Penulis: Neneng Hendriyani, M.Pd.

Neneng Hendriyani, M.Pd.
Oleh Neneng Hendriyani, M.Pd.
(Guru Bahasa Inggris
di SMAN 4 Cibinong/Komunitas Cinta Indonesia/KACI #PASTI BISA#)
Mengajar merupakan tugas dan kewajiban seorang
guru. Di zaman yang sudah semakin maju dan canggih ini tuntutan guru pun ikut
meningkat. Dia tidak hanya diharuskan untuk menyampaikan
materi pelajaran yang diampunya dengan baik, tepat dan benar. Dia juga diharuskan
untuk mendidik peserta didiknya dengan baik.
Mendidik tentu saja berbeda dengan mengajar.
Kegiatan mendidik lebih difokuskan ke arah pembentukan karakter dan sikap
peserta didik. Sementara kegiatan mengajar memfokuskan diri ke arah peningkatan
kemampuan akademik peserta didik.
Mengajar jauh lebih mudah dilakukan oleh guru
daripada mendidik. Tidak semua orang bisa mendidik. Namun, guru haruslah bisa
mendidik sekaligus mengajar. Mengajar hanyalah menyampaikan materi, menanamkan
konsep keilmuan dan keterampilan kepada peserta didik. Pemberian tugas, soal,
dan proyek adalah instrumen yang bisa digunakan oleh guru untuk mengajar.
Penggunaan sumber pustaka seperti buku, film, kartun, bahkan benda mati yang
ada di sekitar lingkungan peserta didik bisa menjadi sumber belajar mengajar.
Mendidik jauh lebih sulit. Siswa membutuhkan
treatment khusus untuk bisa menjadi manusia Indonesia yang beriman, bertakwa
kepada Tuhan yang Mahaesa dan cakap serta terampil serta berkepribadian baik.
Mendidik lebih berkaitan erat dengan melatih peserta didik menjadi manusia
seutuhnya. Manusia yang beradab. Manusia yang memiliki minimal sembilan nilai
karakter positif di dalam dirinya.
Yaitu, jujur, percaya diri, peduli, disiplin, tanggung jawab, santun, kerja
sama, rendah hati, toleransi.
Kegiatan mendidik ini membutuhkan role model
yang kuat dari guru dan lingkungan di sekitar peserta didik (sekolah, rumah,
masyarakat). Semua orang dewasa yang berada di sekitar peserta didik bisa
menjadi role model yang baik.
Bukankah mereka belajar langsung dari apa yang dilihat olehnya? Kita pasti
ingat dengan peribahasa, guru kencing berdiri murid kencing berlari.
Dari hal itu diketahui bahwa peserta didik
dapat mencontoh seluruh perilaku yang ada di sekitarnya dengan cepat. Inilah
yang kemudian akan menjadi karakter peserta didik tersebut. Apabila yang
dilihat dan dicontohnya itu baik maka baiklah karakternya. Namun apabila buruk,
maka buruklah karakternya. Itulah sebabnya guru masa kini tetap bertanggung
jawab terhadap perkembangan karakter peserta
didik.
Dalam sistem penilaian berbasis kurikulum 2013
guru pun dituntut untuk memberikan perhatian dan penilaian untuk perkembangan
karakter peserta didik. Guru harus membuat rubrik penilaian yang berisi tentang sejumlah karakter
positif yang hendak dikembangkan oleh guru. Setiap guru memberikan penilaian
terhadap kompetensi kepribadiannya ini tanpa terkecuali. Inilah yang dimaksud
dengan penilaian sikap. Berdasarkan penilaian di bidang inilah guru dapat
memberikan pertimbangan bagi peserta didik berupa saran, nasihat dan komentar
positif yang bersifat membangun. Semua saran, nasihat dan komentar positif ini
dapat diberikan langsung kepada peserta didik yang bersangkutan atau kepada
orang tua dan guru bimbingan konseling di sekolah serta wali kelas. Penilaian
yang diberikan guru mata pelajaran ini memiliki fungsi yang sama pentingnya
dengan penilaian yang diberikan oleh guru bimbingan konseling dan agama.
Sayangnya tidak mudah bagi guru dalam
melakukan tugas penilaian tersebut di lapangan. Banyaknya jumlah peserta didik
yang harus diamati, dinilai dan diberikan respons oleh guru membuat guru banyak
mengeluh. Guru kehabisan waktu untuk sekadar mengamati sikap dan karakter
mereka. Alhasil materi pelajaran yang seharusnya disampaikan pun menjadi terhambat.
Semua hal di atas bukan berarti menjadi alasan
bagi guru untuk mengabaikan penilaian di bidang yang satu ini. Dengan bantuan
perkembangan teknologi informasi dewasa ini guru dapat mengatasi masalah
manajemen waktu penilaian sikap peserta didik. Salah satu platform aplikasi
yang bisa dimanfaatkan oleh guru untuk memberikan penilaian sikap peserta didik
adalah ClassDojo.
ClassDojo adalah sebuah situs dan aplikasi
Android untuk pendidikan yang membantu guru untuk mengontrol/ meningkatkan
perilaku (sikap) siswa di kelas/sekolah dengan cepat dan praktis. Dengan
ClassDojo, Guru dapat memberi nilai feedback
terhadap perilaku (sikap) siswa kapan saja, sehingga tiap perilaku positif
siswa bisa langsung memperoleh reinforcement.
