SELAYANG PANDANG TENTANG CLASSDOJO

Penulis: Neneng Hendriyani, M.Pd.

Dibaca: 1121 kali

Neneng Hendriyani, M.Pd.

Oleh Neneng Hendriyani, M.Pd.

(Guru Bahasa Inggris di SMAN 4 Cibinong/Komunitas Cinta Indonesia/KACI #PASTI BISA#)

 

Mengajar merupakan tugas dan kewajiban seorang guru. Di zaman yang sudah semakin maju dan canggih ini tuntutan guru pun ikut meningkat. Dia tidak hanya diharuskan untuk menyampaikan materi pelajaran yang diampunya dengan baik, tepat dan benar. Dia juga diharuskan untuk mendidik peserta didiknya dengan baik.

Mendidik tentu saja berbeda dengan mengajar. Kegiatan mendidik lebih difokuskan ke arah pembentukan karakter dan sikap peserta didik. Sementara kegiatan mengajar memfokuskan diri ke arah peningkatan kemampuan akademik peserta didik.

Mengajar jauh lebih mudah dilakukan oleh guru daripada mendidik. Tidak semua orang bisa mendidik. Namun, guru haruslah bisa mendidik sekaligus mengajar. Mengajar hanyalah menyampaikan materi, menanamkan konsep keilmuan dan keterampilan kepada peserta didik. Pemberian tugas, soal, dan proyek adalah instrumen yang bisa digunakan oleh guru untuk mengajar. Penggunaan sumber pustaka seperti buku, film, kartun, bahkan benda mati yang ada di sekitar lingkungan peserta didik bisa menjadi sumber belajar mengajar.

Mendidik jauh lebih sulit. Siswa membutuhkan treatment khusus untuk bisa menjadi manusia Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Mahaesa dan cakap serta terampil serta berkepribadian baik. Mendidik lebih berkaitan erat dengan melatih peserta didik menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang beradab. Manusia yang memiliki minimal sembilan nilai karakter positif di dalam dirinya. Yaitu, jujur, percaya diri, peduli, disiplin, tanggung jawab, santun, kerja sama, rendah hati, toleransi.

Kegiatan mendidik ini membutuhkan role model yang kuat dari guru dan lingkungan di sekitar peserta didik (sekolah, rumah, masyarakat). Semua orang dewasa yang berada di sekitar peserta didik bisa menjadi role model yang baik. Bukankah mereka belajar langsung dari apa yang dilihat olehnya? Kita pasti ingat dengan peribahasa, guru kencing berdiri murid kencing berlari.

Dari hal itu diketahui bahwa peserta didik dapat mencontoh seluruh perilaku yang ada di sekitarnya dengan cepat. Inilah yang kemudian akan menjadi karakter peserta didik tersebut. Apabila yang dilihat dan dicontohnya itu baik maka baiklah karakternya. Namun apabila buruk, maka buruklah karakternya. Itulah sebabnya guru masa kini tetap bertanggung jawab terhadap perkembangan karakter peserta didik.

Dalam sistem penilaian berbasis kurikulum 2013 guru pun dituntut untuk memberikan perhatian dan penilaian untuk perkembangan karakter peserta didik. Guru harus membuat rubrik penilaian yang berisi tentang sejumlah karakter positif yang hendak dikembangkan oleh guru. Setiap guru memberikan penilaian terhadap kompetensi kepribadiannya ini tanpa terkecuali. Inilah yang dimaksud dengan penilaian sikap. Berdasarkan penilaian di bidang inilah guru dapat memberikan pertimbangan bagi peserta didik berupa saran, nasihat dan komentar positif yang bersifat membangun. Semua saran, nasihat dan komentar positif ini dapat diberikan langsung kepada peserta didik yang bersangkutan atau kepada orang tua dan guru bimbingan konseling di sekolah serta wali kelas. Penilaian yang diberikan guru mata pelajaran ini memiliki fungsi yang sama pentingnya dengan penilaian yang diberikan oleh guru bimbingan konseling dan agama.

Sayangnya tidak mudah bagi guru dalam melakukan tugas penilaian tersebut di lapangan. Banyaknya jumlah peserta didik yang harus diamati, dinilai dan diberikan respons oleh guru membuat guru banyak mengeluh. Guru kehabisan waktu untuk sekadar mengamati sikap dan karakter mereka. Alhasil materi pelajaran yang seharusnya disampaikan pun menjadi terhambat.

Semua hal di atas bukan berarti menjadi alasan bagi guru untuk mengabaikan penilaian di bidang yang satu ini. Dengan bantuan perkembangan teknologi informasi dewasa ini guru dapat mengatasi masalah manajemen waktu penilaian sikap peserta didik. Salah satu platform aplikasi yang bisa dimanfaatkan oleh guru untuk memberikan penilaian sikap peserta didik adalah ClassDojo.

ClassDojo adalah sebuah situs dan aplikasi Android untuk pendidikan yang membantu guru untuk mengontrol/ meningkatkan perilaku (sikap) siswa di kelas/sekolah dengan cepat dan praktis. Dengan ClassDojo, Guru dapat memberi nilai feedback terhadap perilaku (sikap) siswa kapan saja, sehingga tiap perilaku positif siswa bisa langsung memperoleh reinforcement. Tanpa harus memasukkan data, ClassDojo merekam dan menyusun data perilaku siswa, yang kemudian dapat dibagikan secara online dengan orangtua siswa, wali kelas ataupun siswa itu sendiri secara realtime.

