MEMBANGUN TIM KERJA DI SEKOLAH

Penulis: Drs. Yuli Cahyono, M.Pd

Dibaca: 1818 kali

Drs. Yuli Cahyono, M.Pd

Oleh Drs. Yuli Cahyono, M.Pd

(Widyaiswara Ahli Madya LPPKSPS Karanganyar-Jawa Tengah/KACI #PASTI BISA#)

 

“Kalau kamu ingin mengerjakan pekerjaan besar setiap hari, jangan kamu kerjakan sendiri”. (Simon Sinek, 2017)

Pekerjaan kepala sekolah itu bukan untuk melakukan semua pekerjaan di sekolah sendirian. Pekerjaan kepala sekolah adalah melakukan semua pekerjaan di sekolah melalui pikiran, tangan dan perbuatan guru, staf, karyawan dan warga sekolah yang lain. Jadi yang harus dilakukan oleh kepala sekolah adalah membangun tim kerja. Pertanyaannya adalah, bagaimana kepala sekolah membangun tim kerja di sekolah yang efektif?

Ada dua hal yang harus ada, yakni adanya keseimbangan dan nilai-nilai hidup bersama. Bekerja tim adalah bekerja dalam sebuah sistem sehingga memerlukan keseimbangan dalam keterampilan dan gaya. Kita memerlukan orang dengan keterampilan yang berbeda untuk mengisi peran yang berbeda. (Dawna Markova, and Angie McArthur. 2015). Kalau anda tidak suka Akuntansi, maka biarkanlah anggota tim yang lain yang mengerjakannya. Kita juga tidak memerlukan orang bergaya sama. Tim bekerja dengan perspektif dan pendekatan yang berbeda. Kita memerlukan orang yang berpikir yang besar-besar seperti teleskope. Kita juga memerlukan orang yang berbicara The Big (D)esign, dan orang yang berpikir dan berbicara secara detil seperti microscope. Ada yang hebat dengan kata-kata, dan juga yang hebat dengan angka-angka. Tak ada superman di sini, yang ada adalah superhero. Semua bisa, semua hebat (Natalie Turner, 2018). Peran kepala sekolah, menjaga keseimbangan kekuatan-kehebatan dan gaya dari setiap individu anggota tim. Mengelola perbedaan suku, ras, agama, gender itu mengelola bagaimana orang berpikir dan berinteraksi.

Lalu semuanya menjadi berbeda jika kita berbicara tentang nilai-nilai. Bagaimana kepala sekolah menumbuhkan nilai-nilai yang baik untuk bisa hidup bersama. Caranya adalah dengan membuat daftar nilai-nilai apa saja sebenarnya yang diinginkan dan nilai-nilai apa saja yang sebenarnya kita tidak inginkan (Jo Owen, 2017). Semua nilai yang baik menimbulkan perasaan bahagia dalam bekerja secara bersama. Kepala sekolah hendaknya juga berperilaku seperti layaknya warga sekolah. (Debby Carreau, 2016). Semua nilai yang tidak baik menimbulkan perasaan tidak nyaman satu sama lain. Dengan daftar nilai-nilai baik yang diinginkan dan nilai-nilai tidak baik yang tidak diinginkan, tim kerja membangun sinkronisasi dan harmonisasi dalam bekerja dari waktu ke waktu. 

Lalu bagaimana kita membangun tim kerja yang efektif? Kebanyakan dari kita selalu berpikir dengan memberi bonus dan promosi. Sebenarnya lebih dari itu, membangun tim kerja adalah bagaimana membantu mereka tumbuh dan berkembang sehingga mereka merasa sukses dalam jangka panjang (Henry Kimsey-House, Karen Kimsey House, Phillip Sandahl, Luara Whitworth, 2018). Ada tiga cara, yakni melalui 1) pelatihan, 2) coaching dan 3) pengalaman. Cara pertama, pelatihan berkenaan dengan pengembangan keterampilan (hard skills), penuh dengan transfer of knowledge, belajar tentang penghitungan angka kredit guru misalnya. Tapi kegunaannya sangat terbatas, ya hanya di seputar permasalahan penghitungan angka kredit guru saja. Kita bisa menjadi ahli di dalam penghitungan angka kredit guru, tapi buruk dalam hal bekerja sama dengan teman sejawat, itu banyak terjadi.

Cara yang kedua adalah dengan coaching. Guru adalah manusia dewasa. Cara melatih orang dewasa bukan dengan menceramahi mereka tetapi dengan memberikan kesempatan seluas dan sebebasnya kepada mereka untuk menemukan cara bekerja yang terbaik bagi mereka (Richard Boyatzis, Melvin Smith, Ellen Van Oosten. 2019). Lalu bagaimana coaching dibudayakan di sekolah-sekolah? Bisa dengan membentuk satu tim kerja dan meminta setiap anggota tim untuk saling membantu dan menjadi coach satu sama lain. Bisa juga dengan membentuk sebanyak-banyaknya tim kerja, dan kita meminta setiap tim untuk saling membantu dan menjadi coach bagi tim yang lain (Carl D. Glickman, Stephen P. Gordon, Jovita M Ross-Gordon, 2014). Lalu berikan sedikit ilmu tentang coaching, yakni bagaimana membangun pertanyaan yang powerful, membuat percakapan atau melakukan dialog yang konstruktif (Co-Active Coaching). Secara perlahan mereka saling belajar dan terinternalisasi dengan aktivitas berdialog yang baik satu sama lain. Selanjutnya ketika mereka sudah berdaya dan semakin berkembang, mereka tidak lagi membutuhkan kepala sekolah secara teknis karena tim kerja lain datang dan bisa membantu (Ng Pak Tee, 2005).

