Penulis: Dra. Elis Herawati, M.Pd
Dra. Elis Herawati, M.Pd
Oleh
Dra. Elis Herawati, M.Pd
(Kepala
Sekolah SMK Negeri 1 Sumedang/KomunitaS
Cinta Indonesia/KACI #PASTI BISA#)
Kasus
Covid-19 pada awalnya kami mendengar dan menyaksikan di berita luar negeri
sambil berharap semoga saja tidak sampai terjadi di negara tercinta kita, kami
masih melaksanakan kegiatan-kegiatan yang normal biasa kami laksanakan, saat
itu kami semua sedang disibukkan dengan
persiapan UNBK. Sebuah kegiatan yang sudah rutin kami laksanakan setiap tahun
mulai dari mempersiapkan perangkat-perangkat komputer
dan perangkat pendukung lainnya. Mengawasi para proctor dan teknisi untuk
memastikan semua tahapan dilaksanakan sepenuhnya bahkan sampai proses
sinkronisasi dengan server pusat telah kami laksanakan tanpa kendala, intinya
kami telah siap untuk UNBK.
Tapi
sayang takdir berkata lain, Allah SWT ternyata memiliki rencana yang jauh lebih
indah untuk negeri tercinta. Covid-19 yang tadinya hanya ada di berita ternyata
hadir juga di negeri ini dan berdampak pada semua aspek kehidupan tanpa kecuali
termasuk dunia pendidikan. Lembaga pendidikan yang sangat bersentuhan langsung
dengan kerumunan orang tentu saja hal ini sangat riskan terhadap penyebaran Covid-19.
Untungnya pemerintah kita cepat tanggap dengan menerbitkan surat edaran
penghentian semua kegiatan yang dapat mempercepat penularan Covid-19. UNBK,
Ujian Sekolah, Uji Kompetensi dan proses pembelajaran semuanya ditiadakan.
Sungguh sebuah hal yang tidak pernah diduga sebelumnya dan tidak ada petunjuk
teknis yang dapat dijadikan pedoman. Bekerja dari rumah dan Belajar dari rumah
hanya dua petunjuk itu yang harus kami pedomani dan kami laksanakan.
Seperti
judul lagu dari band legendaris Queen “The Show Must Go On” kita jangan terlalu
larut dalam suasana pandemik ini karena ada
kepentingan yang juga sangat penting yaitu peroses pembelajaran jangan sampai
terhenti, jangan sampai Covid-19 mengalahkan kita untuk terus membekali
anak-anak didik kita, untuk terus mengajarkan optimism, untuk terus mengajarkan
solidaritas, untuk terus mengajarkan bagaimana meningkatkan kepedulian terhadap
kesehatan dan kepedulian terhadap sesama. Selalu
mengingatkan anak didik untuk selalu mematuhi protokol
Kesehatan dari pemerintah termasuk implementasi jaga jarak dan hindari
kerumunan.
Pada
awal diberlakukan belajar dari rumah kami mencoba menerapkan sistem
pembelajaran e-learning dengan memanfaatkan aplikasi-aplikasi yang tersedia
secara gratis seperti Edmodo, google class room, model, aplikasi zoom meeting
dan lain-lain. Kami memberikan kebebasan kepada Bapak/Ibu guru untuk memilih
aplikasi-aplikasi yang menurut mereka paling efektif. Setelah berjalan kurang
lebih dua minggu ternyata muncul keluhan-keluhan. Keluahan dari anak didik
mereka sebagian besar tidak memiliki komputer
atau laptop, dari orang tua siswa mengeluhkan biaya kuota internet, ada
beberapa guru yang kesulitan dengan jaringan seluler di tempat tinggalnya
karena di Sumedang sinyal 4G belum merata sepenuhnya.
