Penulis: Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd.
Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd.
Oleh Dr. Drs. Raya Erwana, M.Pd.
(Kepala SMAN 1 Cigombong Kab. Bogor)Tulislah apa yang
kamu lihat, kamu dengar dan kamu rasakan untuk dijadikan literatur abadi dalam
sejarah semasa hidup. Pernyataan tadi sangat cocok bagi seorang kolumnis dan
penulis untuk mengekspresikan diri dalam bentuk karya fiksi maupun non fiksi.
Terus apa hubungannya dengan virus?
Kita ketahui bahwa
virus itu adalah agen infeksi berukuran kecil yang bereproduksi di dalam sel
inang yang hidup. Ketika terinfeksi, sel inang dipaksa untuk menghasilkan
ribuan salinan identik virus asli dengan cepat. Virus sendiri tidak memiliki
sel; pembentukan virus-virus baru berlangsung dalam sel inang yang terinfeksi.
(Wikipedia)
Sedangkan literasi
adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu
dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada
tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. (Wikipedia)
Maka sudah dapat
dibayangkan bagaimana ganasnya makhluk yang bernama virus literasi ini.
Penyebarannya bisa dengan cepat mengalahkan virus corona, dikarenakan proses
penularan yang cukup cepat ini mudah memasuki dan merasuki berbagai kalangan,
baik tua maupun muda, di setiap ruang dan waktunya.
Dr. Dudung
Nurulloh Koswara, M.Pd., beliau inilah sumber virus dari segala virus literasi,
menulis sambutannya pada buku "Terbang Bebas di Semesta Narasi” karya
sahabat Taupik ipebe sebagai berikut, “Sehebat-hebatnya pembicara, sehebat-hebatnya
penceramah dan sehebat-hebatnya guru menjelaskan, saat sakit dan saat wafat
semuanya akan berakhir. Ceramah, orasi, bicara langsung hanya bisa dilakukan
oleh seorang manusia yang masih ada. Namun ada satu ikhtiar terbaik manusia
yang luar biasa dalam menyampaikan pengetahuan tanpa harus bicara langsung,
yakni melalui tulisan.”
Dari
pernyataan-perrnyataan di atas jelas semua menekankan kepada apa arti
pentingnya menulis terlepas dari berbagai kesulitannya, terutama bagi seorang
pemula, seperti: malas mencari literasi, kurang ide, kurang latihan, takut
salah, takut gagal, bagaimana mempublikasikan, masalah finansial yang didapat,
dan sebagainya.
Akan halnya
suasana berkarya literasi di SMANCIGO atau SMAN 1 Cigombong Kabupaten Bogor
waktu itu penulis mulai menapakkan kakinya di sana, dunia literasi masih agak
asing walau beberapa guru sudah mencoba dan memulai menulis karena ada tugas
kegiatan atau hal lainnya. Namun seiring berjalannya waktu, maka mulailah
terasa adanya penyebaran virus literasi ini dengan cara memberikan contoh
tulisan yang sudah dimuat di media online (beritadisdik.com) yang
disebar ke Whatsapp group, sehingga secara tidak langsung virus literasi mulai
menyebar dan membuat efek yang sangat fatal semua civitas SMANCIGO akan arti
pentingnya dunia literasi.
Ada sebagian yang
mulai kegerahan untuk mencoba berselancar di dunia literasi dengan cara
konsultasi, mencoba dan mencoba lagi menulis, sehingga kendala-kendala dalam
berliterasi sebagai pemula mulai sirna perlahan-lahan. Semangat untuk mencari
literasi mulai terlihat dari seringnya diskusi satu sama lain, ide selalu ada
dan up to date dengan catatan pesan dari penulis, "Ketika ide
timbul, cepat catat! Karena ide datangnya tiba-tiba dan hilangnya juga
seketika". Latihan menulis terus dicoba dan dikonsultasikan menjadikan
penulis menjadi editor dadakan. Rasa takut salah dalam menulis mulai hilang
dengan terbitnya satu dua artikel dibuat. Takut gagal jelas tidak ada karena
artikel yang dibuat sudah dipublikasikan. Cara mempublikasikan pun ternyata
sudah pada bisa setelah diberitahu. Masalah finansial bukan lagi menjadi tolak
ukur penulisan karena rasa kepuasan berliterasilah yang menjadi ukuran. Penulis
hanya berpesan, "Tulislah sebaik mungkin, nanti juga akan baik sendiri
tulisannya."
Dari hari ke hari
virus literasi itu semakin merajalela di SMANCIGO. Hal ini terbukti dari akan
diterbitkannya satu buah buku hasil karya bersama. Dari satu dua orang guru
yang terkena virus literasi, akhirnya menjadi 22 orang sampai penerbitan buku
itu. Bahkan untuk penerbitan selanjutnya bertambah 6 orang menjadi 28 orang.
Untuk buku yang pertama tadi berjumlah sekitar 55 judul artikel, itu pun hasil
seleksi karena beberapa artikel lainnya tidak disertakan dalam buku itu. Dan
untuk penerbitan buku yang kedua pun sudah mulai terkumpul beberapa artikel
baru yang dibuat.
Buku tersebut
berjudul 'Menuang Gagasan Menjemput Keberhasilan', yang menyuguhkan beragam
uraian hasil pemikiran seluruh civitas SMANCIGO, yang tidak saja berkutat pada
soal pendidikan dan kegiatan belajar mengajar di sekolah saja, tetapi berisikan
tentang berbagai tulisan yang bernuansa inspiratif, motivasi, sosial
kemasyarakatan, religi dan masalah lingkungan hidup.
Buku yang
diterbitkan oleh penerbit Infokarsa ini dikemas dengan bahasa yang
sederhana sehingga mudah memahami akan
makna dari setiap artikel yang disajikannya. InshaAllah SMANCIGO juara.
Cigombong,
16/03/22