Tanpa harus memasukkan data, ClassDojo merekam dan menyusun data perilaku
siswa, yang kemudian dapat dibagikan secara online dengan orangtua siswa, wali
kelas ataupun siswa itu sendiri secara realtime.
Ada delapan kelebihan yang dimiliki oleh
ClassDojo. Pertama, aplikasi ini dapat mengontrol sikap (perilaku) siswa dengan
1 jari. Ini jelas sebuah terobosan yang sangat bagus sekali dan memudahkan guru
dalam mengoperasikannya. Kedua, data kehadiran peserta didik dicatat secara
online menggunakan smartphone. Ketiga, seluruh data tersimpan secara otomatis.
Semua ada laporannya sehingga guru tidak perlu repot membuat catatan terkait
perilaku siswa secara manual. Keempat, guru mata pelajaran lain bisa ikut
mengontrol perilaku siswa dengan cara disetting sebagai co-teacher. Kelima, aplikasi ini bisa dihubungkan kepada orang tua
peserta didik. Caranya cukup mudah. Guru hanya perlu memasukkan email orang tua saja dan selanjutnya sistem
secara otomatis akan mengirimkan laporan mingguan kepada mereka. Dengan
demikian orang tua peserta didik pun bisa ikut memantau perkembangan perilaku
anak-anaknya secara online, realtime. Akibatnya
peserta didik akan berhati-hati dalam tindakan (perilaku) nya karena semuanya
dinilai oleh guru dengan cara yang praktis.
Beberapa aspek yang dapat dinilai dengan
menggunakan ClassDojo adalah disiplin, gotong royong, jujur, percaya diri,
santun, tanggung jawab, dan toleransi. Guru dapat memberikan penilaian terhadap
seluruh nilai sikap ini dengan menyentuh salah satu sikap yang diinginkan.
Selanjutnya dia hanya perlu memilih pilihan positif atau negatif. Hasil
pilihannya tersebut akan langsung tersimpan secara otomatis. Selain itu guru
juga bisa mengatur apakah penilaian yang diberikan memerlukan tindak lanjut
atau tidak. dia juga bisa mengatur gelembung poin penilaian. Gelembung poin
penilaian ini dapat dipisahkan sesuai dengan kompetensi dasar yang sedang
diajarkan. Selain itu, bisa juga digabung secara keseluruhan.
Neneng Hendriyani, M.Pd, guru Bahasa Inggris
di SMA N 4 Cibinong dan penulis 11 judul
buku ber-ISBN; SMAFOUR in students English writing (mendongkrak motivasi dan
kemampuan siswa menulis berbagai teks bahasa inggris) (2020), Albatros (2019),
Enrichment Book for XI SMK Based on Curriculum 2013 revision (2018), Antologi
Bunga Rampai Goresan Pena Guru Jawa Barat (2018), Let's Learn English Together
(2018), Perlukah Kita Jujur? (2018), Setangkup Rindu dari Masa Lalu (2017), Janji Firly (2017), Tips
Mudah Menulis Proposal dan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (2017), Bogor:
Peninggalan Sejarah dari Masa Ke Masa (2017), Alih Kode dan Campur Kode:
Strategi Siswa Dalam Berbicara Bahasa Inggris (2017) ini juga menulis esai,
artikel dan resensi yang terbit di media massa (koran) lokal Pikiran Rakyat,
Bali dan jurnal PGRI Pusat dan Balai Bahasa Banten. Juga menjadi pembimbing
siswa dalam menulis buku. Sudah ada 13 judul buku yang dihasilkan oleh siswa
binaannya. 2 buku saat masih aktif mengajar di SMK Negeri 1 Cibinong, 11 buku
ditulis oleh siswa SMA Negeri 4 Cibinong.
Selain itu juga aktif mengikuti lomba penulisan
puisi dengan tema yang ditentukan panitia
penyelenggara untuk tingkat nasional dan internasional. Karya yang berhasil
lolos seleksi panitia tingkat nasional dan internasional Senyuman Lembah Ijen
(Antologi puisi Nusantara ditulis bersama penyair Asia Tenggara) 2018, antologi
50 Opini Puisi Esai Indonesia, 2018, antologi Puisi Banjarbaru's Rainy Day
Literary Festival, 2018, antologi Puisi penyair Asean 2018 (Kinanti di Kampar
Kiri), Antologi Puisi penyair Asean 2019 (Membaca Asap)
Karya Nulis Bareng yang tercatat pernah
dihasilkan adalah Jangan Berhenti Mengajar (2017), Menghidupkan Ruh Dewi
Sartika-Seri Puisi (2017), Menghidupkan Ruh Dewi Sartika-Seri Esai (2017),
Antologi Fikmin Pelita di Mata
Pelangi (2019), 1001 Membuat Guru-Siswa Suka Baca Buku (Buku 2) (2019), Untuk
Anakku 2 (2019), Bertualang ke Negeri Satwa (Kumpulan Dongeng Fabel) (2020), 52
Kisah Dongeng Fabel Menginspirasi Buah Hati
(2020).