Ada delapan kelebihan yang dimiliki oleh ClassDojo. Pertama, aplikasi ini dapat mengontrol sikap (perilaku) siswa dengan 1 jari. Ini jelas sebuah terobosan yang sangat bagus sekali dan memudahkan guru dalam mengoperasikannya. Kedua, data kehadiran peserta didik dicatat secara online menggunakan smartphone. Ketiga, seluruh data tersimpan secara otomatis. Semua ada laporannya sehingga guru tidak perlu repot membuat catatan terkait perilaku siswa secara manual. Keempat, guru mata pelajaran lain bisa ikut mengontrol perilaku siswa dengan cara disetting sebagai co-teacher. Kelima, aplikasi ini bisa dihubungkan kepada orang tua peserta didik. Caranya cukup mudah. Guru hanya perlu memasukkan email orang tua saja dan selanjutnya sistem secara otomatis akan mengirimkan laporan mingguan kepada mereka. Dengan demikian orang tua peserta didik pun bisa ikut memantau perkembangan perilaku anak-anaknya secara online, realtime. Akibatnya peserta didik akan berhati-hati dalam tindakan (perilaku) nya karena semuanya dinilai oleh guru dengan cara yang praktis.

Beberapa aspek yang dapat dinilai dengan menggunakan ClassDojo adalah disiplin, gotong royong, jujur, percaya diri, santun, tanggung jawab, dan toleransi. Guru dapat memberikan penilaian terhadap seluruh nilai sikap ini dengan menyentuh salah satu sikap yang diinginkan. Selanjutnya dia hanya perlu memilih pilihan positif atau negatif. Hasil pilihannya tersebut akan langsung tersimpan secara otomatis. Selain itu guru juga bisa mengatur apakah penilaian yang diberikan memerlukan tindak lanjut atau tidak. dia juga bisa mengatur gelembung poin penilaian. Gelembung poin penilaian ini dapat dipisahkan sesuai dengan kompetensi dasar yang sedang diajarkan. Selain itu, bisa juga digabung secara keseluruhan.

 

 

BIOGRAFI PENULIS

Neneng Hendriyani, M.Pd, guru Bahasa Inggris di SMA N 4 Cibinong dan penulis 11 judul buku ber-ISBN; SMAFOUR in students English writing (mendongkrak motivasi dan kemampuan siswa menulis berbagai teks bahasa inggris) (2020), Albatros (2019), Enrichment Book for XI SMK Based on Curriculum 2013 revision (2018), Antologi Bunga Rampai Goresan Pena Guru Jawa Barat (2018), Let's Learn English Together (2018), Perlukah Kita Jujur? (2018), Setangkup Rindu dari Masa Lalu (2017), Janji Firly (2017), Tips Mudah Menulis Proposal dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (2017), Bogor: Peninggalan Sejarah dari Masa Ke Masa (2017), Alih Kode dan Campur Kode: Strategi Siswa Dalam Berbicara Bahasa Inggris (2017) ini juga menulis esai, artikel dan resensi yang terbit di media massa (koran) lokal Pikiran Rakyat, Bali dan jurnal PGRI Pusat dan Balai Bahasa Banten. Juga menjadi pembimbing siswa dalam menulis buku. Sudah ada 13 judul buku yang dihasilkan oleh siswa binaannya. 2 buku saat masih aktif mengajar di SMK Negeri 1 Cibinong, 11 buku ditulis oleh siswa SMA Negeri 4 Cibinong.

Selain itu juga aktif mengikuti lomba penulisan puisi dengan tema yang ditentukan panitia penyelenggara untuk tingkat nasional dan internasional. Karya yang berhasil lolos seleksi panitia tingkat nasional dan internasional Senyuman Lembah Ijen (Antologi puisi Nusantara ditulis bersama penyair Asia Tenggara) 2018, antologi 50 Opini Puisi Esai Indonesia, 2018, antologi Puisi Banjarbaru's Rainy Day Literary Festival, 2018, antologi Puisi penyair Asean 2018 (Kinanti di Kampar Kiri), Antologi Puisi penyair Asean 2019 (Membaca Asap)

Karya Nulis Bareng yang tercatat pernah dihasilkan adalah Jangan Berhenti Mengajar (2017), Menghidupkan Ruh Dewi Sartika-Seri Puisi (2017), Menghidupkan Ruh Dewi Sartika-Seri Esai (2017), Antologi Fikmin Pelita di Mata Pelangi (2019), 1001 Membuat Guru-Siswa Suka Baca Buku (Buku 2) (2019), Untuk Anakku 2 (2019), Bertualang ke Negeri Satwa (Kumpulan Dongeng Fabel) (2020), 52 Kisah Dongeng Fabel Menginspirasi Buah Hati (2020).

Tag:
Nalar Lainnya
...
Dadan Supardan

Cerutu

Nalar Lainnya
...
ENDANG KOMARA

INDEPENDENSI ASN

...
Asep S. Muhtadi

Komunikasi Pembelajaran di Masa Pandemi

...
Prof. Dr Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., S.H.,M.H.,M.Si.

EKSISTING DAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DI JAWA BARAT

...
...
...