Dari
masalah-masalah yang timbul tersebut kami coba melakukan evaluasi dengan
pemetaan DNA (Devaice, Network dan Application). Pertama Devaice atau perangkat
yang digunakan untuk pembelajaran kami nilai smartphone yang paling efektif
karena semua peserta didik dan semua guru memilikinya. Kedua Network (Jaringan)
di Sumedang hanya daerah perkotaan saja yang memungkinkan terkoneksi dengan
jaringan fiber optic sedangkan sebagian besar peserta didik tersebar di semua
kecamatan dan Allhamdulillah jaringan 3G sudah tersedia di semua kecamatan.
Terakhir Application (aplikasi) yang akan digunakan. Hasil evaluasi semua
aplikasi e-learning dan distance learning tidak efektif karena masalah
perangkat harus menggunakan komputer dan
kebutuhan bandwith yang besar. Tidak semua guru menguasai penggunaan
aplikasi-aplikasi tersebut begitu juga dengan peserta didiknya.
Dari
hasil evaluasi menggunakan indikator DNA akhirnya
kami coba pembelajaran melalui WAG (WhatsApp Grup), aplikasi ini semua guru dan
peserta didik menguasai dan memiliki, kebutuhan bandwith relative kecil dan
cukup menggunakan smartphone. Pola pembelajaran meniru pembelajaran biasa,
wakasek kurikulum membuat jadwal pelajaran seperti biasa ada guru, kelas dan
jam pelajarannya. Setiap kelas dibuatkan grup siswa dengan ketua kelas dan wali
kelas sebagai admin grup, setiap jam pelajaran admin mengundang guru yang
mengampu pelajaran tersebut dan bergabung di grup untuk merinteraksi layaknya
proses pembelajaran biasa, mengupload materi, video dll.
Teknis
pembentukan kelas WAG yang mendukung pembelajaran ada dua cara yaitu 1). Pembentukan
kelas WAG yang terdiri dari WAG Wali Kelas dan WAG Mata Pelajaran; 2)
Pembentukan WAG Grup Belajar (hanya satu grup). Di dalam cara ke satu, karena
kita membuat sendiri grup Pembelajaran Daring di WA
maka kelebihan yang diperoleh adalah: 1) Kita sebagai admin dapat membuat
ketegasan karena dapat mengontrol chat (percakapan) di dalam grup tersebut. Dan
mengontrol kehadiran siswa, sehingga memungkinkan siswa hadir dalam grup sesuai
dengan jam pembelajaran; 2) Untuk guru yang memiliki kelas banyak misalnya 16 kelas, maka akan sangat
membantu dan sangat efektif, berbeda jika hanya memiliki satu WAG, tugas yang
dikirim melalui WA pribadi akan membuat repot untuk memilah; 3) Guru dan siswa
lebih mudah melihat kembali materi yang diperlukan, mereka tinggal mengklik
grup yang sesuai dengan pelajarannya. Namun ada kelemahan dengan cara ini di antaranya apabila handphone yang digunakan
dalam pembelajaran mengalami kerusakan maka semua data akan hilang. Berbeda
dengan penggunaan G-Classroom ataupun Edmodo data akan tersimpan meskipun
handphone rusak.
Teknis
pembentukan kelas WAG dengan cara kedua (hanya satu grup belajar), mempunyai
kelebihan antara lain: 1) Siswa hanya memiliki 1 grup belajar sehingga handphone
tidak terbebani secara memori; 2) Guru tidak terbebani juga karena
bisa leave grup setelah selesai mengajar; 3) Wali kelas dapat mengontrol
langsung KBM yang dilaksanakan oleh siswa perwaliannya; 4) Kepala Sekolah dapat
mengontrol/mensupervisi langsung secara keseluruhan KBM yang dilaksanakan; 5) Metode
pembelajaran tiap guru dapat dijadikan inspirasi bagi guru yang lainnya karena
di dalam WAG tersebut dimungkinkan ada guru mapel lain yang tidak leave. Namun
ada kelemahan untuk cara kedua ini yaitu: 1) Ketika Ketua Kelas lupa membagikan
link WAG, ada sedikit waktu yang terbuang; 2) Siswa membagikan tugas melalui
japri menjadikan guru lebih ekstra untuk membukanya satu persatu dan berpeluang
terlewat; 3) Karena bukan admin ketika memberikan materi
memungkinkan ada siswa yang membagikan kabar lain/berkomentar di WAG; 4) Ketika
membutuhkan untuk mengumumkan tidak bisa kapan saja masuk ke WAG.