Yang terakhir adalah membangun tim kerja dengan pengalaman (James W. Gentry. 1990). Misalnya dengan Co-Active Coaching, kepala sekolah bisa membantu anggota tim menemukan lesson-learnts untuk bisa tumbuh dan berkembang potensinya secara optimal. Kepala sekolah perlu menambah aspek baru untuk dipikirkan, tantangan baru untuk diatasi, sehingga tim kerja selalu terus berpikir, bekerja dan menghasilkan kinerja yang lebih produktif dan lebih berkualitas.

Apa itu Co-Active Coaching? Co-Active Coaching itu intinya ada tiga aspek, yakni 1) pemenuhan, 2) keseimbangan, dan 3) proses. Ketiga hal itu didekati dengan 5 matra, yakni 1) keterampilan menyimak yang baik, 2) intuisi yang terlatih, 3) rasa ingin tahu dengan pertanyaan-pertanyaan baru, 4) pendalaman pada bagian-bagian kecil pekerjaannya sehari-hari yang digeluti dan 5) pengelolaan diri yang adaptif dengan perubahan diri dan lingkungannya.

Kelima hal tadi dilandasi oleh 4 bidang garapan, yakni bahwa 1) manusia itu kreatif, kaya dan sempurna; 2) manusia yang seutuhnya, 3) manusia itu perlu kesimbangan antara diri dan lingkungannya yang senada-seirama dan selangkah; dan 4) manusia itu  senantiasa memperbarui kekuatan dan kapasitas bisa tetap hidup. “Urip kuwi Urup”. Yang kita perlukan sekarang adalah sebanyak mungkin guru, tenaga kependidikan dan staff sekolah dengan kinerja sangat baik (high performers), seminimal mungkin pengikut (followers) dan tanpa satu pun pembuat masalah (trouble makers). Semuanya disatukan oleh sebuah visi dan misi bersama (united vision and mission) untuk mengembangkan sekolah agar siswa keluaran dari sebuah sekolah bermutu tinggi dan berdampak strategis dengan berkontribusi signifikan mendukung pencapaian tujuan pembangunan di skala daerah dan nasional. 

Bagaimana itu bisa terjadi? Learning organization, sekolah yang dinamis, cair dan selalu belajar, dari kepala sekolah, guru, karyawan saling belajar (Andy Lancaster, 2020). Mereka yang merasa punya keahlian (high performers) bekerjalah dengan sangat baik agar hasil pekerjaan bermutu. Mereka yang tidak begitu paham ikutlah bekerja, sebab dengan berpartisipasi dan turut serta ikut bekerja bersama-sama dengan yang lain, itu juga belajar menjadi pengikut (follower) yang baik. Mereka yang berbeda pendapat, pandangan, gagasan, kemauan dan keinginan, bersabarlah dan tetap berpartisipasi ikut serta bekerja dengan yang lain, sebab dengan ikut serta bekerja kita mengobservasi dan berbicara dengan diri kita sendiri (self talk), apakah keberadaan kita mengganggu pencapaian visi, misi dan tujuan sekolah. Jelas bagi kita sekarang, untuk bisa bekerja sama dalam sebuah tim kerja, atau kita sebut berkolaborasi, kita membutuhkan bukan hanya keahlian, tetapi juga kepedulian untuk bisa saling belajar.

Sebagai kesimpulan bagi para kepala sekolah sebagai pemimpin di sekolah, all leaders are teachers. Membantu orang lain sukses itu sebuah jalan yang luar biasa yang membantu kita sendiri semakin sukses (James Kerr, 2015).

®    Relevan forum terkait topik ini; silahkan berkunjung ke Tayangan Web Seminar LPPKS Menyapa Tanggal 08 Mei 2020, sesi 2 menit ke 36-1.10 tentang Coaching sebagai indikator penting kepemimpinan kepala sekolah yang efektif bisa diakses di Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=q8uzIGnZdnY&t=4120s

®    Relevan buku terkait topik ini; silahkan mendalaminya dalam:

·       Yuli Cahyono. 2019. Penguatan Karakter Bangsa Dalam Rencana Tindak Kepemimpinan Calon Kepala Sekolah/Madrasah. Aqeela Cipta Media. Sukoharjo. Jawa Tengah. 081328823475.

·       Yuli Cahyono. 2020. Step By Step To Become Principals. CV Eksisgraf, Bandung: Jawa Barat. 081395329344.

·       Yuli Cahyono. 2020. Best Practice: Meningkatkan potensi kepemimpinan dan kompetensi kepala sekolah melalui pendampingan penerapan Teori U dalam pelaksanaan program pengembangan kewirausahaan di SMA Negeri 1 Tenjolaya Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat. LPPKSPS, Karanganyar, Jawa Tengah. . 081328823475.

·       Rivolan PH, Nazarudin, Yuli Cahyono. 2020. GROW ME. Aqeela Cipta Media. Sukoharjo. Jawa Tengah. 081328823475.

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Semangat Revitalisasi di Mata Angkie

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...