memilikinya. Kedua Network (Jaringan) di Sumedang hanya daerah perkotaan saja yang memungkinkan terkoneksi dengan jaringan fiber optic sedangkan sebagian besar peserta didik tersebar di semua kecamatan dan Allhamdulillah jaringan 3G sudah tersedia di semua kecamatan. Terakhir Application (aplikasi) yang akan digunakan. Hasil evaluasi semua aplikasi e-learning dan distance learning tidak efektif karena masalah perangkat harus menggunakan komputer dan kebutuhan bandwith yang besar. Tidak semua guru menguasai penggunaan aplikasi-aplikasi tersebut begitu juga dengan peserta didiknya.

Dari hasil evaluasi menggunakan indikator DNA akhirnya kami coba pembelajaran melalui WAG (WhatsApp Grup), aplikasi ini semua guru dan peserta didik menguasai dan memiliki, kebutuhan bandwith relative kecil dan cukup menggunakan smartphone. Pola pembelajaran meniru pembelajaran biasa, wakasek kurikulum membuat jadwal pelajaran seperti biasa ada guru, kelas dan jam pelajarannya. Setiap kelas dibuatkan grup siswa dengan ketua kelas dan wali kelas sebagai admin grup, setiap jam pelajaran admin mengundang guru yang mengampu pelajaran tersebut dan bergabung di grup untuk merinteraksi layaknya proses pembelajaran biasa, mengupload materi, video dll.

Teknis pembentukan kelas WAG yang mendukung pembelajaran ada dua cara yaitu 1). Pembentukan kelas WAG yang terdiri dari WAG Wali Kelas dan WAG Mata Pelajaran; 2) Pembentukan WAG Grup Belajar (hanya satu grup). Di dalam cara ke satu, karena kita membuat sendiri grup Pembelajaran Daring di WA maka kelebihan yang diperoleh  adalah: 1) Kita sebagai admin dapat membuat ketegasan karena dapat mengontrol chat (percakapan) di dalam grup tersebut. Dan mengontrol kehadiran siswa, sehingga memungkinkan siswa hadir dalam grup sesuai dengan jam pembelajaran; 2) Untuk guru yang memiliki kelas  banyak misalnya 16 kelas, maka akan sangat membantu dan sangat efektif, berbeda jika hanya memiliki satu WAG, tugas yang dikirim melalui WA pribadi akan membuat repot untuk memilah; 3) Guru dan siswa lebih mudah melihat kembali materi yang diperlukan, mereka tinggal mengklik grup yang sesuai dengan pelajarannya. Namun ada kelemahan dengan cara ini di antaranya apabila handphone yang digunakan dalam pembelajaran mengalami kerusakan maka semua data akan hilang. Berbeda dengan penggunaan G-Classroom ataupun Edmodo data akan tersimpan meskipun handphone rusak.

Teknis pembentukan kelas WAG dengan cara kedua (hanya satu grup belajar), mempunyai kelebihan antara lain: 1) Siswa hanya memiliki 1 grup belajar sehingga handphone tidak terbebani secara memori; 2) Guru tidak terbebani juga karena bisa leave grup setelah selesai mengajar; 3) Wali kelas dapat mengontrol langsung KBM yang dilaksanakan oleh siswa perwaliannya; 4) Kepala Sekolah dapat mengontrol/mensupervisi langsung secara keseluruhan KBM yang dilaksanakan; 5) Metode pembelajaran tiap guru dapat dijadikan inspirasi bagi guru yang lainnya karena di dalam WAG tersebut dimungkinkan ada guru mapel lain yang tidak leave. Namun ada kelemahan untuk cara kedua ini yaitu: 1) Ketika Ketua Kelas lupa membagikan link WAG, ada sedikit waktu yang terbuang; 2) Siswa membagikan tugas melalui japri menjadikan guru lebih ekstra untuk membukanya satu persatu dan berpeluang terlewat; 3) Karena bukan admin ketika memberikan materi memungkinkan ada siswa yang membagikan kabar lain/berkomentar di WAG; 4) Ketika membutuhkan untuk mengumumkan tidak bisa kapan saja masuk ke WAG.

Lalu di manakah peran kepala sekolah? Kepala sekolah juga diundang dan menjadi anggota setiap grup kelas dengan demikian kepala sekolah dapat menjalankan tusinya sebagai superviser, dapat mengawasi proses pembelajaran bahkan dapat mengisi kelas jika ada guru yang berhalangan hadir atau memantau tugas-tugas yang dikerjakan paserta didik. Kepala sekolah juga dapat berperan memberikan motivasi, memberikan penguatan-penguatan baik kepada guru maupun kepada peserta didik. Dengan demikian kepala sekolah dapat memastikan proses pembelajaran benar-benar berlangsung sehingga inti permasalahan bagaimana membelajarkan peserta didik dapat terjawab. Sebagai kepala sekolah SMK saya harus memikirkan metode yang tepat untuk pembelajaran praktik atau pelajaran-pelajaran yang banyak menerangkan rumus-rumus. Saya menginstruksikan guru untuk membuat video sebagai sarana dalam penyampaian materinya.

Demikianlah ikhtiar-ikhtiar kami selama masa pandemik ini, semua ikhtiar tersebut tentunya masih jauh dari harapan dan tidak dapat dibandingkan dengan proses yang terjadi jika kami berkumpul dan bertemu langsung dengan anak-anak kami tercinta di bawah atap yang sama atap SMK Negeri 1 Sumedang tercinta. Uraian di atas hanya ikhtiar kecil kami untuk tetap membekali anak-anak tercinta sambil beriring doa semoga pandemik ini cepat berlalu.  

Belajar dari pengalaman, ada hal baru yang dipelajari yaitu “pengelolaan pembelajaran dengan menggunakan moda daring Whatsapp Grup”. Dengan berbagai kendalanya namun sudah bisa teratasi dengan baik. Sedangkan hal baru yang akan dipertahankan yaitu 1) pelaksanaan pembelajaran bisa dilanjutkan tanpa batas waktu, bagi siswa yang kurang memahami materi bisa bertanya via whatsapp di luar jam pembelajaran, 2) supervisi kepala sekolah dilaksanakan di setiap akhir minggu pembelajaran, karena supervisi dengan menggunakan whatsapp lebih efektif dan efisien.

 

DAFTAR PUSTAKA

Darson. (2020). Kehadiran Guru Dirindukan Siswa. http://beritadisdik.com. Diakses tanggal 11 Mei 2020.

Khoiriyah, Iswatun. (2020). Tantangan Kewirausahaan Kepala Sekolah Di Tengah Pandemi Corona. http://beritadisdik.com. Diakses tanggal 11 Mei 2020.

Komariah, Nur. (2020). Transpormasi Pembelajaran Pada Era Pandemi Covid-19. http://beritadisdik.com. Diakses tanggal 10 Mei 2020.

Nanang. (2020). Ambyarkah Kuliah Umum Mas Nadiem. http://beritadisdik.com. Diakses tanggal 11 Mei 2020.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 06 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah. http:// www.lppks.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 11 Mei 2020.

 

PROFIL PENULIS

Nama

NIP

Unit Kerja

Tempat Tanggal Lahir

Pendidikan Terakhir

Prestasi

:

:

:

:

:

:

Dra. Elis Herawati, M.Pd

19670202 199303 2 006

SMK Negeri 1 Sumedang

Sumedang, 02 Februari 1967

S2 Pendidikan Teknologi Kejuruan UPI Bandung

Kepala Sekolah Berprestasi 2017

 

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Semangat Revitalisasi di Mata Angkie

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...