Lalu di manakah peran kepala sekolah? Kepala
sekolah juga diundang dan menjadi anggota setiap grup kelas dengan demikian
kepala sekolah dapat menjalankan tusinya sebagai superviser, dapat mengawasi
proses pembelajaran bahkan dapat mengisi kelas jika ada guru yang berhalangan
hadir atau memantau tugas-tugas yang dikerjakan paserta didik. Kepala sekolah
juga dapat berperan memberikan motivasi, memberikan penguatan-penguatan baik
kepada guru maupun kepada peserta didik. Dengan demikian kepala sekolah dapat
memastikan proses pembelajaran benar-benar berlangsung sehingga inti
permasalahan bagaimana membelajarkan peserta didik dapat terjawab. Sebagai
kepala sekolah SMK saya harus memikirkan metode yang tepat untuk pembelajaran
praktik atau pelajaran-pelajaran yang banyak menerangkan rumus-rumus. Saya
menginstruksikan guru untuk membuat video sebagai
sarana dalam penyampaian materinya.
Demikianlah
ikhtiar-ikhtiar kami selama masa pandemik ini,
semua ikhtiar tersebut tentunya masih jauh dari harapan dan tidak dapat
dibandingkan dengan proses yang terjadi jika kami berkumpul dan bertemu
langsung dengan anak-anak kami tercinta di bawah atap yang sama atap SMK Negeri
1 Sumedang tercinta. Uraian di atas hanya ikhtiar kecil kami untuk
tetap membekali anak-anak tercinta sambil
beriring doa semoga pandemik ini cepat
berlalu.
Belajar
dari pengalaman, ada hal baru yang dipelajari yaitu “pengelolaan pembelajaran
dengan menggunakan moda daring Whatsapp Grup”. Dengan berbagai kendalanya namun
sudah bisa teratasi dengan baik. Sedangkan hal baru yang akan dipertahankan
yaitu 1) pelaksanaan pembelajaran bisa dilanjutkan tanpa batas waktu, bagi
siswa yang kurang memahami materi bisa bertanya via whatsapp di luar jam
pembelajaran, 2) supervisi kepala sekolah dilaksanakan di setiap akhir minggu
pembelajaran, karena supervisi dengan menggunakan whatsapp lebih efektif dan
efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Darson. (2020). Kehadiran Guru Dirindukan Siswa. http://beritadisdik.com. Diakses
tanggal 11 Mei 2020.
Khoiriyah, Iswatun. (2020). Tantangan Kewirausahaan Kepala Sekolah Di Tengah Pandemi Corona. http://beritadisdik.com.
Diakses tanggal 11 Mei 2020.
Komariah,
Nur. (2020). Transpormasi Pembelajaran Pada Era Pandemi Covid-19. http://beritadisdik.com.
Diakses tanggal 10 Mei 2020.
Nanang. (2020). Ambyarkah Kuliah Umum Mas Nadiem. http://beritadisdik.com. Diakses
tanggal 11 Mei 2020.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia Nomor 06 Tahun 2018 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala
Sekolah. http:// www.lppks.kemdikbud.go.id. Diakses
tanggal 11 Mei 2020.
PROFIL PENULIS
Nama NIP Unit
Kerja Tempat
Tanggal Lahir Pendidikan
Terakhir Prestasi |
: : : : : : |
Dra.
Elis Herawati, M.Pd 19670202
199303 2 006 SMK
Negeri 1 Sumedang Sumedang,
02 Februari 1967 S2
Pendidikan Teknologi Kejuruan UPI Bandung Kepala
Sekolah Berprestasi 2017 |