Menularkan Virus Literasi di SMANCIGO

Penulis: Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd.

Dibaca: 129 kali

Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd.

Oleh Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd.

(Kepala SMAN 1 Cigombong Kab. Bogor)Tulislah apa yang kamu lihat, kamu dengar dan kamu rasakan untuk dijadikan literatur abadi dalam sejarah semasa hidup. Pernyataan tadi sangat cocok bagi seorang kolumnis dan penulis untuk mengekspresikan diri dalam bentuk karya fiksi maupun non fiksi. Terus apa hubungannya dengan virus?

Kita ketahui bahwa virus itu adalah agen infeksi berukuran kecil yang bereproduksi di dalam sel inang yang hidup. Ketika terinfeksi, sel inang dipaksa untuk menghasilkan ribuan salinan identik virus asli dengan cepat. Virus sendiri tidak memiliki sel; pembentukan virus-virus baru berlangsung dalam sel inang yang terinfeksi. (Wikipedia)

Sedangkan literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. (Wikipedia)

Maka sudah dapat dibayangkan bagaimana ganasnya makhluk yang bernama virus literasi ini. Penyebarannya bisa dengan cepat mengalahkan virus corona, dikarenakan proses penularan yang cukup cepat ini mudah memasuki dan merasuki berbagai kalangan, baik tua maupun muda, di setiap ruang dan waktunya.

Dr. Dudung Nurulloh Koswara, M.Pd., beliau inilah sumber virus dari segala virus literasi, menulis sambutannya pada buku "Terbang Bebas di Semesta Narasi” karya sahabat Taupik ipebe sebagai berikut, “Sehebat-hebatnya pembicara, sehebat-hebatnya penceramah dan sehebat-hebatnya guru menjelaskan, saat sakit dan saat wafat semuanya akan berakhir. Ceramah, orasi, bicara langsung hanya bisa dilakukan oleh seorang manusia yang masih ada. Namun ada satu ikhtiar terbaik manusia yang luar biasa dalam menyampaikan pengetahuan tanpa harus bicara langsung, yakni melalui tulisan.”

Dari pernyataan-perrnyataan di atas jelas semua menekankan kepada apa arti pentingnya menulis terlepas dari berbagai kesulitannya, terutama bagi seorang pemula, seperti: malas mencari literasi, kurang ide, kurang latihan, takut salah, takut gagal, bagaimana mempublikasikan, masalah finansial yang didapat, dan sebagainya.

Akan halnya suasana berkarya literasi di SMANCIGO atau SMAN 1 Cigombong Kabupaten Bogor waktu itu penulis mulai menapakkan kakinya di sana, dunia literasi masih agak asing walau beberapa guru sudah mencoba dan memulai menulis karena ada tugas kegiatan atau hal lainnya. Namun seiring berjalannya waktu, maka mulailah terasa adanya penyebaran virus literasi ini dengan cara memberikan contoh tulisan yang sudah dimuat di media online (beritadisdik.com) yang disebar ke Whatsapp group, sehingga secara tidak langsung virus literasi mulai menyebar dan membuat efek yang sangat fatal semua civitas SMANCIGO akan arti pentingnya dunia literasi.

Ada sebagian yang mulai kegerahan untuk mencoba berselancar di dunia literasi dengan cara konsultasi, mencoba dan mencoba lagi menulis, sehingga kendala-kendala dalam berliterasi sebagai pemula mulai sirna perlahan-lahan. Semangat untuk mencari literasi mulai terlihat dari seringnya diskusi satu sama lain, ide selalu ada dan up to date dengan catatan pesan dari penulis, "Ketika ide timbul, cepat catat! Karena ide datangnya tiba-tiba dan hilangnya juga seketika". Latihan menulis terus dicoba dan dikonsultasikan menjadikan penulis menjadi editor dadakan. Rasa takut salah dalam menulis mulai hilang dengan terbitnya satu dua artikel dibuat. Takut gagal jelas tidak ada karena artikel yang dibuat sudah dipublikasikan. Cara mempublikasikan pun ternyata sudah pada bisa setelah diberitahu. Masalah finansial bukan lagi menjadi tolak ukur penulisan karena rasa kepuasan berliterasilah yang menjadi ukuran. Penulis hanya berpesan, "Tulislah sebaik mungkin, nanti juga akan baik sendiri tulisannya."

Dari hari ke hari virus literasi itu semakin merajalela di SMANCIGO. Hal ini terbukti dari akan diterbitkannya satu buah buku hasil karya bersama. Dari satu dua orang guru yang terkena virus literasi, akhirnya menjadi 22 orang sampai penerbitan buku itu. Bahkan untuk penerbitan selanjutnya bertambah 6 orang menjadi 28 orang. Untuk buku yang pertama tadi berjumlah sekitar 55 judul artikel, itu pun hasil seleksi karena beberapa artikel lainnya tidak disertakan dalam buku itu. Dan untuk penerbitan buku yang kedua pun sudah mulai terkumpul beberapa artikel baru yang dibuat.

Buku tersebut berjudul 'Menuang Gagasan Menjemput Keberhasilan', yang menyuguhkan beragam uraian hasil pemikiran seluruh civitas SMANCIGO, yang tidak saja berkutat pada soal pendidikan dan kegiatan belajar mengajar di sekolah saja, tetapi berisikan tentang berbagai tulisan yang bernuansa inspiratif, motivasi, sosial kemasyarakatan, religi dan masalah lingkungan hidup.

Buku yang diterbitkan oleh penerbit Infokarsa ini dikemas dengan bahasa yang sederhana  sehingga mudah memahami akan makna dari setiap artikel yang disajikannya. InshaAllah SMANCIGO juara.

Cigombong, 16/03/22

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Semangat Revitalisasi di Mata Angkie

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...